Mengubah Arah Hidup dari Dapur Mewah ke Peternakan Modern
Jejak hidup sering terbentuk dari pilihan yang tidak selalu terlihat besar pada awalnya. Ketekunan yang dirawat dalam diam mampu mengubah arah perjalanan menjadi sesuatu yang bermakna. Kisah Ngurah Heru Wijaya menunjukkan bagaimana pengalaman panjang dan kepekaan membaca peluang dapat menjelma menjadi usaha yang kuat dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Ngurah Heru Wijaya yang akrab disapa Ajik, lahir di Buleleng pada tahun 1979 dalam lingkungan keluarga sederhana. Sosok ayahnya bekerja sebagai petani yang akrab dengan alam dan ritme kehidupan yang bersahaja. Pengalaman masa kecil tersebut secara tidak langsung membentuk cara pandangnya terhadap kerja keras dan ketekunan. Ajik tumbuh sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dengan tanggung jawab yang perlahan membentuk kedewasaannya.
Perjalanan pendidikan Ajik mulai dari sekolah dasar hingga melanjutkan ke tingkat SMP dan SMA. Pada masa remaja, sempat terlintas keinginan untuk menjadi seorang insinyur pertanian, sebuah cita-cita yang selaras dengan latar belakang keluarganya. Namun arah hidup membawa Ajik pada pilihan yang berbeda. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Ajik memutuskan melanjutkan ke STP Nusa Dua dengan mengambil jurusan manajemen makanan kontinental.
Pilihan tersebut menjadi awal dari perjalanan panjang di dunia kuliner. Ajik menjalani masa training di Singapura yang membuka wawasannya terhadap standar kerja internasional. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun disiplin dan profesionalisme. Sepulang dari sana, Ajik memulai karier sebagai pekerja harian di beberapa tempat seperti ITDC, Hilton, dan Hardrock. Setiap pengalaman menjadi batu pijakan untuk melangkah lebih jauh.
Kesempatan besar datang ketika Ajik bergabung dengan kapal pesiar NCL. Selama tujuh tahun, Ajik mengabdikan diri di bagian kitchen, memulai dari posisi cook helper hingga berkembang menjadi chef. Dunia pesiar memberinya pengalaman kerja yang dinamis, ritme cepat, dan standar tinggi. Ajik belajar tentang konsistensi kualitas serta pentingnya kerja tim dalam tekanan.
Tahun 2008 menjadi titik balik ketika Ajik memutuskan meninggalkan kehidupan di laut dan kembali bekerja di darat. Ajik bergabung dengan Alila Uluwatu dan menghabiskan lima tahun di sana sebagai junior co chef. Pengalaman tersebut memperkuat posisinya di dunia kuliner profesional. Setelah itu, Ajik sempat bekerja di sebuah hotel di Sanur sebelum melanjutkan perjalanan ke Alila Seminyak.
Kariernya mencapai puncak saat dipercaya sebagai executive chef di Alila Seminyak. Posisi tersebut bukan hanya menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga kepemimpinan dan visi dalam mengelola dapur berskala besar. Ajik menjalani peran tersebut dengan dedikasi tinggi hingga akhirnya pada tahun 2024 Ajik memutuskan untuk mengundurkan diri.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Pengalaman panjang di industri perhotelan membuatnya melihat celah yang belum banyak digarap. Salah satu aturan dari jaringan hotel tempatnya bekerja mengharuskan penggunaan telur dari sistem free range. Pada saat itu, belum banyak pemasok lokal di Bali yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Dari situlah Ajik melihat peluang yang kemudian menjadi awal lahirnya Jero Farm.
Pada tahun yang sama, Ajik mendirikan Jero Farm sebagai usaha peternakan ayam petelur berbasis free range. Nama Jero memiliki nuansa budaya Bali yang mencerminkan kedekatan dengan nilai lokal serta penghormatan terhadap lingkungan. Usaha ini bukan sekadar bisnis, tetapi juga wujud dari visi yang menggabungkan pengalaman kuliner dengan kesadaran akan kualitas bahan pangan.
Ajik menaruh perhatian besar pada kualitas telur yang dihasilkan. Pakan ayam dirancang secara khusus dengan kandungan protein tinggi. Salah satu pendekatan unik yang Ajik lakukan adalah memanfaatkan sisa produksi seafood dari restoran-restoran ternama. Melalui kerja sama tersebut, Ajik tidak hanya menjaga kualitas pakan, tetapi juga menerapkan prinsip keberlanjutan dengan mengurangi limbah.
Pendekatan ini memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Telur dari Jero Farm dikenal memiliki kualitas yang terjaga dengan baik. Ajik memastikan setiap proses berjalan dengan standar yang ia bangun berdasarkan pengalaman bertahun tahun di dunia profesional. Ketelitian dan konsistensi menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan pasar.
Saat ini, Jero Farm dikelola bersama empat karyawan dengan kapasitas mencapai 3200 ekor ayam. Skala tersebut menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam waktu relatif singkat. Ajik membangun sistem kerja yang tidak hanya efisien, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan hewan dan lingkungan sekitar.
Perjalanan Ngurah Heru Wijaya menjadi bukti bahwa pengalaman hidup yang beragam dapat dirangkai menjadi sesuatu yang utuh dan bermakna. Dari dapur kapal pesiar hingga memimpin peternakan sendiri, setiap langkah memiliki peran dalam membentuk arah hidupnya. Ajik tidak hanya menciptakan usaha, tetapi juga menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan industri dan kesadaran masyarakat.
Kisah ini terus berjalan seiring perkembangan Jero Farm. Dengan fondasi yang kuat dan visi yang jelas, Ajik melangkah membawa harapan baru dalam dunia peternakan modern. Sebuah perjalanan yang tidak hanya tentang keberhasilan pribadi, tetapi juga tentang kontribusi nyata bagi lingkungan dan masa depan pangan yang lebih baik.