Mental Tangguh Bukan Dibentuk oleh Kenyamanan, tapi oleh Tekanan yang Diolah dengan Benar

Langkah hidup tidak selalu dimulai dari peta yang jelas, sering kali ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang terus diulang hingga membentuk arah. Kadek Raka Abibi mengenal makna kerja sejak usia dini, jauh sebelum ia memahami apa itu ambisi. Dari rutinitas sederhana membantu keluarga, tumbuh ketahanan yang kelak menjadi fondasi bagi perjalanan panjangnya.

Lahir di Singaraja pada tahun 1990, ia dibesarkan dalam keluarga sederhana dengan ayah seorang petani dan ibu seorang pedagang. Posisi sebagai anak kedua dari tiga bersaudara membuatnya terbiasa melihat tanggung jawab dari dekat. Masa kecilnya dihabiskan di Singaraja, menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMP sambil membantu ibunya berjualan dupa sepulang sekolah. Kegiatan itu bukan sekadar membantu, melainkan ruang belajar tentang disiplin, interaksi, dan arti usaha.

Ketika melanjutkan pendidikan ke SMK di Denpasar dengan jurusan elektronik, ia membawa mimpi yang cukup berbeda dari jalur yang ia tempuh kemudian. Ia ingin bekerja di kapal pesiar, sebuah gambaran tentang kehidupan yang lebih luas di luar pulau. Mimpi itu membawanya melanjutkan pendidikan ke D1 SPB dengan fokus pada housekeeping, sebuah langkah awal memasuki dunia hospitality.

Kesempatan datang saat ia menjalani pelatihan di Bali Mandira Beach Resort & Spa. Ia memulai sebagai trainee di bagian public area, pekerjaan yang menuntut ketelitian serta konsistensi tinggi. Dalam waktu singkat, ia menunjukkan etos kerja yang membuatnya dipercaya menjadi daily worker. Perjalanan kariernya di hotel tersebut berkembang secara bertahap, dari public area selama satu tahun, kemudian menjadi room boy selama dua tahun, hingga akhirnya bekerja di bagian room office.

Sepuluh tahun di dunia hospitality membentuk cara pandangnya terhadap pelayanan dan kualitas. Ia belajar bahwa detail kecil dapat menentukan pengalaman seseorang. Namun seiring waktu, muncul keinginan untuk membangun sesuatu yang lebih mandiri, sesuatu yang ia miliki dan kembangkan sendiri.

Tahun 2018 menjadi titik penting dalam hidupnya ketika ia memutuskan untuk menikah dan menetap di Ubud. Perpindahan ini tidak hanya mengubah lingkungan, tetapi juga membuka peluang baru. Ia melihat adanya lahan yang belum dimanfaatkan di sekitar tempat tinggalnya. Dari situ lahir ide untuk membangun sebuah penginapan yang kemudian dikenal sebagai Tepiuma House Ubud.

Tepiuma House Ubud hadir sebagai usaha yang tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga pada keseimbangan hidup. Dengan lima unit kamar, tempat ini dirancang untuk memberikan suasana tenang khas Ubud yang dikenal sebagai pusat budaya dan ketenangan di Ubud. Ia mempercayakan pengelolaan usaha ini kepada istrinya, menciptakan kolaborasi yang saling melengkapi antara kehidupan pribadi dan profesional.

Nama Tepiuma memiliki nuansa lokal yang kuat, menggambarkan kedekatan dengan lingkungan dan budaya setempat. “Tepi” dapat dimaknai sebagai batas atau pinggir, sementara “uma” dalam konteks Bali sering dikaitkan dengan rumah atau lahan. Secara makna, Tepiuma House mencerminkan ruang tinggal yang hangat di tepi kehidupan yang tenang, tempat orang dapat beristirahat dari hiruk pikuk.

Setelah satu dekade di hospitality, ia menutup bab tersebut pada akhir 2019. Tahun berikutnya menjadi awal perjalanan yang sama sekali berbeda. Ia bergabung dengan kakaknya dalam sebuah proyek konstruksi. Dari pengalaman tersebut, muncul ketertarikan yang kuat terhadap dunia pembangunan. Ia melihat peluang yang luas, sekaligus tantangan yang menarik untuk ditaklukkan.

Langkah awalnya di bidang ini tidak langsung besar. Ia memulai dari bisnis penyewaan scaffolding, sebuah sektor yang terlihat sederhana namun memiliki peran penting dalam konstruksi. Tantangan utama di fase awal adalah pemasaran dan membangun sistem kerja yang efektif. Ia harus belajar dari nol, memahami pola pasar, sekaligus membangun kepercayaan.

Seiring waktu, usaha tersebut mulai menunjukkan perkembangan. Permintaan meningkat, jaringan semakin luas, dan ia mulai berani mengambil langkah ekspansi. Ia membeli sebuah ekskavator, keputusan yang menjadi titik balik penting. Dari alat berat tersebut, ia melihat peluang baru yang kemudian membawanya masuk ke bisnis bata ringan.

Dari sinilah lahir Berantas Abhiseva Karya atau BAK, sebuah nama yang mengandung filosofi mendalam. “Berantas” mencerminkan semangat menuntaskan pekerjaan tanpa setengah hati, “Abhiseva” berasal dari makna pelayanan atau dedikasi, dan “Karya” menjadi simbol hasil nyata. Secara keseluruhan, nama ini mencerminkan komitmen untuk memberikan layanan konstruksi yang tuntas, berdedikasi, dan menghasilkan karya berkualitas.

BAK berkembang menjadi usaha konstruksi yang mencakup penyewaan scaffolding, produksi dan distribusi bata ringan, serta penyewaan alat berat seperti ekskavator. Dalam perjalanannya, ia tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga menciptakan sistem kerja yang terus disempurnakan. Ia memahami bahwa keberlanjutan usaha tidak hanya bergantung pada peluang, tetapi juga pada manajemen yang solid.

Saat ini, usaha tersebut telah memiliki empat unit alat berat, enam armada untuk distribusi scaffolding, serta tim yang terdiri dari lima belas karyawan. Angka tersebut bukan sekadar pencapaian, melainkan bukti dari proses panjang yang dilalui dengan konsistensi.

Menariknya, dua usaha yang ia bangun memiliki karakter yang berbeda namun saling melengkapi. Tepiuma House Ubud menghadirkan ketenangan dan pengalaman tinggal yang hangat, sementara Berantas Abhiseva Karya bergerak dinamis dalam dunia konstruksi yang penuh tantangan. Satu berbicara tentang rasa, yang lain tentang struktur, namun keduanya lahir dari visi yang sama.

Perjalanan Kadek Raka Abibi menunjukkan bahwa arah hidup tidak selalu lurus. Ia berawal dari membantu berjualan dupa, masuk ke dunia hospitality, lalu beralih ke konstruksi. Setiap fase memberikan pelajaran yang membentuk cara berpikirnya hari ini.

Ia tidak terburu mengejar hasil, melainkan fokus pada proses yang terus berkembang. Dari pengalaman sederhana hingga keputusan besar, semuanya dirangkai menjadi perjalanan yang utuh. Dalam setiap langkah, terlihat keberanian untuk mencoba hal baru tanpa meninggalkan nilai kerja keras yang sudah tertanam sejak kecil.

Kisah ini bukan sekadar tentang membangun usaha, melainkan tentang membangun diri. Dari Singaraja hingga Ubud, dari dupa hingga alat berat, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang terus bergerak maju.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!