Cerita di balik Rasa yang Menguatkan Sebuah Usaha
Langkah sederhana yang ditemani aroma kue hangat sering kali menjadi awal dari mimpi besar yang tak terduga. Kisah itu tumbuh perlahan dalam perjalanan hidup Ramdani Hartono Darwis, sosok yang kini dikenal sebagai pemilik Gendot Catering Bali, sebuah usaha kuliner yang berkembang dari ketekunan dan keberanian mengambil peluang.
Ramdani Hartono Darwis lahir di Lombok pada tahun 1992, dalam lingkungan keluarga yang akrab dengan kerja keras. Ayahnya bekerja sebagai pelaut, sementara sang ibu menjalani keseharian sebagai pedagang kue. Ia merupakan anak terakhir dari empat bersaudara, tumbuh dalam suasana yang mengajarkan kemandirian sejak usia dini. Kehidupan keluarga yang sederhana justru membentuk daya juang yang kuat dalam dirinya.
Sejak duduk di bangku kelas enam sekolah dasar, ia sudah terbiasa membantu ibunya berjualan kue. Sepulang sekolah hingga sore hari, waktunya dihabiskan untuk ikut menjajakan dagangan. Rutinitas ini bukan hanya soal membantu ekonomi keluarga, melainkan juga menjadi pengalaman awal yang memperkenalkan dunia usaha secara langsung. Interaksi dengan pembeli, memahami selera pasar, hingga menjaga kualitas produk menjadi pelajaran berharga yang ia serap tanpa disadari.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan ke jenjang SMP dan kemudian ke SMA. Masa pendidikan tersebut tetap diwarnai semangat bekerja dan belajar secara bersamaan. Tidak lama setelah menyelesaikan SMA, ia memutuskan untuk mencari pengalaman di luar daerah. Bandung menjadi tempat berikutnya dalam perjalanan hidupnya, sekaligus titik awal pengembangan keterampilan di dunia kuliner secara lebih serius.
Selama berada di Bandung, ia mendapatkan kesempatan untuk mengelola sebuah restoran selama satu tahun. Pengalaman ini membuka wawasannya tentang operasional bisnis kuliner yang lebih kompleks. Ia belajar mengenai manajemen dapur, pengelolaan tim, hingga pentingnya konsistensi dalam menjaga kualitas layanan. Tidak berhenti di situ, ia juga melanjutkan pendidikan D1 sambil tetap bekerja, membagi waktu dengan disiplin demi meningkatkan kapasitas dirinya.
Sebelum meninggalkan Bandung, ia sempat merintis usaha catering kecil sebagai langkah awal membangun bisnis sendiri. Meski masih sederhana, pengalaman tersebut menjadi fondasi penting yang kelak berkembang lebih jauh. Pada tahun 2017, ia memutuskan untuk pindah ke Bali, sebuah wilayah yang dikenal dengan dinamika industri pariwisata dan kulinernya. Keputusannya tersebut juga karena mendapat tawaran dari Chef Bagus Satria Wijaya.
Di Bali, ia terus mengasah kemampuannya. Ia sempat bekerja di kawasan Nusa Dua selama tiga bulan sebelum akhirnya berpindah ke Canggu. Lingkungan kerja yang beragam memberinya banyak perspektif baru, terutama dalam menghadapi kebutuhan pelanggan yang lebih variatif. Ia juga bergabung dengan Indonesian Chef Association, sebuah organisasi yang memperluas jaringan sekaligus memperkaya pengetahuannya di bidang kuliner.
Masa pandemi menjadi tantangan tersendiri. Alih alih berhenti, ia justru beradaptasi dengan kondisi yang ada. Ia bergabung dengan pelaku usaha mikro dan aktif mengikuti berbagai bazar. Produk yang ditawarkan saat itu berupa dessert box seperti zupa sup, donat, dan berbagai camilan lainnya. Dari situ, ia kembali mengasah kreativitas sekaligus mempertahankan eksistensinya di tengah situasi sulit.
Pada tahun 2022, ia kembali bekerja di hotel, memperdalam pengalaman profesionalnya. Namun semangat untuk membangun usaha sendiri tidak pernah padam. Berbekal keahlian di bidang pastry, ia memulai usaha dengan fokus pada wedding cake. Pilihan ini bukan tanpa alasan, karena ia memahami betul teknik dan detail yang dibutuhkan dalam pembuatan kue untuk momen spesial.
Setahun kemudian, ia pindah ke lokasi baru dan mulai menjalankan usaha sampingan berupa jualan gorengan. Dari langkah kecil ini, ia melihat peluang yang lebih besar. Tidak berhenti pada camilan, ia mulai berekspansi ke makanan berat. Ia bahkan menyewa tempat di sebelah lapak gorengannya untuk dijadikan dapur katering. Keputusan tersebut menjadi titik balik penting dalam perkembangan usahanya.
Dari dapur sederhana itulah Gendot Catering Bali mulai tumbuh. Permintaan pelanggan terus meningkat, seiring dengan kualitas rasa dan pelayanan yang dijaga dengan baik. Nama “Gendot” sendiri memiliki karakter yang unik dan mudah diingat. Dalam konteks branding, nama ini memberi kesan akrab dan bersahabat, seolah menggambarkan kepuasan setelah menikmati hidangan yang lezat. Pilihan nama tersebut menjadi kekuatan tersendiri dalam menarik perhatian pasar.
Seiring waktu, usaha yang ia bangun semakin berkembang. Kini ia telah memiliki delapan orang karyawan yang membantu operasional sehari hari. Setiap pesanan ditangani dengan keseriusan, mencerminkan pengalaman panjang yang telah ia lalui sejak masa kecil hingga sekarang.
Perjalanan Ramdani Hartono Darwis bukan sekadar cerita tentang bisnis kuliner. Kisah ini menunjukkan bagaimana pengalaman hidup, kerja keras, dan keberanian mengambil langkah dapat membentuk sesuatu yang besar. Dari membantu menjual kue di masa kecil hingga mengelola usaha katering yang terus berkembang, setiap fase menjadi bagian penting dari proses yang membawanya hingga titik ini.