Dua Anak Muda dan Satu Keputusan yang Mengubah Segalanya
Banyak usaha yang lahir dari perencanaan panjang, namun tidak sedikit yang berawal dari keberanian untuk mencoba sesuatu yang sederhana. Perjalanan itulah yang menggambarkan kisah Anak Agung Sagung Istri Puspitasari Wijayanti yang akrab disapa Gung Is dan Anak Agung Ngurah Jambe Danurweda atau Jambe. Keduanya merupakan pasangan muda asal Denpasar yang membangun bisnis secara bertahap melalui berbagai proses, percobaan, kegagalan, dan pembelajaran. Apa yang mereka capai saat ini bukanlah hasil yang datang dalam semalam, melainkan buah dari konsistensi yang dijaga sejak masih duduk di bangku kuliah.
Gung Is lahir di Denpasar pada tahun 2000 dan merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Sejak kecil ia telah mengenal aktivitas usaha karena sering membantu sang ibu yang mengelola butik keluarga. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa menjalankan usaha membutuhkan kesabaran dan kedekatan dengan pelanggan. Sementara itu, Jambe yang juga lahir di Denpasar pada tahun 2000 tumbuh dalam keluarga pengusaha dan merupakan anak terakhir dari empat bersaudara. Lingkungan tempat ia dibesarkan membuatnya terbiasa melihat proses pengambilan keputusan dalam bisnis. Meski memiliki latar belakang berbeda, keduanya sama sama memiliki ketertarikan terhadap dunia usaha.
Mereka mulai saling mengenal saat bersekolah di SMA Negeri 5 Denpasar. Hubungan yang awalnya hanya sebatas teman sekolah berkembang ketika keduanya memasuki masa kuliah. Pada periode tersebut, mereka sering bertukar pikiran mengenai berbagai peluang usaha yang dapat dijalankan bersama. Keinginan untuk memiliki bisnis sendiri semakin kuat karena mereka ingin menciptakan sesuatu yang dibangun dari kerja keras dan gagasan mereka sendiri. Dari situlah perjalanan sebagai pasangan sekaligus rekan bisnis mulai terbentuk.
Tahun 2020 menjadi titik awal langkah serius mereka dalam berwirausaha. Saat pandemi melanda dan banyak aktivitas masyarakat mengalami perubahan, Mereka justru melihat kesempatan untuk mencoba berbagai peluang baru. Usaha pertama yang mereka bangun adalah bisnis clothing. Melalui usaha tersebut, mereka belajar mengenai pemasaran, pengelolaan stok, pelayanan pelanggan, hingga pentingnya membangun identitas merek. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman berharga tentang bagaimana sebuah usaha harus dijalankan agar dapat bertahan.
Setelah menjalankan bisnis clothing, mereka sempat menjual edamame sebagai bagian dari proses eksplorasi pasar. Dari sana mereka memahami bahwa setiap produk memiliki tantangan tersendiri. Semangat untuk terus berkembang membuat mereka kembali mencoba ide baru melalui usaha mango sticky rice. Produk tersebut dipilih karena memiliki potensi pasar yang cukup menjanjikan pada saat itu. Untuk menjalankannya, mereka membangun sebuah merek bernama Jamis MSR. Nama tersebut merupakan gabungan dari nama Jambe dan Gung Is yang menjadi simbol kebersamaan mereka dalam membangun usaha.
Pada tahap awal, penjualan dilakukan dengan cara yang sederhana. Setiap hari Minggu mereka berjualan saat kegiatan Car Free Day. Pada hari biasa, pesanan dilayani melalui sistem pre order. Meski dijalankan dengan sumber daya yang terbatas, usaha tersebut memperoleh respons yang cukup baik dari masyarakat. Perlahan jumlah pelanggan terus bertambah dan merek yang mereka bangun mulai dikenal. Kerja keras yang dilakukan akhirnya membuahkan hasil ketika Jamis MSR berkembang hingga memiliki dua cabang. Pencapaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa konsistensi mampu menghasilkan pertumbuhan yang nyata.
Di balik perkembangan tersebut, mereka menemukan tantangan yang tidak bisa diabaikan. Mango sticky rice sangat bergantung pada ketersediaan mangga sebagai bahan utama. Karena mangga merupakan buah musiman, pasokan dan kualitasnya tidak selalu sama sepanjang tahun. Kondisi tersebut membuat mereka berpikir untuk mencari produk yang lebih stabil dari sisi bahan baku. Setelah melakukan berbagai pertimbangan, mereka melihat dimsum sebagai peluang yang menarik. Selain memiliki pasar yang luas, bahan bakunya juga lebih mudah diperoleh sehingga usaha dapat dijalankan secara berkelanjutan tanpa terlalu bergantung pada musim tertentu.
Keputusan itu menjadi awal lahirnya Dimsum Go Mentai. Pada masa awal, mereka kembali memulai dari bawah dengan memperkenalkan produk secara langsung kepada masyarakat. Nama Dimsum Go dipilih karena memiliki makna yang mencerminkan semangat bergerak dan melayani pelanggan dengan cepat. Kata go dalam bahasa Inggris berarti bergerak atau pergi. Nama tersebut menggambarkan kesiapan mereka untuk segera melayani setiap pesanan yang masuk. Seiring waktu, identitas usaha semakin kuat ketika mereka menghadirkan berbagai kreasi menu berbasis saus mentai yang sedang digemari banyak orang. Dari sinilah nama Dimsum Go Mentai semakin dikenal oleh masyarakat.
Salah satu kekuatan utama usaha ini terletak pada inovasi produk yang terus dilakukan. Mereka tidak hanya menawarkan dimsum dengan konsep yang umum ditemukan di pasaran, melainkan menghadirkan berbagai pilihan yang memberikan pengalaman berbeda bagi pelanggan. Menu andalan berupa dimsum mentai hadir dengan perpaduan saus mentai dan tobiko. Selain itu terdapat pilihan topping mozzarella, nori, dan cheese melt yang memberikan variasi rasa. Untuk memenuhi kebutuhan acara keluarga maupun perayaan tertentu, mereka juga menghadirkan menu party size serta big party dengan porsi yang lebih besar.
Kreativitas mereka terlihat melalui pengembangan produk yang tidak berhenti pada satu konsep saja. Dimsum Tart dan Dimsum Tower menjadi contoh bagaimana mereka berusaha menghadirkan sesuatu yang unik dan menarik. Berbagai menu lain seperti dimsum goreng keju series juga menambah pilihan bagi pelanggan. Inovasi tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen untuk terus mengikuti perkembangan selera pasar. Dengan pendekatan tersebut, usaha yang mereka bangun mampu menjangkau berbagai segmen konsumen dan mempertahankan daya tariknya di tengah persaingan yang semakin dinamis.
Perjalanan Gung Is dan Jambe menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Berbagai usaha yang pernah mereka jalankan menjadi proses pembelajaran yang membentuk kemampuan mereka sebagai pengusaha. Pengalaman dari bisnis clothing, penjualan edamame, hingga pengembangan mango sticky rice menjadi fondasi penting sebelum lahirnya Dimsum Go Mentai. Kini usaha tersebut telah berkembang menjadi jaringan bisnis dengan delapan cabang dan jumlahnya masih terus bertambah. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa keberanian untuk mencoba, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar dapat mengubah sebuah ide sederhana menjadi usaha yang tumbuh dan dipercaya banyak orang.