Matahari yang Lahir di Pulau Dewata

Hangat matahari Bali selalu menghadirkan cerita tentang harapan dan perjuangan. Suara roda dokar yang melintas di jalanan, aroma kue tradisional dari dapur sederhana, hingga senyum masyarakat yang hidup dengan kerja keras menjadi bagian dari perjalanan panjang I Ketut Ardana. Sosok yang kini dikenal sebagai pelaku penting dunia pariwisata Bali itu tumbuh dari kehidupan sederhana yang membentuknya menjadi pribadi tangguh dan penuh semangat.

I Ketut Ardana lahir di Karangasem pada tahun 1956.  Memiliki nama kecil I Ketut Kubon, yang diambil dari nama leluhurnya sebagai bentuk bakti kepada leluhur. Ia merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai kusir dokar (cikar), sementara sang ibu berjualan kue dan makanan lainnya untuk membantu kebutuhan keluarga. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan. Sejak kecil Ketut sudah terbiasa melihat kedua orang tuanya bekerja keras demi menghidupi keluarga. Keadaan itu membuatnya memahami arti tanggung jawab sejak usia muda.

Saat bersekolah di SD 10 Satria, Ketut tidak hanya belajar di dalam kelas. Ia juga membantu ibunya berjualan kue dengan membawa dagangan ke sekolah. Di masa sekolah itulah namanya diganti oleh pamannya menjadi I Ketut Ardana. Kebiasaan membantu orang tuanya itu terus dilakukan ketika melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Denpasar. Sepulang sekolah ia kembali berjualan kue keliling demi membantu perekonomian keluarga. Masa mudanya dipenuhi perjuangan yang tidak ringan, namun semua itu justru membentuk mental pekerja keras dalam dirinya.

Di tengah kesibukan tersebut, Ketut memiliki ketertarikan besar terhadap bahasa Inggris. Ia sering menghabiskan waktu di kawasan Bali Hotel untuk bergaul dengan wisatawan asing sambil menjadi pedagang acung menjual barang-barang seni. Dari percakapan sederhana bersama turis, kemampuan bahasa Inggrisnya mulai berkembang. Ia belajar secara langsung tanpa rasa malu. Sedikit demi sedikit ia semakin percaya diri berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara. Pengalaman itu menjadi titik awal yang membuka jalan menuju dunia pariwisata.

Setelah lulus SMP, keadaan ekonomi keluarga membuat Ketut tidak dapat melanjutkan pendidikan ke SMA. Meski begitu, ia tidak memilih menyerah. Ia mengikuti kursus bahasa Inggris untuk memperdalam kemampuan yang sudah dipelajarinya secara otodidak. Sejak usia 15 tahun hingga 24 tahun, hidupnya dipenuhi kerja keras demi membantu keluarga sekaligus bertahan menjalani kehidupan.

Perjuangannya mulai menemukan arah ketika ia bekerja di sebuah travel agent bernama Jans Tours. Tempat itu menjadi awal perjalanan profesionalnya di industri pariwisata. Ketut memulai karier dari bawah dan belajar banyak mengenai pelayanan wisata, komunikasi dengan tamu asing, hingga pengelolaan perjalanan. Ketekunan dan kemampuannya membuat ia dipercaya memegang tanggung jawab lebih besar. Setelah lima tahun bekerja, ia diangkat menjadi operation manager.

Kesibukan bekerja tidak membuat semangat belajarnya padam. Setelah sempat berhenti sekolah karena keterbatasan biaya, Ketut akhirnya melanjutkan pendidikan SMA saat usianya 28 tahun. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki tekad kuat untuk terus berkembang. Baginya pendidikan menjadi bagian penting dalam memperluas wawasan dan memperbaiki masa depan.

Memasuki dunia kerja, Ketut pernah bekerja sebagai Pramuwisata sejak 1982 sampai 1994. Ia juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai Pramuwisata terbaik Bali tahun 1988 dan Pramuwisata terbaik No.3 Nasional pada tahun 1990. Setelah itu ia bekerja di Jan’s Tours hingga tahun 1992 sebagai tour guide. Walaupun telah resign sebagai staf, ia masih dipercaya menjadi guide karena pengalaman dan kualitas kerjanya yang baik. Hubungan yang dibangun selama bertahun tahun membuat namanya dikenal luas dalam dunia wisata Bali.

Pada tahun 1993, Ketut mulai membangun usaha sendiri bersama seorang rekannya dengan mendirikan Bali Indo Asri. Langkah itu menjadi awal perjalanan besarnya sebagai pengusaha. Setahun kemudian ia bersama dua rekannya mendirikan Bali Sinar Mentari Tours & Travel.

Nama Bali Sinar Mentari memiliki filosofi yang erat dengan harapan dan semangat baru. Kata “Sinar Mentari” menggambarkan cahaya yang membawa energi positif dan kehangatan bagi setiap wisatawan. Filosofi itu kemudian berkembang ketika usaha tersebut melakukan rebranding menjadi Bali Sunshine Tours and Travel pada tahun 1998. Kata “Sunshine” dipilih sebagai simbol keramahan dan sekaligus terjemahan dari Sinar Mentari. Nama tersebut juga mudah dikenal wisatawan internasional sehingga memperkuat identitas perusahaan di dunia pariwisata global.

Tahun 1998 menjadi masa penting dalam hidup Ketut. Kedua rekannya memutuskan keluar dari perusahaan, namun Ketut tetap melanjutkan perjalanan bisnis dengan adik ipar, Ketut Susana (keluarga Lakeview, Kintamani). Dari titik itulah perjuangan sebenarnya dimulai. Ketut menjalankan usahanya dengan penuh keyakinan meski harus menghadapi banyak tantangan. Pada masa awal, Bali Sunshine Tours and Travel hanya melayani penjualan pakut-paket tour (package tours). Namun perlahan usahanya berkembang karena pelayanan yang konsisten dan hubungan baik dengan pelanggan.

Pengalaman panjangnya sebagai guide membuat Ketut memahami bahwa wisatawan tidak hanya mencari tempat indah. Mereka ingin mendapatkan rasa nyaman, pelayanan hangat, dan pengalaman berkesan selama berada di Bali. Nilai itulah yang selalu ia tanamkan dalam usahanya.

Pada tahun 1994, Ketut direkrut menjadi pengurus ASITA Bali. Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa kiprahnya mulai diperhitungkan dalam industri pariwisata Bali. Selain fokus mengembangkan bisnis, ia juga aktif berbagi ilmu dengan menjadi dosen di PPLP pada tahun 1994 hingga 2008.

Tahun 2006 menjadi momentum kebangkitan besar bagi Bali Sunshine Tours and Travel. Perusahaannya berkembang semakin pesat hingga pada tahun 2007 dan 2008 berhasil memperoleh penjualan yang lumayan bagus dengan meng-handle wisatawan dari Thailand, Vietnam, India, dan saat ini juga meng-handle wisatawan dari Srilanka, Bangladesh, dan Spanyol.

Ketut juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang menginisiasi Bali and Beyond Travel Fair atau BBTF. Ajang tersebut menjadi wadah promosi wisata internasional yang mempertemukan pelaku industri pariwisata dari berbagai negara. Ia bahkan pernah dipercaya menjadi Ketua Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) dan aktif dalam event tersebut selama tujuh tahun sejak 2014 hingga 2021. Pada tanggal 28-30 Mei 2026, BBTF diselenggarakan di Bali International Convention Centre(BICC) Nusa Dua. Di sana, Ketut sebagai Vice Chairman incharge untuk Buyer yang hadir dari 44 negara.

Tidak berhenti sampai di sana, Ketut bersama Ketut Susana kembali melakukan ekspansi usaha dengan mendirikan Pelaga Eco Park di kawasan Plaga. Tempat itu menghadirkan konsep glamping dengan 25 unit penginapan yang menyatu dengan alam pegunungan. Kawasan tersebut juga dilengkapi kolam renang, restoran, dan berbagai spot menarik bagi wisatawan.

Di tengah kesibukannya sebagai pengusaha, Ketut tetap melanjutkan pendidikan dengan mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI) di Fakultas Hukum Universitas Warmadewa. Baginya belajar adalah proses yang tidak pernah selesai. Ia juga menulis buku pertamanya yang berjudul “Guiding Technique” dan buku kedua yang berjudul “Menjadi Pramuwisata Profesional”. Terakhir pada tahun 2024, Ketut Ardana juga menyusun buku biografi yang berjudul Reaching The Stars, BBTF Initiator from Bali to Indonesia dibantu penulisannya oleh wartawan senior Gregorius A. Rusmanda.

Perjalanan hidup I Ketut Ardana menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak lahir secara instan. Dari seorang anak penjual kue hingga menjadi tokoh penting pariwisata Bali, ia menunjukkan bahwa kerja keras, keberanian, dan ketekunan mampu membawa seseorang mencapai mimpi besar dalam hidupnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!