Berhasil Menyulap Lahan Kosong Jadi Kafe Kebun
Tren work from home menjadi awal mula tercetusnya ide untuk membangun bisnis. Setelah berhasil membangun Guar Coffee Shop, Ir. Ni Putu Dita Sevianti Pariata, S.Ars, mulai membangun kembali bisnis kedua dengan konsep dan nuansa berbeda. Guar Café and Garden adalah sebuah kafe kebun dengan menu ala restoran yang dibuat oleh chef profesional menyediakan tempat yang nyaman untuk sekadar bersantai dan berkumpul bersama keluarga. Semua ilmu bisnis dipelajari secara autodidak. Bisnisnya pun kini terus berkembang dan tetap adaptif dengan perkembangan zaman.
Putri pertama dari dua bersaudara ini mulai mengenal dunia usaha sejak kecil saat membantu kakek dan neneknya menjaga toko kelontong yang terletak di Jl. Seruni Denpasar. Dita, demikian panggilan akrabnya lahir dan dibesarkan dalam keluarga akuntan. Ayahnya merupakan seorang ASN pemerintah pusat, dan ibunya bekerja sebagai pegawai bank. Menjadi pribadi mandiri dan disiplin merupakan mindset yang selalu ditanamkan orang tua kepadanya, bagaimana Dita diajarkan supaya tidak menjadi anak yang manja dan selalu terbuka dengan orang tua. Didikan tersebut dinilai sangat berdampak pada kehidupan Dita hingga kini.
Masa kecilnya yang penuh warna dilewatkan bersama kakek dan neneknya sembari orang tuanya bekerja. Berangkat sekolah yang letaknya dekat dari rumah dengan bersepeda terkadang diantar oleh kakek. Dita juga disibukkan dengan kegiatan les bahasa Inggris dan membantu kakek neneknya berjualan di toko kelontong seperti mengambilkan barang untuk pelanggan, mencatat pemasukan dan pengeluaran atau hanya duduk di sana sekedar nongkrong. Ketekunannya di sekolah membuahkan prestasi bahkan ia sempat mengikuti lomba cerdas cermat dan meraih juara.
Meski sibuk bekerja, orang tua Dita tetap memotivasi dirinya untuk fokus belajar sehingga mampu menyelesaikan pendidikan di samping Dita yang memang memiliki inisiatif yang besar dalam belajar. Kedekatannya dengan orang tua lebih condong kepada ibu karena ayahnya sering pergi bertugas ke luar kota. Di tengah aktivitas kerja yang cukup padat, sesekali Dita dan Keluarga berkumpul dengan mengobrol dan makan bersama. Digembleng menjadi anak yang mandiri sejak kecil membuat Dita menjadikan orang tua sebagai sosok yang selalu menginspirasi.
Kesibukan membantu di toko kelontong berlangsung sampai Dita beranjak remaja. Masa remaja lebih banyak dihabiskan dengan mengikuti berbagai macam ekstra di sekolah mulai dari ekstra pramuka bahkan mengikuti ekstra capoeira. Dita dulunya sempat ingin menjadi dokter. Namun, ia mengurungkan niat kemudian beralih ingin melanjutkan kuliah di arsitektur atau akuntansi melihat pekerjaan orang tua. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Dita memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jurusan arsitektur.
Padatnya aktivitas dan banyaknya tugas selama menjalani kuliah arsitektur membuat Dita harus memfokuskan diri dalam menekuni bidang tersebut. Ilmu arsitektur yang diperoleh dipelajari secara otodidak dengan banyak melewatkan waktu berbagi bersama teman-temannya yang sebelumnya lebih dulu mendapat ilmu arsitektur di sekolah kejuruan, terkadang Dita harus melewatkan waktu bersama kelompok belajar untuk membuat tugas bersama di teman. Dita akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah arsitektur selama 4 tahun dan mulai memasuki dunia kerja.
Sempat menjalani magang di konsultan arsitek pada tahun 2018, Dita kemudian melamar kerja di pemerintahan sebagai staf teknis yang bertugas meninjau proyek-proyek pemerintahan. Dita pun berhasil meraih gelar insinyur melalui kuliah online di Tangerang, Jakarta, saat masih aktif bekerja di pemerintahan. Masa pandemi yang mengharuskan banyaknya pekerja untuk work from home menginspirasi Dita untuk membangun sebuah coffee shop dengan merenovasi toko kelontong dan mengoptimalkannya dari toko dengan menambah fungsinya sebagai coffee shop pada akhir tahun 2020. Pembangunan dilakukan sedikit demi sedikit sambil mempelajari bagaimana sistem manajemen coffee shop itu sendiri.
Dengan pengalaman selama membantu berjualan di toko kelontong dan berjualan pernak-pernik desain arsitektur, Dita optimis bisa menjalankan bisnis pertamanya tersebut yang akhirnya diberi nama Guar Coffee terinspirasi dari nama kakeknya dengan harapan menjadi tempat berkumpul orang-orang untuk saling berbagi pengalaman dan cerita. Konsistensi menjadi kendala di awal membangun usaha. Momen ini menjadi kesempatan bagi Dita untuk terus belajar agar bisnis ini dapat berkembang. Dita juga memperkaya wawasan seputar kopi dengan mempelajarinya secara autodidak dan pergi ke tempat roastery demi mempelajari kopi secara lebih mendalam lagi, mulai dari mempelajari tanaman, jenis-jenis kopi, cara pengolahan, hingga kopi dikemas siap dikonsumsi.
Baru setahun berjalan, Dita kembali berinovasi dengan membuka bisnis baru dengan konsep dan nuansa berbeda. Guar Café and Garden bermula dari terinspirasi oleh orang tua selaku pemilik lahan yang tidak produktif kemudian Dita mencoba menyulap lahan tersebut menjadi tempat usaha. Proses penataan lahan dimulai secara bertahap dengan pembangunan garasi dan membangun bale bengong bergaya joglo. Guar Café and Garden resmi dibuka pada tahun 2024 dengan konsep kafe kebun yang memiliki menu makanan standar restoran yang dimasak oleh chef profesional dibantu oleh 6 orang staf yang bekerja di sana. Keunikan Guar Café and Garden terletak pada area tamannya yang luas, cocok untuk mengadakan acara dengan menu unggulan yaitu Arka Latte dan Dopamine Cold White lengkap dengan nasi goreng sebagai makanan favorit.