Profesional dalam Proses, Mengirim dengan Hati
Jepang telah meninggalkan kesan mendalam bagi Yan Permana dan I Ketut Ariawan. Kerasnya dunia kerja di Jepang, membuat mereka bertekad suatu hari nanti akan membangun usaha sendiri. Di samping itu, selama bekerja di sana, mereka tak pernah melupakan kampung halaman mereka, Bangli, yang hingga kini masih digolongkan sebagai wilayah tertinggal di Bali, menyimpan kenyataan bahwa masih banyak warganya yang belum memiliki pekerjaan tetap. Pengalaman itulah yang menumbuhkan tekad dalam diri mereka, suatu hari nanti ingin membangun kemandirian secara ekonomi, sekaligus berkontribusi nyata bagi tanah kelahiran tercinta.
Pada tahun 2010, Yan Permana bekerja di Jepang lewat sebuah yayasan di Bangli. Dengan kerja keras dan disiplin yang kuat, ia berhasil memperoleh sertifikat setelah mengikuti ujian bagi pekerja yang disebut National Trade Skill Test. Sertifikat tersebut memberinya status resmi sebagai teknisi bersertifikat. Setelah hubungan antara Indonesia dan Jepang membaik, dikeluarkanlah sebuah dekret kerja sama bilateral yang dituangkan dalam program lima tahunan bernama Japan Labour Programme for Specified Workers (JLP-SSP), yang memperluas peluang kerja formal bagi tenaga kerja Indonesia di Jepang dalam berbagai sektor industri. Setelah lima tahun bekerja di Jepang, tersedia jalur kelanjutan melalui visa yang disebut Ijūkei Visa, visa tinggal jangka panjang yang memungkin untuk membawa serta anggota keluarga. Pada tahap ini, Yan Permana telah memenuhi syarat tersebut dan berhasil memperoleh pengakuan sebagai tenaga kerja terampil. Gajinya pun setara dengan tenaga kerja lokal Jepang, menandakan bahwa kompetensinya diakui secara penuh oleh industri di negara tersebut.
Ketut Ariawan berangkat ke Jepang pada tahun 2012, setelah menjalani pelatihan bahasa Jepang selama satu tahun. Awalnya keinginannya sederhana, ia ingin bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan pribadinya. Setibanya di Jepang, tepatnya di Nagoya, ia ditempatkan di pabrik otomotif yang memproduksi plastik. Sejak tahun 2013 hingga 2015, ia dipercaya sebagai operator mesin, dan berkat dedikasinya, ia membangun reputasi yang baik di tempat kerja. Karena kinerja dan kedisiplinannya, ia pun dipercaya menjadi salah satu ketua bagi para pemagang dari Bali, sebuah posisi yang tidak mudah diraih. Kontribusinya pun tidak main-main, ia turut mendorong peningkatan produktivitas perusahaan, dari yang sebelumnya hanya mampu mencetak 50 unit per hari menjadi 100 unit per hari. Total masa di Jepang berlangsung selama tujuh tahun, waktu yang telah membentuk dirinya menjadi pribadi baktinya yang tangguh, terampil, dan visioner.
Pengalaman bekerja di Jepang telah menjadi fondasi kuat bagi Yan Permana dan Ketut Ariawan dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, etos kerja tinggi, dan visi jangka panjang. Sepulangnya ke Indonesia, keduanya tidak hanya membawa keterampilan teknis dan sertifikat internasional, tetapi juga semangat untuk membagikan kesempatan yang pernah mereka raih. Bersama-sama, mereka mendirikan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Hikari Bali pada Januari 2022, sebuah wadah yang bertujuan membekali generasi muda Bali, khususnya dari Bangli, dengan keterampilan dan bahasa Jepang agar siap bersaing dalam program kerja ke Jepang secara legal dan terarah. Namun, misi mereka tidak berhenti pada pelatihan teknis semata. Ariawan yang aktif dalam organisasi kemasyarakatan menjalin kerja sama dengan pemerintah kabupaten untuk membuka akses pendidikan vokasional tanpa hambatan biaya. Melalui skema pembiayaan tanpa agunan, para peserta LPK yang berasal dari keluarga kurang mampu pun tetap dapat melanjutkan pelatihan tanpa beban berat di awal. Tak hanya fokus pada peningkatan kompetensi individu, Yan Permana dan Ariawan juga menaruh perhatian besar terhadap realitas ekonomi di kampung halaman mereka. Menyadari bahwa Upah Minimum Regional (UMR) Bangli tergolong rendah dibandingkan wilayah lain di Bali. Karena itu, mereka menjadikan LPK Hikari Bali sebagai bagian dari perjuangan kolektif untuk mengangkat taraf hidup masyarakaat Bangli. Dengan membuka jalur kerja layak ke luar negeri, mereka secara tidak langsung mendorong peningkatan daya tawar tenaga kerja Bangli dan memperluas peluang ekonomi bagi keluarga, yang selama ini terjebak dalam lingkaran keterbatasan.
LPK Hikari Bali yang sudah memiliki cabang di Lombok dan Solo ini, tidak hanya dikenal sebagai lembaga pelatihan kerja yang menyiapkan calon peserta magang ke Jepang, tetapi juga sebagai institusi yang menekankan pada kedisiplinan dan praktik kerja nyata sebagai fondasi utama. Di tengah banyaknya lembaga sejenis, LPK Hikari Bali menonjol karena standar dan metode pelatihan yang menyerupai budaya kerja di Jepang, terutama dalam hal ketelitian, tanggung jawab, dan kesiapan sedekat mungkin dengan situasi riil di dunia kerja Jepang. Mulai dari tata cara masuk kerja, penggunaan waktu secara efisien, komunikasi di lingkungan kerja, hingga simulasi tugas-tugas teknis, semua dijalani dengan serius dan terukur. Hal ini selaras dengan permintaan perusahaan-perusahaan di Jepang yang tidak hanya mencari tenaga kerja, tetapi juga individu yang siap secara etos kerja dan budaya. Itulah mengapa lulusan dari lembaga ini kerap menjadi pilihan utama, baik bagi perusahaan Jepang yang membutuhkan tenaga kerja terlatih, maupun bagi peserta yang ingin benar-benar siap menghadapi kehidupan kerja di luar negeri.
LPK Hikari Bali tumbuh dari semangat kekeluargaan. Di awal berdirinya, para calon peserta magang yang mereka kirim ke Jepang sebagian besar berasal dari kalangan keluarga sendiri. Seiring waktu, reputasi lembaga ini menyebar luas. Kini, hampir setiap hari berlangsung sesi wawancara bagi para calon pemagang baru yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Jika sebelumnya hanya tiga perusahaan Jepang yang bekerja sama dengan LPK Hikari Bali, kini jumlahnya melonjak drastis menjadi sekitar 490 perusahaan. Kepercayaan ini tidak datang begitu saja, ia dibangun dari komitmen, kedisplinan, dan konsistensi layanan yang dijaga oleh Yan Permana dan Ketut Ariawan, dua sosok sentral yang menjadi “orang tua” bagi para pemagang di Jepang. Pengirim pertama dimulai dari Tokyo, lalu berkembang ke Osaka, Fukuoka, hingga kini meluas ke berbagai wilayah di Kyūshū, termasuk Ōita dan Kumamoto, yang saat ini menjadi dua wilayah dengan penyedia lapangan kerja terbanyak bagi peserta magang dari LPK Hikari Bali. Meski sudah berhasil ratusan peserta magang, LPK Hikari Bali tidak pernah putus hubungan dengan mereka. Justru komunikasi dan hubungan emosional dengan para pemagang menjadi fondasi penting yang harus terus dijaga. Para peserta magang tidak hanya diperlakukan sebagai lulusan lembaga, tetapi sudah dianggap anak sendiri. Yan Permana dan Ketut Ariawan pun telah menjadi figur dan pembimbing bagi mereka. Setiap kali berkunjung ke Jepang, mereka selalu menyempatkan waktu untuk menemui anak-anak magangnya, berkumpul, berbagi cerita, dan memberikan semangat secara langsung. Momen-momen seperti inilah yang tidak mudah dijaga, namun menjadi ciri khas dan keunggulan tersendiri dari LPK Hikari Bali, menggabungkan profesionalisme dengan sentuhan kemanusiaan dan rasa kekeluargaan.