Dari Pegunungan Papua Menuju Cahaya Usaha
Ada perjalanan hidup yang tidak dimulai dari pusat kota, melainkan dari wilayah yang jauh, sunyi, dan penuh kehangatan manusia. Dari sana, karakter ditempa, keberanian diasah, dan keyakinan tumbuh perlahan. Perjalanan Cokorda Agung Eka Susila adalah kisah tentang adaptasi, disiplin, dan keberanian berdiri di atas kaki sendiri, hingga akhirnya mampu menyalakan cahaya usaha yang kini menjangkau lintas wilayah.
Cokorda Agung Eka Susila adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia lahir pada tahun 1982 di kawasan Tembagapura, Irian Jaya, Papua. Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan Distrik Tembagapura, sebuah kawasan yang tidak hanya dikenal karena letaknya yang terpencil, tetapi juga karena kuatnya rasa kebersamaan antarwarga. Orang tuanya bekerja di bidang kesehatan di bawah naungan PT Freeport, membuat keluarganya menjadi bagian dari komunitas karyawan yang hidup saling menopang satu sama lain.
Di kawasan ini, fasilitas pendidikan tersedia dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama. Ia menjalani seluruh pendidikan awalnya di sana. Kehidupan yang ia jalani terasa sederhana namun hangat. Sebagai anak karyawan, ia mendapatkan fasilitas belajar yang cukup baik seperti buku dan alat tulis, namun yang paling berkesan baginya adalah suasana kekeluargaan yang sangat erat. Semua orang saling mengenal, saling menjaga, dan tumbuh bersama dalam rasa aman. Nilai kebersamaan itulah yang kelak membentuk cara pandangnya terhadap hubungan antar manusia.
Setelah menyelesaikan pendidikan hingga SMP, ia melanjutkan sekolah menengah atas di SMAN 4 Denpasar. Perpindahan ini menjadi pengalaman besar dalam hidupnya. Dari lingkungan pegunungan Papua menuju kehidupan Bali yang lebih padat dan dinamis, ia sempat merasakan keterkejutan budaya. Namun berkat dukungan kawan kawan, serta bantuan paman dan bibinya, proses adaptasi berjalan lebih ringan. Memasuki kelas dua SMA, orang tuanya menyusul kembali ke Bali, memberikan dukungan moral yang semakin menguatkan langkahnya.
Saat memasuki usia perguruan tinggi, ayahnya mengambil keputusan yang tidak mudah. Ia tidak diizinkan berkuliah di Bali. Keputusan ini diambil sebagai bentuk pendidikan mental agar ia belajar mandiri dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Bandung pun menjadi pilihan, kota yang juga memiliki ikatan emosional karena merupakan tempat kelahiran sang ibu. Di kota ini, ia mulai benar benar berdiri sendiri, mengelola waktu, keuangan, dan arah hidupnya.
Ia melanjutkan pendidikan diploma tiga di Politeknik Mekanik Swiss dengan jurusan manufaktur. Pada awalnya, masa adaptasi terasa berat. Sistem pendidikan yang diterapkan menuntut tujuh puluh persen praktik dan tiga puluh persen teori. Ritme belajar yang ketat dan tuntutan kedisiplinan tinggi sempat menguji ketahanannya. Namun perlahan ia mampu menyesuaikan diri, bertahan, dan menyelesaikan pendidikan tersebut dengan baik.
Tidak berhenti di sana, ia melanjutkan pendidikan sarjana di jurusan Teknik Industri di Universitas Jenderal Ahmad Yani. Setelah menyelesaikan studi, ia mengikuti praktik kerja lapangan di perusahaan Tetra Pak. Pengalaman ini membuka pintu profesional baginya. Karena dinilai mampu dan memiliki etos kerja yang baik, ia langsung dipercaya untuk bekerja di perusahaan tersebut. Setelah satu tahun, ia memilih melanjutkan perjalanan kariernya ke perusahaan Philips, tempat ia mengabdi selama enam tahun. Dari sinilah ia banyak belajar tentang sistem kerja industri, kualitas produk, manajemen, serta pentingnya konsistensi.
Berbekal pengalaman panjang di dunia industri, keyakinan untuk berdiri sendiri mulai tumbuh. Ia merasa sudah waktunya mengambil risiko yang lebih besar. Bersama beberapa kawan, ia membentuk CV Lima Jaya Bersinar. Peralihan dari posisi karyawan menjadi pengusaha bukanlah hal yang mudah. Tantangan datang dari berbagai arah, mulai dari manajemen, kepercayaan pasar, hingga ketidakpastian usaha.
Di masa awal, ia memilih strategi yang sederhana namun kuat. Ia berusaha menyediakan berbagai kebutuhan konsumen secara menyeluruh. Ia melayani klien layaknya seorang teman, membangun relasi bukan sekadar transaksi. Pendekatan inilah yang perlahan membangun kepercayaan. Pada tahun kedua, ia mulai memfokuskan perusahaan pada produk lampu. Keputusan ini menjadi titik penting dalam perkembangan usahanya.
Seiring waktu, CV Lima Jaya Bersinar tumbuh dan berkembang. Produk yang dihasilkan tidak hanya diterima di pasar lokal, tetapi juga menembus pasar ekspor hingga kawasan Eropa dan Afrika. Perjalanan tersebut tentu tidak selalu mulus. Di awal, ia cukup kesulitan mendapatkan lokasi usaha dan penyedia alat produksi. Namun ia meyakini bahwa selalu ada jalan. Ia merasa diberi banyak kemudahan melalui bantuan tangan-tangan manusia yang datang di saat yang tepat. Keyakinan kepada Tuhan menjadi pegangan dalam setiap langkah yang ia ambil.
Ke depan, ia berharap CV Lima Jaya Bersinar dapat berkembang lebih luas. Tidak hanya bergerak di ranah custom dan project base, tetapi juga mampu hadir secara retail. Lebih dari itu, ia memiliki harapan besar agar semakin banyak UMKM tumbuh di Bali, sehingga perekonomian tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata. Pesannya sederhana namun penuh makna. Jangan takut untuk memulai. Lakukan apa yang diyakini dengan sungguh sungguh, karena Tuhan itu baik dan selalu menyediakan jalan bagi mereka yang berani melangkah.