Cerita Unik Tentang Keluar dari Jurusan Kuliah untuk Menekuni Bisnis
Perjalanan hidup tidak selalu bergerak lurus sesuai rencana, terkadang justru menemukan arah melalui proses yang tidak terduga. Ketekunan dan keberanian mencoba menjadi kunci yang mengantarkan seseorang melangkah lebih jauh dari yang dibayangkan. Dari sanalah kisah Ni Wayan Suwilan mulai terbentuk.
Ni Wayan Suwilan yang sering disapa Wilan lahir di Kintamani pada tahun 1997 dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia peternakan. Ayahnya merupakan pemilik peternakan ayam petelur, sehingga kehidupan sehari harinya tidak pernah jauh dari aktivitas tersebut. Sejak usia dini, ia sudah terbiasa melihat proses kerja keras di balik usaha keluarga. Sebagai anak pertama, ia tumbuh dengan rasa tanggung jawab yang kuat.
Masa kecilnya diisi dengan pendidikan dasar yang ia jalani dengan baik. Ia dikenal sebagai siswi berprestasi yang mampu menjaga keseimbangan antara belajar dan membantu orang tua. Setelah menyelesaikan pendidikan di SD, ia melanjutkan ke SMP Negeri 5 Kintamani. Pada masa inilah keterlibatannya dalam usaha keluarga semakin nyata. Setiap pulang sekolah, ia membantu memberi pakan ayam di peternakan ayahnya, sebuah rutinitas sederhana yang tanpa disadari membentuk pola pikir tentang kerja dan konsistensi.
Perjalanan pendidikannya berlanjut ke SMA Negeri 2 Bangli. Saat itu ia memiliki cita-cita mengikuti seleksi sekolah kedinasan. Ia sempat mencoba mengikuti seleksi, namun hasilnya tidak sesuai harapan. Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti melangkah. Ia justru ingin mengikuti seleksi lagi tahun depan ia mengisi waktu luang dengan mengikuti kursus bahasa Inggris selama satu tahun, untuk menunggu waktu seleksi kedinasan berikutnya.
Setelah mengikuti seleksi keduakalinya ia tetap gagal, kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di STIKES Bina Usada Bali dengan jurusan S1 Keperawatan. Pilihan ini menunjukkan bahwa ia juga memiliki ketertarikan pada bidang kesehatan. Namun, ketika menginjak semester empat, muncul dorongan dalam dirinya untuk mulai membangun usaha yang bisa menambah uang jajan. Tanpa berpikir panjang Ia melihat peluang dari usaha keluarganya dengan mulai mencoba memasarkan telur.
Awal mulanya cukup sederhana. Ia membeli telur dari peternakan ayahnya, lalu menjualnya dengan berkeliling menggunakan mobil pickup yg dibantu oleh satu orang sopir. Tantangan langsung datang dalam berbagai bentuk. Persaingan harga yang ketat, distribusi yang tidak selalu mudah, serta tuntutan untuk membagi waktu antara kuliah dan bisnis menjadi ujian yang harus ia hadapi. Meski begitu, ia tetap bertahan dan terus belajar dari setiap proses.
Setelah menyelesaikan perkuliahan, teman-temannya melanjutkan untuk mengikuti program Profesi Ners, namun ia memilih untuk tidak mengikuti profesi melainkan banting haluan mulai mengembangkan usahanya dengan membuka toko pertama di Jl.
Antasura no. 29 Denpasar. Tidak berhenti di situ, jelang satu tahun tepatnya tahun 2020 ia memperluas usahanya dengan membuka toko kedua di Jl. Tukad Yeh Aya, Renon. Bahkan di tengah situasi pandemi, usahanya tetap berjalan stabil karena kebutuhan masyarakat terhadap telur meningkat sebagai sumber protein yang penting bagi kesehatan.
Kini usahanya semakin berkembang, ia kemudian membuka dua toko lagi di Jl. Danau Beratan, Sanur dan di Jl. Trenggana, Penatih, saat ini ia memiliki empat toko dan ia ingin selalu untuk mengembangkan usahanya dan terus berinovasi. Perjalanan Ni Wayan Suwilan memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Ia tumbuh dari pengalaman, dari kegagalan, dan dari keberanian untuk mencoba. Sunaga Telur bukan sekadar usaha, melainkan hasil dari proses panjang yang dibangun dengan ketekunan dan keyakinan.