Meniti Langkah Sunyi Menuju Puncak Akademik
Ada perjalanan hidup yang tidak dibentuk oleh sorak-sorai, melainkan oleh kesabaran, ketekunan, dan keyakinan yang tumbuh perlahan. Kisah Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, M.P. adalah cerita tentang waktu yang dijalani dengan sungguh-sungguh, tentang pilihan yang diambil dengan kesadaran penuh, serta tentang mimpi besar yang dibangun dari latar belakang sederhana.
Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, M.P. merupakan putra kelahiran Singaraja, Bali. Lahir pada 4 Maret 1961, ia adalah anak pertama dari empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga sederhana dengan nilai-nilai kuat mengenai pendidikan dan tanggung jawab. Ayahnya bekerja di Dinas Lalu Lintas Angkatan Darat, sebuah profesi yang kelak diteruskan oleh sang adik. Sejak dini, orang tuanya selalu menanamkan pentingnya pendidikan sebagai bekal utama hidup, namun tetap memberi ruang kebebasan bagi anak-anaknya untuk menentukan arah masa depan sesuai minat dan kemampuan.
Masa kecilnya diisi dengan aktivitas yang lekat dengan kehidupan sosial dan alam. Memancing di waktu senggang, bermain layangan di lapangan, bersepeda menyusuri lingkungan sekitar, serta bermain sepak bola bersama teman-teman menjadi bagian dari keseharian. Interaksi yang hangat dan kebebasan berekspresi membentuk kepribadian yang terbuka, kreatif, dan mudah beradaptasi. Pengalaman ini kelak berpengaruh pada cara pandangnya dalam memimpin dan membangun lingkungan akademik yang inklusif.
Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, tanggung jawab dan kedewasaan tumbuh lebih awal. Pendidikan dasar ditempuh di SDN 18 Denpasar, kemudian berlanjut ke SMPN 2 Denpasar dan SMAN 1 Denpasar. Ia dikenal sebagai pelajar yang tekun dan rajin. Masa sekolah di SMP diwarnai rutinitas bersepeda setiap pagi, sebuah kebiasaan yang mencerminkan kedisiplinan dan kemandirian. Kebutuhan hidup selalu dipenuhi orang tua dengan penuh perhatian, namun nilai kerja keras tetap ditanamkan tanpa memanjakan.
Salah satu pelajaran penting yang membekas sejak kecil adalah keteladanan orang tua dalam bekerja. Seusai makan bersama keluarga, orang tuanya akan melanjutkan pekerjaan di rumah. Dari situ ia belajar bahwa tanggung jawab tidak berhenti pada rutinitas formal. Ketekunan tersebut kemudian diterapkan dalam kebiasaan membaca buku dan mengerjakan tugas, membangun fondasi kuat bagi perjalanan akademiknya.
Pada tahun 1981, ia mendapat kesempatan keluar dari Bali sebagai bentuk penghargaan untuk mengunjungi paman. Perjalanan ini membuka cakrawala baru. Ia melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, menyaksikan beragam profesi mulai dari sektor pariwisata hingga dunia akademik. Pengalaman ini memperluas cara pandangnya tentang pilihan hidup dan peran pendidikan dalam membentuk masa depan.
Keinginan awal untuk melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada belum terwujud. Dalam perjalanannya, ia diterima di Fakultas Peternakan dan Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Orang tua kembali memberikan kebebasan untuk memilih. Berdasarkan saran paman, keputusan besar pun diambil untuk merantau dan melanjutkan pendidikan di Universitas Riau, Fakultas Kelautan dan Perikanan. Pilihan tersebut didasari pertimbangan bahwa Riau memiliki potensi besar di sektor perikanan, khususnya ikan sebagai komoditas utama.
Tahun 1983 menjadi masa yang berat. Ayahnya meninggal dunia, sebuah peristiwa yang sempat mengguncang dan menumbuhkan keinginan untuk kembali ke Bali. Namun melalui nasihat paman, ia memilih bertahan dan menyelesaikan studi. Keputusan itu menjadi titik penting yang menguatkan mental dan kemandiriannya. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan pada tahun 1985.
Setelah lulus, langkah pengabdian dimulai di Universitas Warmadewa pada Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian. Satu tahun kemudian, ia dipercaya menjadi ketua program studi, sebuah amanah yang datang di usia relatif muda. Hingga tahun 1991, ia terus berproses dalam pengembangan karier akademik dan kelembagaan dengan penuh dedikasi.
Tahun 1991 menjadi awal perjalanan studi magister di bidang Teknologi Pangan di Universitas Gadjah Mada. Setelah menyelesaikan pendidikan, periode 1994 hingga 1996 diisi dengan fokus mengajar. Kepercayaan institusi kembali hadir saat ia ditunjuk sebagai pembantu Dekan I dari tahun 1996 hingga 1999. Kepemimpinan tersebut berlanjut dengan amanah sebagai Dekan Fakultas Pertanian dari tahun 1999 hingga 2003, menjadikannya dekan pertama dari Universitas Warmadewa.
Langkah akademik tidak berhenti di sana. Studi doktoral ditempuh di Universitas Udayana hingga tahun 2007. Pada masa itu, ia termasuk salah satu dosen yang mendapat kepercayaan untuk melanjutkan pendidikan Strata 3. Setelah menyelesaikan studi, ia diangkat sebagai Kepala Lembaga Penjaminan Mutu periode 2008-2012 dan berhasil mencatatkan prestasi di tingkat nasional. Seiring perjalanan tersebut, tahun 2009 menjadi momen penting dengan penyusunan angka kredit untuk mencapai guru besar. Ia pun tercatat sebagai guru besar pertama Universitas Warmadewa, tepat 25 tahun setelah universitas tersebut berdiri. Amanah berikutnya datang sebagai Direktur Program Pascasarjana Universitas Warmadewa selama 2 periode dari tahun 2012-2019.
Setelahnya, ia kembali mengemban tugas sebagai Kepala Badan Penjaminan Mutu Universitas Warmadewa di tahun 2020. Puncak pengabdian struktural tertinggi datang saat ia dilantik sebagai Rektor Universitas Warmadewa pada 16 Maret 2023 untuk periode 2023 hingga 2027. Sebagai pemimpin utama, ia membawa visi besar menjadikan Universitas Warmadewa sebagai perguruan tinggi bermutu, berwawasan ekowisata, dan berdaya saing global pada tahun 2034.

Kini Universitas Warmadewa telah terakreditasi unggul secara nasional dan menjadi Perguruan Tinggi Swasta Terbesar di Bali. Langkah internasionalisasi terus diperluas menuju kawasan Asia melalui kerja sama dengan berbagai negara tetangga dalam bidang studi banding, riset, serta pertukaran pelajar. Warmadewa International Program menjadi salah satu wujud komitmen membuka ruang bagi mahasiswa asing untuk menempuh studi. Baginya, semua pencapaian tersebut adalah hasil kerja bersama seluruh unsur di Universitas Warmadewa.
Prinsip hidup yang terus dipegang sederhana namun tegas. Jika melakukan kesalahan, belajarlah darinya dan jangan mengulanginya. Harapan besar terus ia rawat untuk membawa Universitas Warmadewa menjadi salah satu kampus swasta terbesar di Indonesia. Mutu diwujudkan melalui studi tepat waktu, lulusan yang diterima di berbagai sektor, akreditasi program studi yang kuat, kepedulian pada ekowisata yang berkelanjutan, serta langkah pasti menuju panggung global. Dari perjalanan panjang itulah, kepemimpinan lahir dengan ketenangan, keyakinan, dan arah yang jelas.
