Dari Garam Kusamba ke Meja Rasa Jimbaran
Angin laut dari pesisir Kusamba pernah menjadi saksi sunyi perjalanan panjang seorang anak desa yang menatap hidup dengan mata penuh harap. Di antara hamparan ladang garam dan perahu nelayan yang bersandar, tumbuh keyakinan sederhana bahwa hidup tidak harus berhenti pada keadaan. Dari sanalah langkah I Gusti Ngurah Raka bermula, membawa cerita tentang kerja keras, harga diri, dan keberanian untuk melampaui batas yang pernah membungkus masa kecilnya.
I Gusti Ngurah Raka lahir pada tahun 1968 di Desa Kusamba, sebuah wilayah di Klungkung yang dikenal sebagai sentra produksi garam laut. Ia merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Posisi tersebut tidak sekadar urutan kelahiran, tetapi juga tanggung jawab yang perlahan membentuk cara pandangnya terhadap hidup. Dalam keluarga yang menggantungkan penghidupan dari bertani dan melaut, kondisi ekonomi jauh dari kata mapan. Keseharian diwarnai kesederhanaan yang nyaris menjadi kebiasaan, bahkan untuk urusan makan pun masyarakat setempat terbiasa mengandalkan nasi cacah dengan lauk ikan hasil tangkapan.
Sejak kecil, ia telah dibiasakan untuk memahami arti tanggung jawab. Waktu bermain tetap ada, tetapi tidak pernah lepas dari kewajiban membantu orang tua. Di balik rutinitas itu, tumbuh pula perasaan minder yang diam-diam mengendap. Ia menyadari perbedaan kondisi dirinya dengan orang lain, terutama saat mulai memasuki usia remaja. Saat itu ia melanjutkan sekolahnya di SMP PGRI Klungkung, dengan jauhnya jarak tempuh dari rumah ke sekolah yang mencapai 8 km membuat dirinya harus memakai sepeda gayung selama 3 tahun masa sekolah menengah pertamanya. Ada juga kenangan memilukan saat kejadian waktu kelulusan SMP, saat itu penyerahan rapor, kelulusan serta tamasya dilakukan berbarengan di Kebun Raya Bedugul, lazimnya saat kegiatan tamasya tentu akan menggunakan pakaian yang bagus, namun ia satu-satunya yang mengenakan pakaian sekolah waktu itu dengan baju batik dan bawahan celana biru, rasa mindernya mungkin bisa berkurang jika saat itu hanya tamasya saja sebab ia merasa masih bisa bersembunyi dan membaur diantara kerumunan namun karena terdapat penyerahan rapor beserta pengumuman juara dan ia mendapatkan juara umum 2 membuatnya harus maju kedepan menahan malu meski nyatanya berprestasi. Sehingga dari pengalaman buruk tersebut ketika melanjutkan ke jenjang SMA yang sebenarnya ia diterima di beberapa SMA terbaik di Klungkung terpaksa memilih SMA 2 Klungkung yang kini dikenal SMA 1 Dawan dikarenakan jarak tempuh yang lebih dekat, ia pun lulus di Bulan Juni tahun 1989.
Kesempatan sempat datang ketika ia dinyatakan lolos melalui jalur SNBP di Universitas Udayana. Namun kenyataan berkata lain. Keterbatasan biaya membuatnya harus mengubur mimpi melanjutkan pendidikan tinggi. Keadaan ini sempat memunculkan rasa jengah, tetapi bukan berarti ia menyerah. Justru dari titik itulah muncul tekad untuk mencari jalan lain.
Dengan keberanian yang nyaris tanpa perhitungan, beberapa bulan setelah tamat SMA tepatnya di bulan Oktober 1989 ia memutuskan merantau ke Jimbaran. Modalnya sederhana, hanya tekad dan sepasang pakaian ganti. Di tempat baru, ia tidak langsung menemukan kemudahan. Beruntung, ia bertemu dengan keluarga jauh yang memberinya tempat tinggal sementara. Dari sana, perjalanan hidupnya memasuki fase penuh dinamika.
Sebulan setelahnya ia sudah mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga pembersih kandang ternak babi di Uluwatu. Lalu berselang 2 bulan setelahnya di bulan Januari 1990 ia bekerja di Hotel Puri Bali sebagai tukang cuci piring, dikarenakan ia tamatan ekonomi waktu SMA maka di bulan Mei 1990 naik menjadi staf receiving (accounting dept). kemudian sembari bekerja di Hotel ia pun memutuskan membuka Raka Shop yang merupakan sebuah art shop di bulan November 1993. Di Bulan Desember 2005 ia memutuskan untuk resign dari Puri Bali lalu pindah ke Hotel Ubud sebagai purchasing manager sama seperti sebelumnya ia pun juga mengambil pekerjaan lain sebagai agency manager di sebuah perusahaan asuransi.

Pada tahun 2015, ia memutuskan untuk resign dan fokus mengembangkan art shop dan agency manager di perusahaan asuransi. Pilihan ini bukan akhir, melainkan awal dari fokus baru dalam dunia usaha. Ia lalu sempat membuka coffee shop, tetapi pandemi Covid 19 membawa tantangan besar. Usaha tersebut mengalami kebangkrutan. Situasi ini menjadi ujian yang tidak mudah, namun ia tidak memilih untuk berhenti. Dengan keteguhan dan sikap pantang menyerah, ia mulai membenahi kembali langkahnya secara perlahan.
Tahun 2023 menjadi titik kebangkitan yang baru. Ia membuka sebuah art shop bernama Cosala Art Shop. Pegambilan nama usaha ini dikarenakan tempat berdirinya Cosala Art Shop saat ini dulunya tempat ini terkenal dengan nama Puri Kosala, untuk mengenang tempat ini Ia pun mengambil nama kosala, namun ia sadar nama kosala sudah umum dipakai sehingga dia mengubah sedikit dengan mengubah penggunaan huruf âkâ menjadi huruf âcâ sehingga menjadi Cosala. Usaha ini pun berkembang seiring waktu. Banyak pengunjung yang datang tidak hanya tertarik pada produk seni, tapi juga penasaran dengan wisata kuliner di sekitar tempat tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, tercetuslah sebuah ide untuk membangun Restoran, awalnya ia fokus untuk menentukan tempat, setelah disepakati ia pun mulai mencari partner yang bisa diajak kerjasama. Berlanjut dengan mulai mencatat hingga 15 orang lalu diseleksi sehingga terpilih lah 4 orang tambahan yang bisa diajak bekerja sama. Nama-nama yang terpilih antara lain ada I Gusti Ketut Oka (Chef), I Nyoman Sutama (Chef), I Wayan Dangin (Cook Helper), I Gusti Gede Kari (Bartender & Restaurant), dan I Gusti Ngurah Raka (Pengelola), karena dibangun dengan 5 personil maka dari itu diputuskanlah nama restorannya menjadi Warung The Lima. Tak lupa ia pun merumuskan visi misi sebagai penunjuk arah perjalanan dari warung The Lima, visinya ingin mewujudkan Warung The Lima Jimbaran go international serta memiliki misi untuk ikut membantu kesejahteraan rekan-rekannya di masa tua nanti, Logonya pun merepresentasikan wajah dari Warung The lima, di logonya terdapat angka 5 yang menunjukan jumlah owner, pohon kelapa yang menjadi ciri khas karena terdapat langsung di lokasi serta ada pasir, pantai, dan matahari terbenam yang memvisualisasikan daerah lokasi restoran yang dekat dengan pantai dan diberkahi senja tiap tahunnya.

Ke depan, ia memiliki harapan besar untuk mengembangkan usahanya lebih luas. Baginya, usaha bukan sekadar tentang keuntungan, tetapi juga tentang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Dari Kusamba hingga Jimbaran, kisahnya menjadi bukti bahwa kerja keras, keteguhan hati, dan keberanian mengambil keputusan dapat membawa seseorang melampaui batas yang pernah ia bayangkan.
