Khasiat Teh Kembang Telang Pada Pasien Diabetes
Kembang telang (Clitoria ternatea), bunga berwarna biru yang kerap diolah menjadi minuman herbal, diteliti sebagai suplemen untuk membantu mengurangi tekanan emosional pada pasien diabetes tipe 2. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Avicenna Journal of Phytomedicine edisi MeiāJuni 2026 tersebut mengamati perubahan tingkat tekanan terkait diabetes dan sejumlah penanda biologis setelah pemberian ekstrak bunga selama 12 minggu.
Penelitian berjudul A Clinical Study on Clitoria ternatea Tea Therapy to Manage Diabetic Distress in People with Type 2 Diabetes dilakukan oleh Vadivel Mani dan sejumlah peneliti dari institusi pendidikan serta penelitian di India dan Inggris. Fokus penelitian adalah diabetes distress, yakni tekanan emosional yang dapat muncul ketika seseorang harus menjalani pengobatan, memantau kondisi kesehatan, dan menghadapi kekhawatiran mengenai komplikasi diabetes.
Berbeda dengan depresi klinis, tekanan terkait diabetes secara khusus berkaitan dengan beban emosional dalam mengelola penyakit tersebut. Kondisi ini dapat mencakup kekhawatiran mengenai pengobatan, tuntutan perubahan gaya hidup, hubungan dengan tenaga medis, serta dampak penyakit terhadap kehidupan sehari-hari.
Dalam penelitian tersebut, peneliti menggunakan ekstrak bunga kembang telang yang dibuat dengan merebus bunga dalam air. Bahan tanaman sebanyak 5 gram atau 10 gram direbus dalam 150 mililiter air selama 10 menit hingga volumenya berkurang menjadi sekitar 100 mililiter.
Penelitian membandingkan kelompok pasien diabetes yang menerima metformin saja dengan kelompok yang menerima metformin bersama suplemen kembang telang dalam dua dosis berbeda. Kelompok kontrol yang terdiri atas individu sehat juga digunakan sebagai pembanding.
Setelah 12 minggu, peneliti menilai tingkat tekanan terkait diabetes menggunakan Diabetes Distress Scale-17 (DDS-17). Instrumen tersebut mengukur empat aspek, yaitu beban emosional, tekanan terkait tenaga medis, tekanan akibat pengelolaan penyakit, dan tekanan dalam hubungan interpersonal.
Dalam tabel hasil penelitian, skor DDS-17 rata-rata pada kelompok diabetes tanpa tambahan kembang telang tercatat sebesar 2,70. Sementara itu, skor pada kelompok yang menerima ekstrak 5 gram tercatat sebesar 1,65 dan kelompok 10 gram sebesar 1,80. Skor yang lebih rendah menunjukkan tingkat tekanan terkait diabetes yang lebih rendah.
Peneliti juga memeriksa kadar protein carbonyl dalam darah, penanda yang berkaitan dengan oksidasi protein, serta kadar asam 5-hidroksiindolasetat atau 5-HIAA dalam urine, yaitu metabolit yang berhubungan dengan metabolisme serotonin. Hasil penelitian melaporkan perubahan pada kedua penanda tersebut setelah pemberian suplemen.
Selain itu, tabel karakteristik peserta menunjukkan perubahan nilai rata-rata gula darah puasa dan HbA1c pada kelompok yang menerima ekstrak kembang telang bersama metformin. Namun, hasil tersebut perlu ditafsirkan secara hati-hati karena penelitian ini berfokus pada tekanan terkait diabetes dan memiliki sejumlah ketidakkonsistenan dalam pelaporan data.
Penelitian tersebut memberikan temuan awal mengenai kemungkinan penggunaan kembang telang sebagai suplemen pendamping dalam penelitian pengelolaan tekanan emosional pada pasien diabetes tipe 2. Meski demikian, hasil ini belum cukup untuk memastikan efektivitasnya secara luas. Penelitian lanjutan dengan pelaporan metode dan data yang lebih konsisten diperlukan untuk menguji hasil tersebut.
Kembang telang juga tidak dapat dianggap sebagai pengganti metformin, obat diabetes lainnya, atau pendampingan kesehatan mental yang diperlukan pasien. Penelitian ini menguji ekstrak bunga bersama pengobatan yang sudah digunakan, bukan sebagai terapi tunggal untuk diabetes.