Berawal dari Kemasan Sederhana, Menjadi Penggerak Banyak Kehidupan

Aroma gurih yang akrab di lidah masyarakat sering kali menyimpan kisah panjang yang tidak banyak diketahui orang. Dari sebuah rumah sederhana, lahir perjalanan seorang perempuan yang membangun usaha dengan ketekunan, kesabaran, dan keyakinan bahwa kerja keras akan menemukan jalannya sendiri. Sosok itu adalah Ni Luh Sri Wahyuningsih atau yang akrab disapa Sri, perempuan asal Karangasem yang berhasil mengubah usaha rumahan menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang.

Sri lahir di Karangasem pada tahun 1975 sebagai anak ketiga dari enam bersaudara. Kehidupan yang dijalaninya sejak kecil mengajarkan arti kemandirian dan kerja keras. Namun perjalanan yang paling menentukan dalam hidupnya justru dimulai ketika ia telah berkeluarga dan memiliki anak.

Tahun 1997 menjadi titik penting dalam kehidupannya. Saat itu Sri ingin membantu perekonomian keluarga, namun kondisi tidak memungkinkan dirinya bekerja di luar rumah karena anaknya masih bayi. Situasi tersebut membuatnya berpikir keras mencari pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah tanpa harus meninggalkan tanggung jawab sebagai seorang ibu bagi anak anaknya.

Dari pemikiran itulah lahir usaha yang kemudian dikenal dengan nama Keripik Ayam Biru. Berbekal kemauan untuk mencoba dan keyakinan bahwa usaha kecil bisa berkembang jika ditekuni dengan sungguh sungguh, Sri mulai memproduksi keripik ayam dalam jumlah yang sangat terbatas. Pada masa awal, produksi hariannya hanya sekitar tiga hingga lima kilogram. Semua proses dikerjakan sendiri, mulai dari menyiapkan bahan baku, mengolah produk, mengemas, hingga memasarkannya.

Perjalanan merintis usaha tentu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu kendala terbesar yang dihadapi Sri pada masa awal adalah ketersediaan bahan baku. Ia harus berupaya keras memastikan kebutuhan produksi tetap terpenuhi agar usahanya dapat terus berjalan. Selain itu, pemasaran juga menjadi tantangan tersendiri. Saat itu ia belum memiliki jaringan penjualan yang luas. Keripik yang diproduksinya dititipkan ke warung warung di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Dari cara sederhana tersebut, perlahan produknya mulai dikenal masyarakat.

Nama Keripik Ayam Biru yang kini dikenal banyak orang ternyata memiliki cerita yang cukup unik. Pada masa awal usaha, produk milik Sri menggunakan label berwarna biru pada kemasannya. Warna tersebut menjadi ciri yang mudah dikenali pelanggan. Seiring waktu, masyarakat lebih mudah menyebut produknya sebagai keripik yang berlabel biru. Sebutan itu kemudian melekat dan akhirnya dipilih sebagai identitas usaha yang terus digunakan hingga sekarang. Nama tersebut lahir dari kedekatan konsumen dengan produknya dan menjadi bagian penting dari perjalanan merek yang dibangunnya.

Selama delapan tahun pertama, Sri menjalankan seluruh aktivitas usaha seorang diri. Tidak ada karyawan yang membantu proses produksi maupun pemasaran. Semua pekerjaan dilakukan dengan penuh ketekunan dari pagi hingga malam. Masa itu menjadi periode yang membentuk karakter usahanya sekaligus membuktikan bahwa konsistensi adalah modal yang sangat berharga dalam membangun bisnis.

Tahun 2005 menjadi awal perubahan baru. Ketika permintaan produk semakin meningkat, Sri mulai mengajak para perempuan di lingkungan sekitar rumahnya untuk ikut terlibat dalam proses produksi. Keputusan tersebut bukan hanya membantu perkembangan usaha, melainkan juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Banyak warga yang kemudian memperoleh tambahan penghasilan melalui pekerjaan yang tersedia dari usaha tersebut.

Dampak positif yang tercipta terus berkembang dari tahun ke tahun. Aktivitas produksi yang semakin besar membuat semakin banyak orang terlibat. Kehadiran usaha yang dirintis Sri secara tidak langsung ikut menggerakkan roda perekonomian di lingkungan tempat tinggalnya. Semangat kebersamaan yang dibangun akhirnya melahirkan kelompok usaha bernama Keripik Biru Sulatri yang menjadi wadah bagi para pekerja dan mitra usaha dalam menjalankan kegiatan produksi.

Perjalanan panjang yang telah dilalui tidak berarti bebas dari tantangan. Salah satu ujian terbesar datang pada tahun 2020 ketika pandemi melanda. Penurunan aktivitas ekonomi berdampak pada banyak pelaku usaha, termasuk usaha yang dijalankan Sri. Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian tersebut, ia berupaya mempertahankan keberlangsungan usaha dengan berbagai cara. Bahkan ia rela memberikan subsidi terhadap produknya sendiri agar produksi tetap berjalan dan para pekerja tetap memiliki aktivitas serta penghasilan.

Pada tahun yang sama, Sri memperoleh dukungan berupa bantuan sarana dan prasarana dari BRI. Ia terpilih dalam Program Klaster BRI yang memberikan pendampingan kepada pelaku usaha yang dinilai memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Banyaknya mitra kerja yang terlibat dalam usahanya menjadi salah satu faktor yang membuatnya memenuhi kriteria program tersebut. Kepercayaan yang diberikan tidak berhenti sampai di sana. Sri juga sempat ditunjuk sebagai agen BRI Link yang semakin memperluas perannya dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

Hasil dari perjuangan yang dijalani selama puluhan tahun kini terlihat nyata. Jika dahulu pemasaran hanya menjangkau wilayah Denpasar Timur, saat ini produk keripik ayam miliknya telah beredar ke berbagai daerah di Bali, bahkan menjangkau Jawa dan Lombok. Jumlah tenaga kerja yang terlibat pun terus bertambah hingga mencapai 28 orang.

Kisah Sri menunjukkan bahwa usaha besar tidak selalu lahir dari modal besar. Kadang perjalanan itu bermula dari seorang perempuan yang memilih bertahan di rumah demi merawat anaknya, lalu memanfaatkan kesempatan kecil yang ada di depan mata. Dengan ketekunan yang tidak pernah surut, ia berhasil membangun usaha yang bukan hanya menghidupi keluarganya, melainkan juga membuka jalan bagi banyak orang untuk memperoleh penghasilan dan harapan yang lebih baik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!