Membangun dengan Hati Bertumbuh dengan Arti
Kepercayaan sering tumbuh dari hal hal sederhana yang dijalani dengan ketulusan. Dari keyakinan yang telah mengakar sejak lama, sebuah gagasan dapat berkembang menjadi karya yang memberi manfaat bagi banyak orang. Perjalanan itulah yang tergambar dalam kisah Made Devi Asrini, perempuan yang mengubah kedekatannya dengan nilai spiritual menjadi sebuah usaha yang memiliki karakter dan identitas kuat.
Made Devi Asrini, atau yang akrab disapa Devi, lahir di Singaraja pada tahun 1978. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri sipil, sementara sang ibu dikenal sebagai pengusaha alat pertanian. Lingkungan keluarga yang terbiasa dengan kedisiplinan dan semangat berusaha membentuk karakter Devi sejak usia muda.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri Banyuasih, kemudian berlanjut ke SMP Negeri 2 Singaraja dan SMA Negeri 1 Singaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia memilih melanjutkan studi Diploma III Akuntansi di Politeknik Negeri Bali. Keputusan tersebut membawanya merantau ke Denpasar dan mulai mengenal kehidupan yang lebih mandiri.
Saat menjalani praktik kerja lapangan di Hard Rock Hotel, Devi memperoleh pengalaman profesional pertamanya sebagai staf akuntansi. Setelah lulus, ia dipercaya bekerja di perusahaan yang sama dan mengabdikan diri selama kurang lebih lima tahun. Pengalaman tersebut memberinya bekal berharga mengenai pengelolaan keuangan, administrasi, serta kedisiplinan dalam menjalankan pekerjaan.
Pada tahun 2005, Devi menikah dan kemudian melanjutkan pendidikan Sarjana Akuntansi di Universitas Udayana. Setelah berkeluarga, ia lebih banyak memusatkan perhatian pada rumah tangga. Meski tidak lagi aktif bekerja seperti sebelumnya, semangat untuk terus berkembang tidak pernah padam. Ia bahkan mengikuti kursus desain sebagai sarana memperluas wawasan dan keterampilan.
Titik penting dalam perjalanan hidupnya hadir pada tahun 2020 ketika ia mendirikan Taru Bali Asri, sebuah usaha yang bergerak di bidang produksi dupa. Kehadiran usaha ini bukan semata keputusan bisnis, melainkan lahir dari sesuatu yang telah menjadi bagian dari dirinya sejak kecil. Devi dikenal sebagai pribadi yang memiliki kedekatan dengan kehidupan spiritual. Ketertarikan tersebut membuatnya memahami bahwa dupa bukan sekadar pelengkap ritual, melainkan media yang mampu menghadirkan suasana tenang, khusyuk, dan penuh makna.
Nama Taru Bali Asri dipilih dengan filosofi yang kuat. Kata Taru dalam bahasa Bali memiliki makna pohon atau sumber kehidupan. Pohon menjadi simbol pertumbuhan, keteduhan, dan hubungan manusia dengan alam. Sementara Bali Asri menggambarkan keindahan serta keharmonisan yang menjadi ciri khas Pulau Bali. Melalui nama tersebut, Devi ingin menghadirkan produk yang mencerminkan kekayaan alam sekaligus nilai spiritual yang hidup dalam budaya Bali.
Pada masa awal berdiri, pemasaran dilakukan secara daring. Langkah itu dipilih karena mampu menjangkau pasar yang lebih luas tanpa harus memiliki banyak titik penjualan. Dengan tekad yang kuat, ia mulai memperkenalkan produknya kepada masyarakat dari berbagai daerah. Perlahan, Taru Bali Asri mendapatkan tempat di hati para pelanggan yang mencari dupa dengan karakter aroma yang berbeda.
Keunggulan utama produk Taru Bali Asri terletak pada penggunaan bahan herbal alami. Pemilihan bahan dilakukan dengan perhatian khusus agar menghasilkan aroma yang khas dan tidak mudah ditemukan pada produk sejenis. Keharuman yang tercipta terasa lebih lembut, alami, dan mampu menghadirkan pengalaman spiritual yang lebih mendalam. Karakter inilah yang kemudian menjadi identitas usaha yang dibangunnya.
Untuk menjaga kualitas produksi, Devi mendirikan pabrik dupa di Singaraja. Langkah tersebut menjadi bukti keseriusannya dalam mengembangkan usaha. Ia tidak hanya berfokus pada penjualan, tetapi juga memastikan setiap produk yang dihasilkan memenuhi standar yang diinginkan. Baginya, kualitas merupakan bentuk penghormatan kepada pelanggan yang telah memberikan kepercayaan.
Seiring berkembangnya usaha, Devi terus memikirkan berbagai inovasi. Salah satu rencana yang sedang dipersiapkan adalah pengembangan produk minyak balur berbahan alami. Inovasi ini menjadi bagian dari visinya untuk menghadirkan lebih banyak produk yang selaras dengan konsep kesehatan, kenyamanan, dan keseimbangan hidup.
Perjalanan hidupnya kembali diuji ketika sang suami berpulang pada tahun 2024. Kehilangan tersebut menjadi masa yang berat, namun tidak menghentikan langkahnya. Pada tahun berikutnya, ia harus membagi perhatian antara mengembangkan Taru Bali Asri dan melanjutkan perjuangan sang suami di dunia pendidikan. Hingga kini, ia dipercaya sebagai komisaris di Monarch Global Hospitality College serta menjadi pengawas Yayasan Widhi Sastra Nugraha.
Selain mengelola berbagai tanggung jawab tersebut, dan di antara berbagai aktivitas yang dijalani, Taru Bali Asri tetap menjadi karya yang paling dekat dengan jati dirinya. Melalui usaha itulah ia merangkai keyakinan, pengalaman, dan kecintaannya pada nilai spiritual menjadi sebuah produk yang membawa aroma, ketenangan, serta makna bagi banyak orang.