Jejak Mimpi dari Ombak Menuju Puncak Tebing Bingin

Riuh ombak yang berkejaran dengan angin laut seolah menjadi saksi awal perjalanan seorang anak yang tumbuh dengan kedekatan yang begitu alami terhadap pantai. Dari hamparan pasir dan debur gelombang itulah karakter I Made Swastika perlahan terbentuk, menghadirkan ketekunan yang tidak banyak terlihat dari luar, namun kuat berakar di dalam dirinya. Lahir di Pecatu pada tahun 1992, Made tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana dengan ayah yang bekerja sebagai pekerja dj konveksi dan ibu yang menekuni profesi sebagai therapist massage di pantai. Ia merupakan anak terakhir dari dua bersaudara yang sejak kecil sudah terbiasa melihat kerja keras sebagai bagian dari kehidupan sehari hari.

Masa kecilnya berjalan selaras dengan alam sekitar. Sejak mengawali pendidikan di bangku Sekolah Dasar, waktu luangnya hampir selalu dihabiskan di pantai. Kebiasaan itu bukan sekadar bermain, melainkan menjadi ruang belajar yang membentuk rasa tanggung jawab dan kemandirian. Ia gemar berselancar sejak usia dini, menikmati setiap momen bersentuhan dengan ombak, sekaligus ikut membantu menyewakan papan selancar kepada wisatawan. Aktivitas tersebut membuatnya mengenal dunia pariwisata secara alami, bahkan sebelum benar-benar memahami konsep usaha secara formal.

Setelah menamatkan pendidikan dasar, Made melanjutkan ke SMP Ngurah Rai. Pada masa ini, semangatnya untuk tetap dekat dengan pantai tidak pernah pudar. Sepulang sekolah, langkahnya hampir selalu kembali menuju garis pantai, baik untuk bermain, berselancar, maupun membantu aktivitas kecil yang berkaitan dengan wisatawan. Lingkungan yang dinamis di kawasan pantai perlahan membuka wawasannya tentang peluang yang tersembunyi di balik keramaian turis yang datang silih berganti.

Perjalanan pendidikannya berlanjut ke SMA Kuta Pura. Pada fase remaja inilah cita-cita menjadi seorang pengusaha mulai tumbuh dengan lebih jelas. Ia tidak hanya melihat pantai sebagai tempat bermain, melainkan sebagai ruang kehidupan yang menyimpan potensi besar. Tahun 2008 menjadi titik penting dalam hidupnya ketika ayahnya membangun Romeo Beachfront Villa yang saat itu hanya memiliki empat kamar. Sejak awal pembangunan, Made sudah dilibatkan untuk membantu mengelola operasional vila tersebut. Keterlibatan ini memberinya pengalaman langsung tentang pelayanan, manajemen sederhana, hingga cara berinteraksi dengan tamu dari berbagai negara.

Selepas menyelesaikan pendidikan SMA selama tiga tahun, Made melanjutkan pendidikan ke Universitas Warmadewa dengan mengambil jurusan ekonomi. Pilihan tersebut selaras dengan mimpinya untuk menjadi pengusaha. Selama masa kuliah, ia tidak hanya fokus pada teori di ruang kelas. Ia mengisi waktu di luar perkuliahan dengan bekerja sebagai guide, sebuah pengalaman yang memperkaya kemampuannya dalam berkomunikasi, memahami karakter wisatawan, serta melihat kebutuhan pasar secara lebih nyata. Aktivitas tersebut sekaligus memperluas jaringan dan menambah kepercayaan dirinya dalam dunia pariwisata.

Tahun 2016 menjadi fase baru dalam kehidupan pribadinya ketika ia memutuskan untuk menikah. Sebelum benar benar mengembangkan Romeo Beachfront Villa sebagai private villa yang lebih matang, Made sudah memiliki usaha lebih dahulu. The Surf Bingin Beach lahir dari kerja sama dengan salah satu tamu turis yang pernah menginap di vilanya. Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa relasi yang dibangun dengan tulus mampu berkembang menjadi peluang usaha yang berkelanjutan. Ia tidak hanya mengandalkan keberuntungan, melainkan memanfaatkan pengalaman lapangan yang telah ia kumpulkan sejak remaja.

Seiring berjalannya waktu, Romeo Beachfront Villa berkembang secara signifikan. Dari yang awalnya hanya empat kamar, kini keseluruhan properti tersebut telah memiliki satu unit private villa dan delapan kamar bungalows. Lokasinya yang berada di atas tebing dengan pemandangan langsung ke Pantai Bingin menjadikannya sangat diminati oleh wisatawan yang mencari ketenangan sekaligus keindahan alam yang eksklusif. Keunggulan view privat beach dari atas tebing memberikan pengalaman berbeda yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.

Peran Made dalam mengelola Romeo Beachfront Villa tidak hanya sebatas operasional harian. Ia memahami bahwa sebuah usaha akomodasi tidak hanya menjual tempat menginap, melainkan menghadirkan pengalaman. Latar belakangnya yang sejak kecil akrab dengan wisatawan membuatnya peka terhadap detail pelayanan. Ia belajar membaca kebutuhan tamu, menciptakan suasana yang hangat, serta menjaga kualitas pelayanan agar tetap konsisten di tengah perkembangan usaha yang semakin pesat.

Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa proses panjang yang dijalani sejak kecil di lingkungan pantai bukanlah kebetulan semata. Setiap fase kehidupan, mulai dari membantu menyewakan papan surfing, terlibat dalam operasional villa sejak muda, hingga bekerja sebagai guide, menjadi potongan pengalaman yang saling terhubung dan membentuk fondasi kuat bagi langkahnya sebagai pengusaha di bidang hospitality.

Kini, ketika melihat Romeo Beachfront Villa berdiri dengan pesona yang memikat di atas tebing Bingin, perjalanan Made terasa seperti rangkaian cerita yang tumbuh perlahan tanpa pernah dipaksakan. Ia melangkah dengan ritme yang tenang, tetap menjaga nilai kerja keras yang diwarisi dari keluarga, serta terus merawat mimpi yang dahulu lahir dari kedekatannya dengan ombak dan pantai. Bagi Made, usaha bukan sekadar pencapaian, melainkan perjalanan hidup yang dijalani dengan kesadaran, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap langkah kecil yang ditekuni dengan tulus akan menemukan jalannya menuju masa depan yang lebih luas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!