Merintis dengan Hati, Menjaga dengan Konsistensi

Bermula dari sebuah keyakinan sederhana, setiap tantangan selalu menyimpan kesempatan bagi mereka yang mau terus belajar. Semangat itulah yang mengiringi perjalanan Luh Putu Heryana Pusparini hingga berhasil membangun sebuah merek camilan yang lahir dari keberanian melihat peluang di tengah keadaan yang tidak menentu.

Luh Putu Heryana Pusparini atau yang akrab disapa Heryana telah memiliki cita-cita menjadi seorang guru sejak masih kecil. Setelah menyelesaikan pendidikan, impian itu akhirnya terwujud ketika ia mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik. Kesibukan mengajar tidak membuatnya berhenti mencari pengalaman baru. Sejak tahun 2016, ia juga menjalankan usaha homemade wedges yang dikelolanya hingga tahun 2021. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga untuk memahami proses produksi, pemasaran, hingga melayani pelanggan.

Awal mula Krilazz lahir, berangkat dari kondisi yang mengalami kesulitan ekonomi saat pandemi Covid-19. Mertua kemudian memberikan ide untuk membuat keripik talas. Kebetulan Heryana memang menyukai talas, tetapi keripik talas yang beredar di pasaran saat itu menurutnya masih kurang renyah, terlalu berminyak, dan banyak menggunakan penyedap rasa. Dari situlah lahir keripik talas yang dibuat tanpa tambahan penyedap rasa. Saat itu diberi nama Keripik Keladi Bu Marni Lah Jaen lalu kemudian berkembang menjadi Krilazz Lah Jaen. Nama Lah Jaen berasal dari ungkapan dalam bahasa Bali yang memiliki makna sangat enak, sedangkan nama Krilazz dipilih sebagai identitas baru yang lebih ringkas, modern, dan mudah dikenali oleh pasar yang lebih luas. Suami yang awalnya ragu dengan peluang ini, akhirnya mendukung penuh atas keputusan untuk Heryana berhenti menjadi guru dan fokus di usaha. Baginya, tanpa dukungan suami, perjalan Krilazz belum tentu sebaik saat ini.

Pada masa awal merintis usaha, Heryana menawarkan produknya dengan menitipkan keripik ke berbagai warung. Langkah kecil tersebut membuka jalan menuju kesempatan yang lebih besar. Ia aktif bergabung dalam HIPMI dan mengikuti berbagai pelatihan UMKM yang diselenggarakan Bank Indonesia. Pengalaman itu memperluas wawasan sekaligus mempertemukannya dengan banyak pihak hingga produknya memperoleh kesempatan mengikuti program pembinaan bersama Pertamina dan PLN.

Semangat berinovasi terus terlihat melalui pengembangan cita rasa produknya. Varian pedas manis lahir setelah ia mempelajari berbagai teknik melalui Youtube. Rasa bumbu Bali tercipta sebagai jawaban atas tantangan pasar ketika beberapa pelanggan mulai memproduksi keripik sendiri. Varian original menjadi produk paling diminati berkat masukan para pembeli, sedangkan rasa bawang merupakan hasil eksplorasi resep yang ia kembangkan secara mandiri.

Kini, Heryana menghadirkan tiga kategori produk dengan kemasan yang disesuaikan untuk setiap segmen pasar. Krilazz menjadi lini premium yang dipasarkan ke hotel, Kriukzz ditujukan bagi rumah makan dan restoran, sementara Gagapan disiapkan untuk kebutuhan acara rumahan. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan bukan sekadar lahir dari sebuah ide, melainkan dari keberanian mengambil peluang, kemauan belajar tanpa henti, serta konsistensi menjaga kualitas dalam setiap proses yang dijalani.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!