Menyatukan Cinta, Keberanian, dan Semangat Berwirausaha
Ada pengusaha yang menemukan dunia bisnis setelah dewasa, tetapi ada pula yang mengenalnya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Bagi Made Agus Risaldi, aktivitas berjualan bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Kebiasaan membantu sang ibu berdagang sejak kecil justru menjadi pengalaman sederhana yang perlahan membentuk cara pandangnya dalam melihat peluang. Bersama Ni Komang Peby Darmayanthi, pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi perjalanan membangun berbagai usaha yang kini bernaung di bawah Pars Ritual Bali dan Pars Cafe Bali.
Made Agus Risaldi dan Ni Komang Peby Darmayanthi merupakan pasangan entrepreneur asal Badung yang sama sama lahir pada 1995. Keduanya memiliki latar belakang berbeda, tetapi dipertemukan oleh ketertarikan yang sama terhadap dunia usaha. Sejak kecil, Agus sudah terbiasa membantu ibunya berjualan di bidang grosir. Awalnya, aktivitas tersebut dilakukan untuk mendapatkan tambahan uang jajan. Namun, tanpa disadari, rutinitas itu menanamkan pola pikir bisnis yang terus terbawa hingga dewasa.
Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Agus semakin menikmati aktivitas berdagang yang ia jalani. Ketertarikannya terhadap dunia usaha bahkan memengaruhi pilihan pendidikannya. Saat duduk di bangku kuliah, ia lulus tes tulis di S1 Hukum Universitas Udayana, tetapi kemudian di semester 3 memutuskan pindah ke S1 Hukum Universitas Mahasaraswati karena jadwal perkuliahannya lebih fleksibel. Pilihan tersebut membuatnya memiliki ruang lebih luas agar tetap bisa menjalankan aktivitas usaha sembari menyelesaikan pendidikan. Perjalanan akademiknya berlanjut hingga ia menyelesaikan S2 Magister Kenotariatan di Universitas Warmadewa pada tahun 2025. Sementara itu, Peby menempuh pendidikan S1 Jurusan Psikologi di Universitas Udayana. Pertemuannya dengan Agus kemudian memperkenalkan dirinya lebih jauh pada dunia bisnis. Peby mulai aktif membantu berbagai kegiatan penjualan yang mereka jalankan bersama. Hubungan yang awalnya berkembang secara personal perlahan menjadi kolaborasi dalam membangun usaha.
Sebelum memiliki Pars, keduanya sudah beberapa kali mencoba berbagai peluang. Mereka pernah menjalankan bisnis online yang menjual aksesori ponsel. Ketika pandemi Covid 19 membawa perubahan besar pada pola konsumsi masyarakat, Agus dan Peby kembali beradaptasi dengan menjual paket sembako secara online. Pengalaman tersebut mengajarkan mereka bahwa menjalankan bisnis membutuhkan kemampuan membaca kebutuhan pasar sekaligus keberanian untuk mengubah strategi ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Setelah empat tahun saling mengenal, keduanya memutuskan menikah pada tahun 2016. Kehidupan sebagai pasangan kemudian berjalan beriringan dengan perjalanan mereka sebagai entrepreneur. Setiap pengalaman yang dilalui menjadi bekal untuk mengambil keputusan bisnis berikutnya.
Babak baru dimulai pada tahun 2025 ketika mereka memiliki rencana membuka kedai kopi. Pada awalnya, mereka mempertimbangkan konsep franchise. Namun, perbedaan visi dan misi membuat rencana tersebut tidak dilanjutkan. Ruko yang semula hendak disewakan akhirnya dipandang sebagai peluang untuk membangun bisnis sendiri. Keputusan itu melahirkan Pars Cafe Bali yang hadir berdampingan dengan Pars Ritual Bali, sebuah brand yang menaungi layanan kecantikan.
Pars Ritual Bali lebih dahulu beroperasi pada Desember 2025 melalui studio nails. Pada tahap awal, layanan tersebut menyasar pelanggan asing sebelum kemudian semakin dikenal oleh pasar lokal. Saat ini, layanan yang tersedia meliputi nail treatment, eyelash, dan brow. Bagi Agus dan Peby, membangun bisnis bukan sekadar mengejar pertumbuhan penjualan. Mereka ingin mengembangkan brand dan portofolio secara bertahap sehingga setiap lini memiliki karakter serta potensi untuk berkembang.
Dalam perjalanan awal Pars Cafe Bali, mereka sempat menghadapi kendala berupa minimnya informasi mengenai keberadaan kafe. Sebagian orang mengira kafe tersebut merupakan bagian dari studio nails sehingga identitasnya belum mudah dikenali. Kondisi itu menjadi bahan evaluasi. Setelah melakukan sejumlah perbaikan, kafe kini lebih mudah dipahami sebagai bagian dari bisnis yang mereka kembangkan. Salah satu menu andalan Pars Cafe Bali adalah ayam bumbu yang menghadirkan cita rasa khas melalui perpaduan bumbu Indonesia. Pilihan menu tersebut menjadi bagian dari upaya mereka menghadirkan identitas yang dekat dengan selera masyarakat.
Bagi Agus dan Peby, perjalanan membangun bisnis merupakan proses panjang yang berawal dari hal sederhana. Kebiasaan Agus membantu ibunya berjualan sejak sekolah dasar menjadi fondasi yang kemudian membawanya mengenal berbagai sisi dunia usaha. Peby pun hadir sebagai partner yang ikut memperkuat perjalanan tersebut melalui berbagai pengalaman dan keputusan bersama.
Kini, keduanya memiliki harapan agar Pars Ritual Bali dan Pars Cafe Bali terus berkembang melalui inovasi yang konsisten. Setiap lini bisnis ingin mereka bangun dengan lebih matang, sekaligus memberikan manfaat bagi lebih banyak orang. Dari pengalaman berjualan sejak kecil, mencoba bisnis online, melewati masa pandemi, hingga membangun brand sendiri, Agus dan Peby menunjukkan bahwa sebuah bisnis dapat tumbuh ketika keberanian mengambil peluang berjalan bersama kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.