Menjawab Ketidakpastian dengan Pengabdian
Pandemi Covid-19 pernah menjadi masa penuh ketidakpastian. Di saat banyak usaha berhenti bernapas, apotek justru menjadi tempat masyarakat menggantungkan harapan akan kesehatan dan rasa aman. Dari situ, lahirlah tekad untuk hadir lebih kuat. Bersama Tritama Group, langkah kecil yang dulu hanya bermula dari satu apotek, kini berkembang menjadi 12 apotek di berbagai sudut Bali. Setiap cabang bukan hanya tentang bisnis, melainkan tentang komitmen untuk melayani, beradaptasi, dan ikut menolong sesama pemilik apotek agar bangkit kembali.
Secara akademis, sejak SD Yogi termasuk siswa yang banyak prestasi. Ia selalu meraih ranking 3 besar dan mengikuti berbagai perlombaan hingga pernah mewakili sekolah dalam kompetisi murid teladan antar sekolah. Berbagai prestasi tersebut membawanya masuk ke SMPN 1 Denpasar melalui seleksi yang ketat. Di lingkungan baru yang penuh siswa berprestasi, ia belajar beradaptasi dan aktif dalam organisasi. Memasuki masa SMA, Yogi melanjutkan ke sekolah favorit yaitu SMAN 4 Denpasar, sekolah dengan sistem belajar pagi-sore yang terkenal disiplin. Di sinilah sisi sosialnya semakin berkembang. Ia ikut dalam sebuah kelompok organisasi bernama BCC bersama teman-temannya yang memberi warna tersendiri dalam masa remajanya.
Singkat cerita, lulus dari pendidikan farmasi di tingkat universitas, Yogi sudah lebih dulu terjun ke dunia kerja di apotek milik BUMN, yaitu Kimia Farma ByPass Sanur. Di sana ia mengawali perjalanannya sebagai apoteker pendamping. Selama setahun penuh ia belajar banyak hal, mulai dari detail teknis hingga cara melayani pasien dengan sabar. Kerja keras dan ketekunannya tidak sia-sia. Saat Kimia Farma membuka cabang baru di Jalan Danau Tamblingan, Yogi justru dipercaya untuk mengelola apotek itu dari nol. Dari sinilah ia benar-benar belajar apa artinya membangun dan mengelola sebuah apotek secara menyeluruh, dari hal paling kecil hingga keputusan besar. Dua tahun ia mengabdikan diri di sana, benar-benar merasakan jatuh bangun sebagai praktisi yang mengelola apotek sehari-hari. Bahkan di tengah kesibukannya, Yogi sempat mencoba pengalaman baru dengan seorang teman untuk membuka apotek bersama. Dalam kerja sama itu, Yogi mengambil peran sebagai investor, sementara temannya yang mengurus operasional. Pengalaman ini menambah warna perjalanan awalnya, sekaligus menanamkan keyakinan bahwa ia memiliki panggilan kuat di dunia farmasi. Kerja sama dengan temannya ternyata tidak berjalan mulus. Setiap bulan laporan keuangan menunjukkan angka minus, hingga akhirnya sang teman menyerahkan pengelolaan sepenuhnya kepada Yogi. Ia pun berhenti bekerja di Kimia Farma dan mengambil alih bisnis tersebut dengan penuh tanggung jawab, sekaligus menjadikannya sebagai tantangan untuk membuktikan diri.
Tahun 2019, Yogi memutuskan untuk memindahkan apotek tersebut ke lokasi baru di Jalan Wr. Supratman, tepat di depan RS Dharma Yadnya yang saat ini bernama Apotek Pratama Medika. Keputusan ini terbukti tepat. Perlahan, apotek mulai menunjukkan perkembangan positif, omzet meningkat, dan kepercayaan pelanggan semakin kuat. Dari titik balik inilah semangat Yogi semakin berkobar. Ia menemukan cara dan ritme yang sesuai dengan gaya kepemimpinannya. Kesuksesan di Apotek Pratama Medika menjadi pijakan untuk melahirkan cabang-cabang baru.
Selain mengelola apotek, Yogi juga terlibat dalam bisnis penyedia aplikasi pengelolaan stok obat yang bernama Trivot, hasil kolaborasi bersama temannya yang bernama Ngurah Adi dari Pharmapp pada tahun 2022. Saat ini aplikasi Trivot sudah di gunakan lebih dari 80 apotek di Bali.
Dalam perjalanan menjalankan bisnis di dunia farmasi memberinya pengalaman berharga tentang bagaimana membangun bisnis bersama orang lain, berbagai risiko sekaligus merajut kepercayaan. Namun, Yogi merasa dirinya tidak ingin berhenti hanya sebagai pemilik saham. Ia punya kerinduan untuk membangun sesuatu yang lebih nyata, sesuatu yang lahir dari tangannya sendiri. Berawal dari pengalamannya mengelola apotek, kemudian membuka cabang di Nangka Utara dan Dalung, ia melihat peluang yang lebih luas, banyak apotek sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi kurang terkelola dengan baik. Dari sanalah, pada tahun 2024 terlahir Tritama Group, sebuah perusahaan manajemen apotek di Bali. Fokus utamanya adalah mengambil alih dan membangkitkan apotek-apotek yang kurang performa, lalu menatanya kembali agar bisa sehat secara bisnis sekaligus memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat.
Di Tritama Group, Yogi memegang peran sebagai Direktur Utama bersama beberapa direktur terkait operasional yang merupakan teman-teman yang sudah ia percaya sejak lama. Skema bisnis yang mereka jalankan pun sederhana dan efektif. Hasil yang didapat berasal dari fee management, bukan semata-mata dari jual beli obat. Salah satu contoh keberhasilan sistem ini adalah Apotek Grand Medica di Pulau Bungin. Di sana, Yogi dan tim berhasil membenahi manajemen yang sebelumnya kurang tertata, hingga akhirnya apotek bisa berjalan stabil dan dipercaya masyarakat. Keberhasilan itu membuat nama Tritama Grup semakin dikenal, bukan karena iklan besar-besaran, melainkan lewat cerita dari mulut ke mulut. Bagi Yogi, kepercayaan yang tumbuh secara alami jauh lebih bernilai dibanding promosi dengan biaya besar. Setiap kali ada apotek yang berhasil dibangkitkan, para pemilik apotek lain pun mulai mendengar, lalu datang meminta bantuan. Dari situlah jaringan Tritama Grup terus meluas, berawal dari niat sederhana untuk menolong, lalu berkembang menjadi gerakan bisnis yang memberi dampak nyata. Tidak hanya sekadar memperbanyak jumlah, Yogi juga mulai memikirkan konsep berbeda untuk setiap cabang, agar mampu menyesuaikan kebutuhan pasien dan karakter lingkungan di sekitarnya. Tahun 2025 menjadi momen penting setelah melalui berbagai pengalaman jatuh bangun, Yogi akhirnya merasa telah menemukan karakter manajemen bisnisnya sendiri. Dengan bendera apotek APT+, ia sudah berhasil membuka dua cabang.
Setiap pertambahan cabang tentu membawa tantangan baru. Yogi menyadari bahwa mengelola satu apotek tidak sama dengan mengelola banyak cabang sekaligus. Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di cabang pertama belum tentu bisa diterapkan sepenuhnya di cabang berikutnya. Begitu pula dengan kebijakan, selalu ada penyesuaian yang harus dilakukan sesuai dengan karakter lokasi, tim, maupun kebutuhan pasien. Ia belajar bahwa tidak ada resep tunggal untuk semua. Setiap cabang punya dinamika sendiri, dan tugasnya adalah memastikan semua tetap berjalan dalam satu visi, meski dengan cara yang berbeda-beda.
Di bawah bendera Tritama Group yang dibangun Yogi, saat ini terdapat kurang lebih 60 karyawan yang bekerja bersama menjadi bagian dari perjalanan ini. Melihat mereka bekerja dengan semangat, Yogi merasa bukan hanya sedang membangun bisnis, tetapi juga sedang menumbuhkan sebuah keluarga besar. Setiap cabang, investor, karyawan dan customer menjadi bagian dari cerita yang membentuk dirinya hari ini.