Ketika Pengalaman Menjadi Modal, Perjalanan Ko Aby Membangun Bisnis

Ada masa ketika sebuah mimpi belum memiliki bentuk, sementara hidup menuntut seseorang untuk terus berjalan. Bagi Ko Aby, perjalanan menuju dunia usaha tidak lahir dari kemudahan. Ia tumbuh dari keberanian mengambil kesempatan, bekerja sejak muda, dan kesediaan memulai sesuatu dari bawah. Kini, namanya dikenal sebagai Owner Management Brother Group, usaha yang memperlihatkan bagaimana pengalaman panjang membentuk cara pandangnya dalam membaca peluang.

Lahir di Medan, Ko Aby melewati masa muda yang keras. Semasa SMA, ia sudah terbiasa membagi waktu antara pendidikan dan pekerjaan. Ketika sebagian anak seusianya menikmati masa sekolah, ia memilih berjualan kaset untuk membantu membiayai pendidikan sekaligus kebutuhan hidup. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran awal bahwa hasil tidak datang hanya karena keinginan.

Selepas sekolah, langkah Ko Aby berlanjut ke pasar tradisional di Medan. Ia mengawali usaha dengan menjual apel, pir, dan anggur. Perlahan, pilihan buah yang dijual semakin beragam. Dari penjualan eceran, usahanya berkembang hingga menyentuh pasar grosir. Selama sekitar dua tahun, ia menjalani rutinitas tersebut dan mengenal langsung bagaimana sebuah usaha bergerak dari transaksi sederhana, menjaga pelanggan, mengatur barang, sampai memahami pentingnya perputaran modal. Pasar menjadi ruang belajar yang nyata bagi Ko Aby sebelum ia memasuki bidang usaha yang lebih besar.

Tahun 2014 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan bisnisnya. Ko Aby mendirikan usaha refleksi kaki ketika bisnis spa dan massage belum seramai sekarang. Ia melihat peluang ketika pasar belum terlalu padat, kemudian membangun layanan yang mampu berkembang dengan cepat. Pertumbuhan tersebut membawanya membuka cabang di sejumlah daerah, termasuk Medan, Pekanbaru, Bali, dan Surabaya. Pengalaman ini memperluas pemahamannya mengenai pengelolaan usaha, terutama bagaimana menjaga kualitas layanan, membangun tim, dan menghadirkan konsep yang dapat diterima di berbagai daerah.

Setelah bertahun-tahun mengembangkan bisnis, Ko Aby mengambil keputusan untuk pindah ke Bali pada tahun 2021. Pulau tersebut kemudian menjadi panggung baru bagi perjalanan usahanya. Ia tidak datang hanya untuk menikmati suasana Bali. Naluri bisnis yang sudah terbentuk sejak muda membuatnya kembali melihat ruang untuk berkembang. Salah satu langkahnya adalah mendirikan Brother Club Bali di Jl. Raya Legian No. 36, Kuta. Tempat tersebut hadir sebagai usaha hiburan malam dengan musik, suasana pesta, dan pengalaman yang menyasar pengunjung lokal maupun wisatawan. Informasi publik mengenai Brother Club Bali menunjukkan tempat ini beroperasi hingga dini hari dan dikenal sebagai salah satu destinasi hiburan malam di kawasan Legian.

Bagi Ko Aby, membangun usaha tidak berhenti pada membuka pintu dan menunggu pelanggan datang. Sebuah bisnis harus memiliki energi, pelayanan, serta kemampuan untuk terus beradaptasi dengan karakter pasar. Brother Club Bali menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Kehadirannya di kawasan Legian menempatkan usaha itu pada salah satu kawasan yang sejak lama dikenal sebagai pusat aktivitas wisata dan hiburan Bali. Sejumlah sumber publik juga mencatat keberadaan musik dengan beragam genre serta suasana hiburan yang menjadi bagian dari pengalaman pengunjung.

Perjalanan Ko Aby di Bali juga mempertemukannya dengan dua sosok yang kemudian ia anggap sebagai keluarga, yaitu Nyoman dari Bali dan Edy Prasetyo dari Jawa Timur. Hubungan yang terbangun bukan sekadar relasi dalam dunia usaha. Kedekatan tersebut tumbuh menjadi persaudaraan yang hangat. Keduanya bahkan kemudian memiliki usaha properti sendiri. Bagi Ko Aby, jaringan pertemanan yang dibangun dengan kepercayaan memiliki nilai yang tidak kalah penting dibandingkan modal dalam bentuk materi.

Memasuki tahun 2026, I Nyoman Sudana atau akrab disapa Pak Man Bejo, seorang anggota DPRD Badung, besama saudaranya yakni Ko Aby, melakukan ekspansi usaha bersama melalui Brother Seafood Bali. Usaha kuliner yang berada di kawasan Pantai Kedonganan ini membawa konsep yang dekat dengan karakter pesisir Bali. Pengunjung dapat menikmati hidangan seafood sambil mendapatkan pemandangan matahari terbenam. Alaska King Crab menjadi salah satu menu andalan yang ditawarkan. Tempat tersebut juga dilengkapi fasilitas billiard dan live music, sehingga pengalaman bersantap dibuat lebih luas daripada sekadar menikmati makanan.

Kehadiran Brother Seafood Bali memperlihatkan kemampuan Ko Aby memanfaatkan karakter sebuah lokasi menjadi bagian dari pengalaman bisnis. Pantai Kedonganan memiliki identitas kuat sebagai kawasan kuliner seafood, sehingga tantangannya bukan sekadar membuka restoran, melainkan menciptakan alasan bagi pelanggan untuk memilih satu tempat dibandingkan tempat lain. Langkah tersebut membutuhkan perhatian terhadap menu, pelayanan, suasana, hiburan, dan kenyamanan pengunjung.

Perkembangan usaha Brother Seafood Bali juga terlihat dari kebutuhan terhadap berbagai tenaga kerja. Pada tahun 2026, sejumlah lowongan publik mencantumkan posisi seperti greeter, waitress, sales marketing, serta driver untuk usaha tersebut. Gambaran ini menunjukkan bahwa bisnis kuliner itu tidak berjalan sebagai usaha kecil yang dikelola secara sederhana, melainkan membutuhkan tim dengan fungsi yang beragam untuk mendukung operasional dan pelayanan.

Meski dunia usaha menjadi bagian besar dalam hidupnya, Ko Aby tidak melupakan pengalaman masa lalu. Justru pengalaman pernah berada dalam kondisi sulit membuatnya memiliki kepedulian terhadap orang lain. Ia aktif membantu pembangunan beberapa bagian di Pura Agung Besakih, sejumlah gereja dan masjid, serta mendirikan panti asuhan pribadi di Medan. Bagi Ko Aby, keberhasilan memiliki makna yang lebih luas ketika sebagian hasilnya dapat kembali dirasakan oleh masyarakat.

Brother Club Bali dan Brother Seafood Bali akhirnya bukan sekadar nama usaha. Keduanya menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang yang belajar memahami kehidupan melalui kerja keras. Dari Medan ia membawa ketangguhan, dari pasar ia mendapatkan pengalaman, dari berbagai cabang usaha ia belajar mengelola pertumbuhan, dan dari Bali ia menemukan ruang baru untuk memperluas langkah.

Kini, perjalanan Ko Aby masih terus berlangsung. Dunia usaha selalu berubah, begitu pula kebutuhan dan selera pasar. Namun satu hal yang tampaknya tetap menjadi pegangan adalah keberanian untuk memulai, kemauan untuk bekerja, dan keyakinan bahwa pengalaman sulit tidak harus menjadi batas. Justru dari masa-masa itulah seseorang dapat menemukan alasan untuk terus melangkah dan pada akhirnya membuka jalan bagi orang lain. Pesan Ko Aby untuk seluruh Gen Z yang ingin meraih kesuksesan: jauhi narkoba dan judi, selalu junjung tinggi kejujuran, bekerja keras dan pantang menyerah, serta jangan lupa berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Karena kesuksesan bukan hanya tentang usaha, tetapi juga tentang menjaga diri, memiliki integritas, dan senantiasa memohon petunjuk kepada Tuhan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!