Perempuan yang Menjahit Harapan dari Perjalanan Panjang
Lembaran hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika seseorang harus kehilangan lebih awal, belajar bertahan dalam keadaan sulit, lalu perlahan menemukan jalannya sendiri. Kisah itu tercermin dalam perjalanan Ni Nengah Andini Diantari, sosok perempuan asal Karangasem yang kini dikenal sebagai pemilik Harpa Kebaya Bali.
Andini lahir pada tahun 1990 di Karangasem. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dan mengawali pendidikan dasarnya di sekolah negeri. Masa kecilnya berubah ketika duduk di bangku kelas enam SD. Sang ibu meninggal dunia dan sejak saat itu ia dibesarkan oleh ayahnya. Kehilangan tersebut menjadi titik yang membentuk dirinya menjadi pribadi mandiri sejak usia muda.
Selepas sekolah dasar, Andini melanjutkan pendidikan di SMP Negeri. Pada masa itu ia mulai belajar membantu kebutuhan hidupnya sendiri dengan berjualan canang sepulang sekolah. Aktivitas sederhana tersebut menjadi awal dari semangat kerja keras yang terus tumbuh dalam dirinya. Ia memahami bahwa hidup tidak cukup hanya bergantung pada keadaan, melainkan harus diperjuangkan dengan usaha.
Setelah lulus SMP, Andini melanjutkan pendidikan di SMK Pandawa jurusan manajemen. Demi melanjutkan sekolah, ia merantau ke Denpasar dan berhasil memperoleh beasiswa. Kesempatan itu menjadi langkah besar dalam hidupnya. Selama tinggal bersama keluarga pamannya, ia menjalani hari-hari yang penuh kesibukan. Selain belajar di sekolah, Andini juga bekerja sepulang sekolah agar dapat memenuhi kebutuhan sehari hari.
Kehidupan tersebut membuatnya terbiasa menjalani rutinitas yang padat. Meski begitu, semangatnya untuk belajar dan berkembang tidak pernah surut. Setelah lulus SMK, Andini belum bisa langsung melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Ia memilih bekerja terlebih dahulu sebagai SPG susu selama satu tahun. Dari pekerjaan itu ia belajar menghadapi banyak orang sekaligus memahami bagaimana membangun komunikasi yang baik dengan pelanggan.
Keinginan untuk melanjutkan pendidikan akhirnya terwujud ketika ia berhasil masuk ke UNHI. Masa kuliah menjadi fase yang penuh perjuangan. Pada pagi hari ia bekerja sebagai SPG dan sorenya mengikuti perkuliahan. Ketika hari libur tiba, waktunya kembali digunakan untuk berjualan baju distro. Kesibukan itu dijalani tanpa keluhan karena ia percaya setiap proses akan membawa hasil di masa depan.
Dari aktivitas berjualan tersebut, Anhini bertemu dengan sosok yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Pada tahun 2013 ia memutuskan menikah. Sang suami bekerja sebagai pegawai asuransi dan menjadi sosok yang mendukung perjalanan hidup serta impiannya dalam membangun usaha sendiri.
Setelah menikah dan menyelesaikan pendidikan, Andini bersama suaminya mulai mencoba berjualan pakaian adat Bali. Keputusan itu lahir dari pengamatannya terhadap pasar. Saat itu banyak penjual hanya menawarkan kain kebaya, sedangkan kebaya jadi belum terlalu banyak tersedia. Dari sana ia melihat peluang yang bisa dikembangkan menjadi sebuah usaha.
Tahun 2017 menjadi awal berdirinya Harpa Kebaya Bali. Nama Harpa memiliki makna yang lekat dengan harmoni dan keindahan. Filosofi tersebut sejalan dengan kebaya yang identik dengan kelembutan dan keanggunan perempuan Bali. Bagi Andini, usaha ini bukan sekadar tempat berjualan pakaian adat, melainkan ruang untuk menjaga identitas budaya lokal agar tetap dicintai generasi muda.
Ia percaya kebaya bukan hanya busana, melainkan bagian dari warisan budaya Bali yang memiliki nilai dan makna mendalam. Karena itu, Andini membangun usahanya dengan keinginan untuk terus melestarikan budaya lokal Bali melalui desain kebaya yang elegan dan tetap mengikuti perkembangan zaman. Baginya, menjaga budaya dapat dilakukan melalui karya yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari hari.
Perjalanan membangun usaha tentu tidak mudah. Pada awal merintis, semuanya dilakukan secara perlahan bersama sang suami. Mereka belajar memahami selera pelanggan sekaligus menjaga kualitas produk yang dijual. Setelah dua tahun berjalan, sang suami akhirnya memutuskan fokus penuh mengembangkan usaha kebaya tersebut agar bisa tumbuh lebih besar.
Kerja keras mereka membuahkan hasil pada tahun 2020 ketika Harpa Kebaya Bali berhasil pindah ke toko yang lebih besar di kawasan Dalung. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa usaha yang dibangun dari ketekunan perlahan mulai berkembang.
Pada tahun yang sama pandemi datang dan mengubah banyak keadaan. Situasi tersebut membuat Andini harus berpikir cepat agar usaha tetap berjalan. Ia mencoba menjual masker, hand sanitizer, hingga dress rumah yang saat itu memiliki permintaan tinggi. Langkah itu membantu usahanya bertahan di tengah kondisi sulit. Bahkan dalam masa pandemi, ia tetap berusaha mempertahankan para pegawainya agar tetap memiliki pekerjaan.
Semangat Andini dalam membangun usaha terus berkembang hingga akhirnya pada tahun 2026 ia membuka cabang baru di kawasan Renon. Perjalanan panjang yang dimulai dari seorang gadis kecil di Karangasem kini telah tumbuh menjadi kisah tentang keteguhan hati dan keberanian mengejar mimpi. Andhini membuktikan bahwa setiap perjuangan yang dijalani dengan kesabaran akan menemukan jalannya menuju keberhasilan.