Sinar Ubud yang Tumbuh dari Jejak Masa Kecil
Langkah hidup kadang sudah diarahkan sejak usia belia, ketika pengalaman sederhana perlahan membentuk cara pandang dan keberanian mengambil keputusan. Suasana homestay yang hangat, suara tamu yang datang silih berganti, serta aroma masakan rumahan menjadi bagian dari memori awal Cokorda Gde Cahaya Putra Trisnu. Semua itu bukan sekadar kenangan masa kecil, melainkan fondasi yang menuntunnya memahami dunia akomodasi dengan cara yang alami.
Cokorda Gde Cahaya Putra Trisnu, yang akrab disapa Cokde Cahaya, lahir di Gianyar pada tahun 1992. Ia tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang orang tua yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil. Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, ia terbiasa memikul tanggung jawab sejak dini. Sejak usia dua tahun hingga masa SMP, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah kakeknya. Kakeknya memiliki homestay bernama Aji Lodge Bungalow, tempat ia belajar arti pelayanan tanpa pernah merasa sedang diajari.
Rutinitas masa kecilnya bukan hanya bermain. Ia dipercaya menyapu halaman, memotong rumput, hingga membantu menyiapkan kebutuhan tamu. Ia juga ikut terlibat membantu kakek dan neneknya memasak. Aktivitas itu membentuk kepekaan terhadap detail serta kesadaran bahwa kenyamanan tamu lahir dari perhatian kecil yang dilakukan dengan tulus. Lingkungan tersebut menanamkan naluri hospitality jauh sebelum ia memahami istilah bisnis.
Pendidikan dasarnya ia tempuh di SD Negeri 4 Peliatan. Selepas itu ia melanjutkan ke SMP Negeri 1 Ubud. Pada masa ini, keterlibatannya di homestay tetap berjalan. Sepulang sekolah, ia kembali membantu mengurus berbagai keperluan. Kebiasaan tersebut membuatnya terbiasa membagi waktu antara pendidikan dan tanggung jawab keluarga. Setelah lulus SMP, ia melanjutkan ke SMA Negeri 1 Ubud dan tetap mempertahankan ritme yang sama.
Keputusan penting hadir ketika ia memilih melanjutkan studi di Universitas Udayana jurusan Ekonomi Bisnis. Pendidikan ini memberinya sudut pandang baru tentang pengelolaan usaha, manajemen keuangan, serta strategi pengembangan bisnis. Ia lulus pada tahun 2014 dengan bekal teori yang memperkuat pengalaman praktik sejak kecil.
Setelah menyelesaikan kuliah, ia sempat bekerja di Permata Bank sebagai customer service selama satu tahun. Pengalaman di dunia perbankan membuka wawasannya tentang sistem keuangan, pelayanan profesional, serta pentingnya kepercayaan dalam hubungan dengan klien. Masa tersebut menjadi fase pembelajaran yang memperkaya perspektifnya sebelum terjun sepenuhnya ke usaha mandiri.
Tahun 2015 menjadi tonggak penting ketika Cokde Cahaya mendirikan Villa Ubud Sunshine. Berbekal keyakinan dan pengalaman panjang di dunia akomodasi, ia memulai dengan empat unit kamar. Langkah itu bukan sekadar membuka usaha, melainkan wujud dari mimpi yang telah lama tertanam. Dua tahun berselang, ia melakukan ekspansi dengan menambah lima unit kamar. Pertumbuhan tersebut menunjukkan respons positif dari pasar sekaligus keberaniannya mengambil keputusan strategis.
Perkembangan terus berlanjut pada tahun 2019 dengan penambahan satu unit kamar lagi. Total sepuluh unit kamar kini menjadi bagian dari Villa Ubud Sunshine. Tantangan besar muncul ketika pandemi melanda. Situasi yang tidak menentu menuntut ketahanan mental dan strategi adaptif. Pada masa itu ia membangun sebuah ruko di kawasan Teges Ubud sebagai bentuk diversifikasi usaha. Ketika kondisi mulai membaik pada tahun 2022, Villa Ubud Sunshine kembali beroperasi dan perlahan bangkit.
Selain mengelola vila, Cokde Cahaya juga bekerja sebagai pegawai di kecamatan dan telah menjalani peran tersebut selama sembilan tahun. Peran ini memperlihatkan kemampuannya menjaga keseimbangan antara tanggung jawab publik dan pengelolaan bisnis pribadi. Ia tetap terlibat dalam pengelolaan Aji Lodge Bungalow, melanjutkan warisan kakeknya dengan penuh rasa hormat.
Langkah investasinya tidak berhenti pada sektor properti. Ia bersama beberapa rekan mendirikan sebuah sekolah sebagai bentuk kontribusi pada dunia pendidikan. Keputusan ini mencerminkan pandangannya bahwa keberhasilan bukan hanya tentang pertumbuhan finansial, melainkan juga tentang dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Villa Ubud Sunshine hari ini berdiri sebagai representasi perjalanan panjangnya. Setiap kamar bukan hanya ruang menginap, melainkan cerminan nilai yang ia pegang sejak kecil tentang keramahan dan dedikasi. Cokde Cahaya memahami bahwa usaha yang bertahan lama lahir dari keterlibatan langsung pemiliknya. Ia terus memastikan standar pelayanan terjaga dan pengalaman tamu tetap menjadi prioritas.
Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil dapat menjadi kompas yang menuntun masa depan. Dari halaman homestay kakeknya hingga membangun vila yang berkembang, sinar itu tumbuh konsisten. Ia tidak sekadar mengejar pertumbuhan jumlah kamar, melainkan membangun reputasi yang berakar pada kepercayaan. Setiap keputusan diambil dengan pertimbangan matang, menggabungkan naluri yang terasah sejak kecil dan wawasan ekonomi yang ia pelajari di bangku kuliah. Komitmennya terlihat dalam cara ia menjaga kualitas, membangun relasi, serta membuka peluang baru melalui investasi dan pendidikan. Cokde Cahaya membuktikan bahwa ketekunan, pembelajaran, dan keberanian mengambil peluang mampu mengubah jejak sederhana menjadi kisah yang memberi arti lebih luas bagi lingkungan sekitarnya.