Ambisi Muda yang Membawa Agas ke Panggung Hukum
Bermula dari tekad sederhana untuk menjadi pribadi yang mandiri, IM Agastia Wija Prawira tumbuh dengan kebiasaan belajar yang kuat dan rasa ingin tahu terhadap banyak hal. Kebiasaan itu membawanya pada pemahaman bahwa setiap proses yang ia jalani memiliki peran penting dalam membentuk masa depannya. Dari kebiasaan kecil hingga pengalaman baru yang ia kejar, IM Agastia Wija Prawira mengasah dirinya menjadi sosok yang siap memasuki dunia hukum dengan penuh keyakinan. IM Agastia Wija Prawira yang akrab disapa Agas mengingat betapa ia sejak kecil selalu belajar memahami dunia lewat kesederhanaan, ketelitian dan rasa ingin tahu yang besar. Sejak masa kecilnya ia tumbuh dalam suasana rumah yang dipenuhi buku hukum, cerita kasus dan pengalaman sang ayah yang bekerja sebagai pengacara. Ia tidak pernah dipaksa untuk mengikuti jejak ayahnya, namun tanpa ia sadari benih minat terhadap hukum mulai tumbuh dari kesehariannya.
Agas lahir di Denpasar tahun 1996 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Ia berada dalam keluarga yang menghargai kerja keras. Sang ibu yang mengurus rumah tangga memberikan kedisiplinan dalam kehidupan sehari hari, sementara sang ayah menanamkan nilai tanggung jawab serta keberanian dalam menyelesaikan masalah. Lingkungan keluarga yang hangat menjadi landasan kuat bagi pembentukan karakter Agas.
Masa sekolah dasarnya ia jalani di SD Cipta Darma. Sejak awal ia sudah dikenal sebagai siswa yang tekun dan selalu berusaha memberikan hasil terbaik. Di luar jam sekolah ia mengikuti les privat akademik yang menambah pemahamannya terhadap berbagai mata pelajaran. Kebiasaan menabung yang diajarkan sejak dini membuatnya belajar mengatur keuangan, sebuah keterampilan yang kemudian sangat berguna saat ia mulai menekuni aktivitas bisnis pribadi.
Setelah lulus SD ia melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 3 Denpasar. Pada masa inilah ia mengenal hobi yang menjadi pelarian sekaligus sarana hiburannya hingga dewasa yaitu biliar. Ia menikmati ketenangan dan fokus yang dibutuhkan dalam permainan tersebut karena permainan itu mengajarkan strategi dan ketepatan, nilai yang ternyata sangat sejalan dengan karakter seorang pengacara.
Perjalanan akademiknya berlanjut ke SMA Negeri 7 Denpasar. Selama tiga tahun ia belajar banyak mengenai kemandirian serta kemampuan sosial. Interaksi dengan banyak teman membentuk kepekaannya terhadap berbagai persoalan yang muncul di lingkungan sekitar. Dari sinilah ia semakin memahami bahwa hukum bukan hanya tentang aturan tetapi juga tentang manusia.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, ia melangkah ke Universitas Udayana dengan memilih jurusan Hukum melalui program ekstensi. Dunia perkuliahan memberikan ruang baru bagi Agas untuk melihat hukum dari perspektif yang lebih luas. Ia mulai aktif dalam organisasi BEM yang mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan dan analisis. Ia lulus pada tahun 2019 dan memperoleh gelar sarjana hukum.
Pada masa ini ia mencoba hal hal baru lewat dunia usaha. Ia memulai bisnis penyewaan alat masak seperti pan dan kompor portable. Awalnya ia menyewakan peralatan tersebut kepada penjual yakiniku, lalu berkembang menjadi usaha yakiniku dengan sistem pre order. Bisnis itu ia jalankan dari 2019 sampai 2022. Pengalaman ini memberinya kemampuan membaca peluang sekaligus memahami bagaimana mengelola usaha dengan sistematis.
Tidak berhenti di sana, kecintaannya pada proses belajar membuatnya memutuskan melanjutkan pendidikan S2. Pada tahun 2020 ia mengambil program Magister Hukum di Universitas Pendidikan Nasional. Sambil berkuliah, ia banyak belajar dari ayahnya yang sering mengajaknya menangani pekerjaan kantor hukum. Ia mulai diberi tanggung jawab membuat gugatan serta tugas tugas hukum lain yang semakin mengasah profesionalismenya.
Sejak SMA, ia sebenarnya sudah memiliki gambaran tentang dunia hukum karena sering mendengar diskusi kasus di rumah. Namun pengalaman praktik bersama ayahnya memberikan pemahaman nyata tentang bagaimana hukum berjalan dalam kehidupan masyarakat. Ketelitian menjadi kunci, kerapian dokumen menjadi keharusan, keberanian menyampaikan argumentasi menjadi aspek penting. Semua nilai itu ia serap melalui proses panjang.
Tahun 2022, ia menyelesaikan pendidikan S2 sekaligus menyelesaikan sumpah dan pendidikan advokatnya sebelum usia 25 tahun. Langkah itu menandai awal perjalanan profesionalnya sebagai pengacara. Kasus pertama yang ia tangani sendiri adalah permohonan ganti nama. Meski terbilang sederhana, namun kasus itu memiliki nilai emosional tersendiri baginya karena menjadi pijakan awal dalam kariernya.
Keberanian mengambil langkah independen membuat Agas memutuskan membangun kantor hukumnya sendiri yang ia beri nama Law Office Agastia. Kantor ini lahir dari keyakinan bahwa seorang advokat tidak hanya menjadi pembela, melainkan jembatan bagi masyarakat untuk memperoleh keadilan. Ia membawa idealisme yang tumbuh sejak kecil. Ia bekerja dengan prinsip bahwa setiap perkara adalah amanah yang harus ditangani dengan integritas dan ketelitian.
Perjalanan Agas masih panjang, namun jejak yang ia tinggalkan sejak masa kecil hingga kini menunjukkan satu hal, bahwa ia tumbuh dengan kesadaran bahwa pembelajaran tidak pernah berhenti. Law Office Agastia bukan sekadar tempat berpraktik hukum, melainkan wujud perjalanan seorang pemuda yang percaya bahwa kesungguhan mampu membentuk masa depan. Kalimat yang sering ia pegang adalah bahwa setiap langkah kecil yang dikerjakan dengan hati akan membawa perubahan besar, dan melalui kantor hukumnya ia ingin menjadi bagian dari perubahan itu.