Tumbuh dari Kerja Keras yang Tak Pernah Berhenti
Pagi selalu datang membawa pilihan antara menyerah atau melangkah lebih jauh. Dari keputusan kecil yang diambil setiap hari, terbentuk jalan panjang yang menentukan arah hidup seseorang. Ketekunan yang lahir dari keterbatasan sering kali melahirkan kekuatan yang tidak mudah goyah. Dari ruang hidup sederhana, kerja keras yang dilakukan tanpa sorotan, tumbuh karakter yang kelak mampu menopang usaha besar. Perjalanan itu hidup dalam kisah Sumi dan Sunarta, dua pribadi yang membangun usaha bukan dari kemewahan, melainkan dari kesabaran dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Sumi lahir di Tuban pada tahun 1973. Ia tumbuh sebagai anak pertama dari enam bersaudara dalam keluarga yang menggantungkan hidup dari pekerjaan sebagai buruh tani. Kedua orang tuanya bekerja di sawah milik orang lain, menghadapi panas dan hujan demi memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Sejak kecil, Sumi sudah memahami bahwa hidup tidak pernah lepas dari kerja keras. Ia terbiasa melihat orang tuanya berangkat pagi dan pulang dengan tubuh lelah, namun tetap menyimpan harapan untuk masa depan anak-anaknya.
Masa kecil Sumi dihabiskan dengan keseharian yang penuh tanggung jawab. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah membantu menggembala sapi milik orang lain. Sepulang sekolah, ia lebih sering berada di sawah dibandingkan di rumah. Banyak waktu belajarnya dilakukan sambil menemani orang tua bekerja. Buku tulis dan pekerjaan rumah sekolah sering ia selesaikan di pematang sawah. Meski demikian, ia tidak pernah mengabaikan kewajibannya sebagai pelajar. Prestasi akademiknya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berusaha lebih baik. Dari kelas satu hingga kelas enam sekolah dasar, ia selalu meraih peringkat.
Setelah lulus dari sekolah dasar, Sumi melanjutkan pendidikan di salah satu SMP Negeri di daerah Tuban. Pola hidupnya tidak banyak berubah. Sekolah tetap menjadi prioritas, membantu orang tua tetap menjadi bagian dari keseharian. Ia belajar mengatur waktu dan tenaga, memahami bahwa setiap peran memiliki tanggung jawab masing masing. Disiplin yang terbentuk sejak usia muda menjadi fondasi kuat bagi langkah-langkah berikutnya.
Lulus dari SMP, Sumi melanjutkan pendidikan di SMK SMEA jurusan tata usaha. Di sana, wawasannya mulai terbuka pada dunia administrasi dan pengelolaan keuangan. Ia mempelajari pencatatan sederhana, dasar akuntansi, serta pentingnya ketelitian dalam mengelola administrasi. Pada masa ini pula, jiwa mandirinya semakin tumbuh. Ia mulai berjualan kue untuk menambah uang jajan dan memenuhi kebutuhan pribadinya. Dari aktivitas kecil tersebut, ia belajar tentang tanggung jawab, kejujuran, serta keberanian menawarkan hasil kerja kepada orang lain.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Sumi merantau ke Surabaya dan bekerja selama beberapa bulan. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada dunia kerja yang lebih luas. Tahun 1994, ia melanjutkan perjalanan ke Batam dan bekerja selama empat tahun di sebuah perusahaan distributor elektronik yang bergerak di bidang lampu. Di sana, ia belajar tentang ritme kerja industri dan pentingnya konsistensi. Ketika krisis moneter melanda Indonesia pada akhir 1998, ia memilih untuk mencari peluang baru. Awal tahun 1999, ia pindah ke Bali dan sempat bekerja sebagai penjaga wartel di daerah Tabanan.
Perjalanan karier Sumi menemukan titik penting pada tahun 2000. Ia diterima bekerja di sebuah perusahaan milik orang asing yang bergerak sebagai supplier sayur untuk hotel-hotel di Bali. Awalnya ia bertugas di bagian purchasing, kemudian merangkap marketing, hingga akhirnya dipercaya menjadi orang kepercayaan pemilik perusahaan. Selama sepuluh tahun bekerja di sana, ia menyerap banyak pelajaran tentang bisnis, manajemen, dan membangun relasi. Pengalaman itu membentuk cara pandangnya dalam menjalankan usaha secara profesional dan bertanggung jawab.
Sunarta lahir di Semarang pada tahun 1977. Kehidupan awalnya diwarnai kehilangan ketika ayahnya meninggal saat ia berusia empat tahun. Sejak itu, ia tinggal bersama kakek dan neneknya hingga lulus SMA, sementara ibunya merantau untuk bekerja. Kondisi tersebut menumbuhkan kemandirian dan ketangguhan dalam dirinya. Setelah lulus SMA, ia bekerja di Bondowoso di perusahaan sayur, lalu berpindah ke Ungaran selama enam bulan, dan kemudian ke Bogor. Di Bogor, ia bekerja di perusahaan pupuk pada bagian gudang, menjalani pekerjaan dengan penuh tanggung jawab.
Pertemuan Sunarta dan Sumi terjadi dalam konteks pekerjaan. Saat Sunarta ditugaskan mengirim barang ke Bali, ia datang ke gudang tempat Sumi bekerja. Dari interaksi kerja yang sederhana, tumbuh hubungan yang semakin erat. Tahun 2002, mereka memutuskan untuk menikah dan membangun kehidupan bersama dengan saling mendukung perjalanan masing-masing.

Tahun 2010 menjadi titik balik penting. Sumi memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan mencoba membangun usaha sendiri. Ia mulai berjualan sayur di pasar dengan modal keberanian dan pengalaman. Beberapa bulan menjalani usaha secara mandiri, ia bertemu seseorang yang memberikan kepercayaan dengan menitipkan sayur dalam jumlah besar untuk dijual kembali. Kepercayaan tersebut membuka jalan baru. Supplier lain mulai berdatangan, menitipkan berbagai jenis sayuran. Hampir setiap hari, seluruh dagangan berhasil terjual tanpa sisa. Usaha yang ia tekuni menunjukkan perkembangan yang konsisten.




Melihat potensi usaha yang semakin besar, pada tahun 2012 Sunarta memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan fokus membantu usaha yang dirintis bersama. Sejak saat itu, mereka membangun usaha dengan kerja sama yang solid hingga berdiri dengan nama UD Sumi. Usaha tersebut tumbuh dari kepercayaan, ketekunan, dan pengelolaan yang disiplin.

Perjalanan usaha yang dibangun Sumi dan Sunarta tidak berhenti ketika tantangan besar datang pada tahun 2020. Pandemi menjadi masa yang menguji keteguhan prinsip dan cara pandang mereka terhadap usaha yang telah dirintis bertahun-tahun. Penurunan penjualan terjadi, ritme kerja berubah, dan ketidakpastian menjadi bagian dari hari-hari yang harus dihadapi. Namun dalam kondisi tersebut, mereka memilih untuk tetap berdiri bersama orang-orang yang selama ini tumbuh bersama usaha. Tidak ada pengurangan karyawan, tidak ada keputusan tergesa yang mengorbankan nilai kemanusiaan. Perlahan, dengan kesabaran dan pengelolaan yang hati-hati, roda usaha terus dijaga agar tetap berputar. Ketika kondisi ekonomi mulai membaik pada tahun 2022, usaha kembali menemukan napasnya. Hingga hari ini, UD Sumi terus berkembang sebagai cerminan perjalanan panjang dua pribadi yang percaya bahwa usaha yang dibangun dengan ketulusan, konsistensi, dan tanggung jawab akan selalu menemukan jalannya untuk bertahan dan tumbuh.
