Jejak Rasa dari Dapur ke Destinasi Wisata

Ada sebuah kisah yang lahir tanpa gegap gempita, tumbuh dari kesunyian lembah Sidemen yang sejuk, terbungkus keheningan sawah hijau dengan jejak kecil penuh lumpur masa kecil. Di sanalah perjalanan seorang anak petani dimulai. Bukan dengan bekal emas atau gelar tinggi, tetapi hanya sebaris mimpi yang belum sempat ia pahami. Dari kaki gunung, dari rumah sederhana berlantai tanah, lahir tekad yang perlahan memberi bentuk pada masa depan yang kelak mendirikan Devani Resort Sidemen, destinasi yang bukan hanya sekadar tempat beristirahat, melainkan ruang untuk mengecap makna kerja, rasa, dan kesempatan.

Namanya adalah I Gusti Ngurah Kanca. Akrab dipanggil Kanca, Putra kedua dari lima bersaudara yang lahir di Sidemen, 21 Desember 1958. Kehidupan masa kecilnya berlangsung apa adanya. Tak selalu mudah, tak selalu jelas arah jalannya. Pendidikan yang semestinya menjadi gerbang luas dunia, terpaksa berhenti lebih cepat. Keputusan itu bukan tanpa beban. Ia menyimpannya seperti kerikil kecil di sepatu perjalanan panjang, kadang perih, kadang mengganggu, namun justru menjadi alasan untuk terus melangkah.

Peruntungan mulai bergerak ketika kakak sepupunya mengajaknya ke Santrian Beach Cottages. Di sana ia memulai babak baru. Bukan langsung berada di dapur besar penuh aroma rempah, bukan juga berada di ruang dingin penuh pujian. Ia mengawali hari hari dengan mencuci piring, membersihkan peralatan masak, menyiapkan bahan dan segala hal dasar yang sering kali luput dari perhatian tamu. Tetapi dari tempat itulah ia menyerap pelajaran yang diam diam menumbuhkan rasa ingin tahu mengenai dapur.

Suatu ketika ia berjumpa dengan sebuah buku memasak. Buku sederhana yang seharusnya bisa dibaca ringan oleh banyak orang, tetapi menjadi tantangan berat baginya. Keterbatasan literasi membuatnya merasa tertinggal. Saat itu penyesalan hadir seperti asap yang menyesakkan, ia merasa melewatkan kesempatan paling dasar dalam hidupnya. Namun justru di situlah titik balik terbentuk.

Daripada berhenti, ia memilih mengejar. Setelah mulai terbiasa membaca, ia pun bertekad untuk membeli buku bacaan dari sebagian gaji yang berhasil ia sisihkan. Tekadnya membulat ia tidak ingin selamanya merasa kalah. Semangat itu menjadi kayu bakar yang menghangatkan harapan pada masa depan.

Hingga akhirnya kesempatan besar datang pada tahun 1978. Ia dipercaya mengikuti pelatihan di BPLP Nusa Dua. Untuk seseorang yang dulu sempat meninggalkan bangku sekolah, kembali duduk di kelas adalah bab baru yang terasa asing sekaligus menggetarkan. Di sana ia belajar lebih dalam mengenai dunia perhotelan dan gastronomi. Dari ruang pelatihan itulah pintu lebih luas terbuka. Perjalanan kariernya meningkat hingga akhirnya ia dipercaya menjadi head kitchen di Santrian Beach Cottages di Sanur. Posisi yang dulu mungkin tak pernah ia bayangkan, terlebih mengingat awalnya ia hanya memegang kain lap dan setumpuk piring.

Pengalaman kerja membawanya ke berbagai tempat lain. Ia mengolah rasa, mengolah tim, mematangkan karakter dan mengasah cara pandangnya terhadap profesionalitas. Setiap dapur memiliki ceritanya sendiri, setiap rekan setim meninggalkan pelajaran, dan setiap tantangan memberi ruang baru untuk belajar. Semua itu berjalan hingga akhirnya usia membawa pada masa pensiun. Namun pensiun bagi sebagian orang hanyalah berhenti bekerja, sedangkan baginya berhenti bukan pilihan.

Restu waktu tiba di Juni 2025, ketika Devani Resort Sidemen berdiri. Tempat yang tidak hanya memanjakan mata dengan alam Sidemen yang mempesona, tetapi juga dirancang sebagai wadah tumbuhnya kesempatan bagi warga sekitar. Ia ingin pengalaman panjangnya bermakna lebih dari sekadar catatan perjalanan pribadi. Ia berharap Devani Resort bisa menjadi ruang belajar, tempat menemukan potensi diri, dan jembatan bagi siapapun yang ingin memperbaiki hidup melalui kerja keras.

Di sini juga lah terbentuk ruang eksplorasi gastronomi Indonesia, sebuah wadah untuk merayakan kekayaan rasa dari tanah sendiri. Bagi I Gusti Ngurah Kanca, makanan bukan hanya soal kenyang dan rupa, tetapi cerita, ingatan kolektif masa lalu, dan jati diri budaya. Ia ingin Devani Resort Sidemen menjadi halaman di mana generasi muda dapat menggali kuliner Nusantara dengan sudut pandang baru tanpa melupakan akar tradisinya.

Salah satu signature dish yang terkenal di Devani Resort Sidemen yakni Reshi Bhojana. Terinspirasi dari Panca Yadnya yang dilakukan di Bali, salah satunya Rsi Yadnya, hidangan ini menghormati para bijak yang membimbing dengan kebijaksanaan dan pengabdian. Reshi Bhojana disiapkan menggunakan bahan-bahan dari pegunungan, daratan, dan laut, melambangkan rasa syukur dan harmoni. Secara tradisional disajikan setelah upacara besar, kini hidangan ini menyambut Anda sebagai tamu kehormatan di Restoran Kecarum.

Perjalanan panjang dari anak petani yang sempat meninggalkan sekolah, hingga menjadi sosok yang membuka peluang bagi banyak orang, menunjukkan bahwa masa lalu bukan penghalang. Rasa sedih karena tak dapat membaca buku di masa kecil, berubah menjadi dorongan untuk menyediakan kesempatan belajar bagi orang lain. Tekadnya mengalir setenang sungai Sidemen, namun mengikis batu keraguan pelan pelan hingga habis.

Jika hari ini Devani Resort Sidemen menjadi tempat yang hangat dikunjungi, maka di balik itu terdapat satu perjalanan yang dirajut perlahan tanpa sorotan berlebihan. Cerita ini bukan kisah kemewahan yang tiba dalam semalam, melainkan kisah tentang kerja keras, keberanian menghadapi kekurangan, dan keteguhan untuk kembali belajar ketika banyak orang memilih menyerah.

Dari Sidemen ia lahir, dari Sidemen ia belajar, dan dari Sidemen ia membangun mimpi baru. Dalam diam lembah dan udara sejuk pagi hari, Devani Resort berdiri sebagai wujud rasa terima kasih pada tanah kelahiran dan bukti bahwa kesempatan besar terkadang berawal dari hal paling sederhana yang sering diabaikan. Dari selembar buku, dari segelas sabar, dari tekad yang tidak pernah letih mencari jalan pulang menuju mimpi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!