Dari Racikan Sederhana Menuju Merek Herbal Mendunia
Ada masa ketika sebuah usaha yang tampak kokoh justru diuji pada saat namanya sedang berada di puncak. Bagi Servesius Bambang Pranoto, yang akrab disapa Babe, ujian itu datang berlapis. Ia pernah bangkit dari kelumpuhan, membangun produk herbal yang dikenal luas, kehilangan pasangan hidup, lalu menghadapi pekerjaan besar untuk memulai babak baru bersama Riva Effrianti. Kisah mereka memperlihatkan bahwa perjalanan bisnis tidak selalu bergerak lurus. Kadang, jalan menuju pertumbuhan justru terbuka setelah seseorang berani membangun kembali dari keadaan yang paling sulit.
Babe lahir di Klaten. Titik balik hidupnya hadir setelah kecelakaan pada 2011 membuatnya mengalami kelumpuhan. Dalam masa pemulihan, ia menempuh perjalanan spiritual yang mengarahkannya untuk meracik minyak oles bagi dirinya sendiri. Ia mengumpulkan 49 bahan yang, menurut kisahnya, ditemukan dalam radius sekitar 50 meter dari tempat tinggalnya. Racikan tersebut kemudian menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya.
Pada 2013, Babe mulai memperkenalkan minyak racikannya dengan nama Kutus Kutus. Nama itu, menurut penuturannya, juga hadir melalui perjalanan spiritual. Usaha yang bermula dari pengalaman pribadi perlahan mendapat tempat di tengah masyarakat. Ketika permintaan meningkat, kegiatan meracik berkembang menjadi bisnis yang lebih terstruktur. PT Kutus Kutus resmi berdiri pada 2018, menandai tahap baru dalam perjalanan usaha yang sebelumnya berangkat dari ramuan sederhana.
Pertumbuhan penjualan membawa Kutus Kutus semakin dikenal. Bahkan, 2020 menjadi salah satu tahun terbaik bagi perusahaan, ketika pandemi mengubah kebiasaan masyarakat dan perhatian terhadap perawatan diri meningkat. Namun, di tengah perkembangan tersebut, Babe menghadapi kehilangan. Pada Agustus 2021, istrinya meninggal dunia. Di balik ekspansi usaha, ada kehidupan pribadi yang harus ia tata kembali.
Beberapa bulan setelahnya, sebuah pertemuan membuka arah baru. Pada Desember 2021, saat perayaan ulang tahun perusahaan, Babe bertemu Riva Effrianti. Riva memiliki pengalaman sekitar 25 tahun di bidang perbankan dan telah menggunakan Kutus Kutus sebelum pandemi. Ia datang ke acara itu dengan niat, menyampaikan terima kasih karena merasa produk tersebut membantunya melewati masa sulit selama pandemi. Saat pertemuan pertama itu berlangsung, Riva belum mengetahui keadaan perusahaan secara menyeluruh.

Pada Februari 2022, Babe dan Riva menikah. Setelah itu, Babe mengajak Riva bergabung dalam perusahaan. Pengalaman Riva di dunia perbankan memberinya bekal dalam membaca angka, menilai risiko, dan membangun tata kelola. Namun, tugas yang menantinya jauh lebih rumit daripada yang terlihat dari luar. Ketika mulai terlibat, ia menemukan bahwa kondisi perusahaan membutuhkan pembenahan serius, dengan jumlah utang yang nyaris menyamai saldo yang tersedia.
Perkenalan mereka berkembang cepat. Pada 2023, keduanya mengambil keputusan besar dengan memperkenalkan nama baru, Sanga Sanga. Perubahan ini bukan sekadar mengganti tulisan pada kemasan. Kutus Kutus telah melekat kuat di benak konsumen selama bertahun-tahun, sehingga membangun identitas baru berarti memulai proses pengenalan dari awal. Tantangannya bertambah karena beredarnya produk tiruan dan menurunnya kepercayaan sebagian konsumen terhadap nama lama. Babe dan Riva perlu menjelaskan bahwa racikan yang mereka kembangkan kini hadir melalui identitas baru, sementara produk bernama Kutus Kutus yang beredar tidak semuanya berasal dari perusahaan mereka.

Di balik transformasi tersebut, ada sengketa merek yang melibatkan anak sambung Babe. Bagi Babe, persoalan ini menjadi luka pribadi karena ia merasa kepercayaan yang diberikan telah dikhianati. Bersama Riva Effrianti, ia memperjuangkan hak melalui jalur hukum, sembari membangun kembali usaha dengan identitas Sanga Sanga.
Perjuangan itu mencapai titik penting ketika Mahkamah Agung menolak permohonan peninjauan kembali pihak lawan melalui Putusan Nomor 29 PK/Pdt.Sus-HKI/2026, tanggal 31 Agustus 2026. Penolakan tersebut mengukuhkan kemenangan Bambang Pranoto bersama PT Kutus Kutus Herbal dalam perkara itu. Bagi keduanya, hasil ini menjadi penguat untuk terus berkarya dan membawa Sanga Sanga melangkah lebih jauh.

Riva mengambil peran penting dalam pemulihan bisnis. Ia melakukan audit keuangan di berbagai lini, mengganti sekitar 80 persen pemasok, serta membangun sistem digital untuk mencatat pengeluaran perusahaan. Ia ikut merapikan perencanaan produksi, strategi bisnis, dan pengelolaan sumber daya manusia. Pembenahan itu menuntut ketelitian dan konsistensi. Prosesnya bukan pekerjaan satu orang. Tim dan staf perusahaan turut menjalankan berbagai penyesuaian agar operasional menjadi lebih terukur.
Nama Sanga Sanga membawa pesan pembaruan. Dalam penjelasan yang dipublikasikan mengenai merek ini, kata sanga merujuk pada angka sembilan, sementara nama baru itu dimaknai sebagai langkah naik kelas setelah perjalanan satu dekade. Filosofi tersebut menghubungkan pengalaman masa lalu dengan ambisi untuk berkembang lebih jauh. Sanga Sanga bukan hanya upaya mempertahankan pelanggan lama, melainkan kesempatan untuk memperluas produk, mempertegas identitas, dan membangun kembali kepercayaan melalui kualitas serta tata kelola yang lebih kuat.
Perubahan itu diikuti pengembangan portofolio. Sanga Sanga menghadirkan varian Classic dan Ultimate, serta lini dengan aksara Bali pada kemasannya. Pada saat yang sama, upaya perlindungan merek dan pemenuhan persyaratan penjualan internasional menjadi bagian dari strategi pertumbuhan. Perusahaan juga mengembangkan 23 produk baru, termasuk minyak untuk mengatasi gatal dan produk perawatan kulit. Perusahaan menyebut produknya telah memperoleh perizinan untuk dipasarkan di 27 negara Uni Eropa dan membuka kantor di Belanda untuk membantu mengelola serta mengawasi penjualan internasional.
Jangkauan pasar di dalam negeri ikut diperluas melalui penjualan di toko dan apotek ternama. Seiring transformasi tersebut, Sanga Sanga meraih sejumlah penghargaan :
Rekor MURI Nomor 11629 Tahun 2024 : Kategori Logo Terbesar dari Kemasan Merek Jamu.
detikBali Awards 2025 – Anugerah Program Bisnis Terpuji : Kategori Inovator Produk Herbal Berkualitas dari Bali.
The Most Innovative Excellence Award 2025 : Penghargaan atas inovasi dan pengembangan Sanga Sanga.
The Best of The Best Usaha Kreatif dan Inovatif se-ASEAN: Pengakuan tingkat regional ASEAN atas kreativitas dan inovasi usaha Sanga Sanga.
Best Choice Brand Award 2026 – Regional Asia: Penghargaan atas kepercayaan masyarakat, kualitas produk, konsistensi produksi, dan komitmen Sanga Sanga dalam menghadirkan produk herbal berkualitas.
Superbrands Indonesia 2026: Kategori Produk Herbal.
Indonesia Best Employee Engagement 2026: Predikat Very Good, diterima oleh PT Kutus Kutus Herbal–Sanga Sanga Group dari SWA Media Group dan Business Digest.
CNBC Indonesia Awards 2026 – Best Healthcare: Sanga Sanga meraih predikat Best Herbal Wellness Brand
Pencapaian Internasional Sanga Sanga :
– Berpartisipasi sebagai delegasi produk herbal Indonesia dalam Sidang Umum WIPO di Jenewa, Swiss.
– Memperoleh sertifikasi CPNP Eropa untuk Sanga Sanga Classic dan Ultimate.
– Memperoleh perlindungan HAKI Sanga Sanga di 27 negara Uni Eropa.





Bagi Babe, ramuan herbal bukan sekadar barang yang dijual. Ia ingin Sanga Sanga dipandang sebagai karya yang lahir dari pengalaman, keyakinan, dan pengetahuan tentang bahan alam. Sementara itu, Riva membantu menerjemahkan visi tersebut menjadi sistem kerja dan strategi yang dapat dijalankan. Keduanya membawa kekuatan berbeda, satu bertumpu pada gagasan dan racikan, satu lagi pada pembenahan organisasi dan arah bisnis. Perjalanan mereka menunjukkan bahwa sebuah merek membutuhkan cerita, namun cerita saja tidak cukup tanpa kerja nyata.
Dari pengalaman jatuh sakit, kehilangan, persoalan keuangan, hingga perubahan identitas, perjalanan Babe dan Riva menyimpan satu pelajaran bahwa kesulitan tidak selalu menutup jalan. Ada kalanya, justru dari keadaan yang paling menekan, seseorang menemukan alasan untuk memperbaiki arah dan membangun sesuatu yang lebih matang. Bagi mereka, kebenaran akan menemukan jalannya. Dan bagi Sanga Sanga, babak baru itu menjadi kesempatan untuk terus tumbuh, menjaga kepercayaan, serta membawa warisan herbal ke panggung yang lebih luas bersama sama dengan keyakinan teguh.
