MERAWAT PERDAMAIAN, MENGABDI UNTUK INDONESIA – Gde Sumarjaya Linggih, SE, M.A.P.

Masa muda adalah masa di mana kita mulai belajar untuk mereka-reka cita-cita, berupaya mewujudkan angan-angan mendapatkan kebahagiaan hidup mendatang seperti apa yang telah diharapkan, walau  tentu  saja di masa itu warna-warni aktivitas pergaulan  anak muda sudah cukup padat  dengan  nuansa yang lebih  menarik, meriah  dan mengasyikkan  untuk dilewatkan.

Namun sesungguhnya, untuk mewujudkan cita–cita bukan berarti kita harus kehilangan pergaulan  masa muda, melainkan  dari pergaulanlah  lahir banyak  kenalan, teman dan bahkan sahabat yang sesungguhnya justru menjadi modal utama dalam mewujudkan cita.

Setidaknya ini terbukti dari perjalanan hidup Gde Sumarjaya Linggih, pria kelahiran Buleleng, 22 Oktober 1965 yang sejak masa kanak-kanaknya telah menggantungkan cita-citanya untuk menjadi pengusaha. Gde Sumarjaya Linggih, memang anak yang terbilang cerdas, ayahnya hanya seorang petani  cengkeh  dan kopi  dengan  pendidikan  yang  tidak begitu  tinggi, ibunya seorang pedagang di desanya, tepatnya di desa Tajun, Buleleng, namun meski hidup prihatin dan sederhana, namun Gde Sumarjaya masih mensyukuri diberikan kesempatan untuk bersekolah.

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, dari kelas I hingga kelas VI, ia selalu berhasil memperoleh  juara I, akan  tetapi Sumarjaya mengaku  predikat  itu diperolehnya tanpa belajar. Karena langganan sebagai juara terus disandangnya dari tahun ke tahun, tentu sebagai orang tua sangat merasa bangga memiliki anak sepandai Sumarjaya, maka di saat perkembangan ekonomi keluarga meningkat karena hasil pertanian dan harga jualnya pada saat itu sangat bagus, Sumarjaya pun dibiayai untuk melanjutkan sekolahnya di Singaraja, maklumlah pada saat itu di desanya belum berdiri Sekolah setingkat SMP.

Namun bukan hanya itu, ia juga diberikan sebuah kendaraan bermotor yang sesungguhnya belum tepat dimiliki oleh anak seusia Sumarjaya. Benar saja, kondisi mental dan proses kedewasaan yang belum cukup itulah yang akhirnya mengalihkan  konsentrasi Sumarjaya pada berbagai kegiatan yang bisa dilakukan dengan sepeda motornya, ia menjadi sering keluar malam dan mengesampingkan sekolahnya, akibatnya nilai studinyapun merosot.

Meskipun tidak terlalu buruk, namun berkurangnya angka–angka prestasi belajarnya di sekolah saat itu, cukup menjadi sebuah tanda peristiwa yang Gde Sumarjaya ingat sampai kini.

Terbiasa dengan pergaulan luas yang ia bangun sendiri saat di SMP, Sumarjaya kemudian membujuk ayahnya untuk diizinkan melanjutkan pendidikannya di Bandung, menyusul kakaknya yang terlebih dulu ada di sana.

Keinginan ini rupanya disetujui orang tuanya, sontak Sumarjaya menjadi girang dan tentu saja bangga; maklumlah, di saat itu anak dari Singaraja bisa sekolah ke luar kota, bahkan sampai ke Jawa sudah menjadi suatu hal yang luar biasa. Yang pasti suka citanya itu bukan karena alasan mutu pendidikan yang menjadi tujuan utama, namun cenderung lantaran pamor membanggakan yang timbul dalam perasaan polos kanak–kanaknya.

Setibanya di Bandung, Sumarjaya dengan cepat banyak memiliki teman baru, pergaulan dan pertemanan terus bertambah luas, termasuk kawan-kawan yang ia kenal dalam kampusnya di Universitas Islam Nusantara. Kala itu tanpa pengawasan orang tua langsung, dunia gaul memang terkesan bebas dan berpeluang besar menjadi salah arah mengganggu aktivitas kuliahnya. Tapi beruntung Sumarjaya memiliki rasa mawas dan pola pikir yang matang jauh melampaui usianya.

Sementara di Bali, ayah-ibunya sudah sangat yakin pada kemampuan Sumarjaya yang pintar zonder belajar, sehingga meski tanpa kontrol sekalipun, pastilah anaknya akan tetap berprestasi dengan baik.

Syukurnya, Gde Sumarjaya Linggih  memang  pemuda yang memiliki tanggung jawab  terhadap hidupnya, maka meski dalam kebebasan itu, ia dengan serius telah merancang jalan masa depan yang akan dilaluinya. Salah satunya adalah dengan memilih dan menekuni pendidikan di fakultas Ekonomi sebagai modal  awal untuk mewujudkan  harapannya dapat  terjun  ke dunia usaha. Rupanya kehidupan bebas di tanah rantau, dapat menjadi kancah pendewasaan sikap dan pemikiran bagi Sumarjaya untuk mengokohkan eksistensinya untuk maju. Kendati tak dipungkiri menikmati kehidupan liar di Bandung yang menghabiskan hampir 60 % aktivitas bergaul di luar tugasnya belajar, tapi Sumarjaya yakin semua kegiatan gaul itu tidak mengganggu rancangan cita- cita masa depannya.

Semua kesukaan menggalang pertemanan dan aktivitasnya berjalan relatif positif, malahan hikmahnya dari pertemanan itu kemudian timbul rangkaian jaringan koneksi yang bermutu dan luas, yang belakangan dari pertemanan itu Sumarjaya dapat cepat melesat besar dalam menjalankan bisnisnya. Bayangkan saja; andaikan sekarang orang menyebut teknologi informasi adalah  jembatan  sukses  dunia usaha,  namun  dahulu di saat kecanggihan  internet belum  ada, informasi-informasi penting yang membuka celah bisnis, mutlak didapat berasal dari teman. Jadi apa yang disebut dengan ‘pergaulan’ pada masa itu ternyata memberi manfaat, luar biasa bagi orang-orang yang bijak, pandai, cerdik memfungsikan relasi jaringan pergaulan dan cermat menyikapi peluang yang diterima.

Sadar dan telah membuktikan sendiri ampuhnya manfaat pergaulan, mendorong Sumarjaya untuk masuk melebarkan sayap dalam pergaulan yang lebih spesifik di kalangan dunia usaha dengan terjun sebagai anggota Himpunan Pengusaha Muda  Indonesia (HIPMI). Keikutsertaannya dalam HIPMI memberikan banyak wawasan non teoritis, ilmu dan pengalaman baru dalam hal bisnis dari para senior di HIPMI yang semua pengajaran itu jelas tidak mungkin diperolehnya di bangku kuliah.

Dari pengalaman, ilmu-ilmu  terapan  dan networking  yang dimilikinya,  Gde Sumarjaya Linggih menjadi semakin piawai berkiprah sebagai entrepreneur mengolah usaha bisnisnya yang sukses dan mulai menggurita.

Setelah keberhasilan usahanya yang besar dan beranak pinak dengan berbagai perusahaan lainnya, I Gde Sumarjaya Linggih tak ragu menuruti jejak senior-senior HIPMI sebelumnya untuk menularkan pengalaman yang diperoleh kepada para pengusaha muda Bali yang tengah merintis.

Kebulatan tekadnya berbagi kiat  sukses itupun ditunjukkan dengan menerima jabatan sebagai ketua HIPMI Bali yang konsekuensinya menuntut perhatian khusus dan intens di tengah padatnya waktu bisnisnya yang berharga.

Duduk menjadi ketua HIPMI membuatnya menjadi sosok sorotan. Kepemimpinannya yang terbuka, keputusan-keputusan  cerdas dan  terobosan-terobosan baru  yang membawa anggota HIPMI turut terdorong maju, menimbulkan kesan di kalangan luas, bahwa inilah potret pemimpin yang mumpuni. Hingga dari sanalah, lambat laun namanya mulai naik kepermukaan, dikenal dan mulai kerap menghiasi pemberitaan di berbagai media.

Keberadaan  dan kemampuannya membawahi sebuah  organisasi sudah  tidak  diragukan lagi dikalangan rekan pengusaha dan para petinggi Negara. Apalagi kemudian dalam kehidupan organisasinya yang lain di JCI (Junior Chamber International) Sumarjaya Linggih  menampakkan prestasi mencolok yang luar biasa dengan keberhasilannya sebagai ketua Panitia konferensi JCI Asia – Pasifik (Conference Director Junior Chamber International Asia Pacific), sebuah konferensi terbesar di Bali yang dihadiri 3.500 partisipan seluruh Asia Pasifik.

Reputasi nama baik dan dedikasi serta kemampuan intelektual yang handal itu sertamerta mengusungnya pada  kehidupan  berkumpul  dan berserikat  pada sebuah  organisasi yang lebih besar lagi. Ia kemudian masuk dalam keanggotaan partai berlambang pohon beringin “GOLKAR” (Golongan Karya). Tak disangka sebagai pendatang baru, karir politiknya dengan cepat melesat bak anak panah.

Lagi-lagi jasa  pergaulan yang luas, networking yang terbangun dengan reputasi mengesankan dan pengalaman berorganisasi yang mumpuni itu menjadikan Sumarjaya Linggih dapat mudah melenggang melalui rival-rival politik yang berupaya mengganjalnya.

Strategi  politiknya  terkesan ajaib dan mencengangkan, seperti sesaat usai  pengunduran pencalonan dirinya sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali, tak diduga namanya ditemui telah bertengger di urutan teratas daftar calon anggota legislatif (caleg) untuk DPR RI daerah pemilihan Bali yang menghantarnya ke Senayan dan duduk di Komisi IV DPR RI.

Bukan hanya  itu, sekali lagi peta  pergolakan  politik  begitu  condong  berpihak  padanya, bagaimana tidak, Sumarjaya yang baru satu tahun terlihat mengusung bendera kuning GOLKAR dalam Munas VII Partai Golkar di Nusa Dua Bali namanya masuk dalam struktur kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar periode 2004-2005 di bawah Jusuf Kalla, padahal jelas-jelas Sumarjaya bukan termasuk salah satu panitia Munas.

Keajaiban ini tentu menyulut perselisihan dan protes dari Ketua DPD Golkar Bali dan Ketua Panitia Lokal Munas yang meminta pencoretan nama Sumarjaya dengan dalih bahwa Sumarjaya Linggih  tidak  memenuhi  syarat  sebagaimana ketentuan  peraturan  organisasi.  Ajaibnya  semua penentangan itu tidak mampu merubah apapun dari keputusan Munas untuk tetap kukuh memilih Sumarjaya.

Rupanya kedudukannya sebagai  anggota MPR-RI bukanlah langkah awal kiprahnya berkarya untuk kepentingan  nasional  dalam berbangsa dan bernegara. Namun  sesungguhnya sejak akhir tahun 2002, putra Bali ini telah aktif dan sangat agresif menyerukan perdamaian dan berupaya dengan jalannya sendiri menggaungkan semangat damai di muka bumi ini. Seruannya ini tersulut pasca tragedy Bom Bali 1 yang menelan ratusan korban jiwa dan sekaligus menodai nilai-nilai kemanusiaan dan memperunjing permusuhan antar umat beragama, bangsa dan negara di dunia. Dari sanalah sebuah icon perdamaian kemudian ia ciptakan untuk membangkitkan  semangat  perdamaian  dan persaudaraan  di seluruh  dunia. Bersama Djuyoto Suntani, gagasan itu ditangkap dan dibuat dalam bentuk Gong Perdamaian; sebagai icon perdamaian negara-negara di dunia, dari berbagai agama, sekte, aliran, kepercayaan atau apapun bentuk kelompoknya di muka bumi ini, untuk bersama menjunjung tinggi perdamaian. Gong  Perdamaian kemudian diwujudkan menjadi  nyata sebagai  jembatan persahabatan, persaudaraan dan ikrar perdamaian Negara-negara di dunia.

Hingga akhirnya, sampailah pada tanggal 31 Desember 2002, tepat pukul 00:00 WITA, menandai kelahirannya, Gong Perdamaian ini pertama kali dibunyikan oleh Presiden ke V Republik Indonesia; Megawati Soekarnoputri di Bali.Kemudian  pada tanggal 5 Februari 2003,  oleh  PBB dikumandangkan  dalam  pembukaan  acara  Second Global Summit on Peace, di Jenewa, Swiss dan dihadiri 170 negara.Selanjutnya pada tanggal 14 Juni 2003 Gong Perdamaian inipun kembali bergaung di acara Pembukaan International Festival oleh Presiden Megawati di Jawa Tengah.

Tanggal 20 Agustus 2004, Pemerintah Cina dan UNESCO memasang satu replika Gong Perdamaian Dunia di kota seribu Dewa, Penglai, Shandong-China. Di sana kemudian dibangun Monumen Gong Perdamaian Dunia sebagai Monumen Agung Perdamaian Dunia sekaligus menjadi objek wisata baru di Penglai Shandong, China.

Melalui Gong Perdamaian Dunia inilah Sumarjaya berupaya mewujudkan cita-citanya mengembalikan citra Indonesia sebagai negara cinta damai sekaligus menjadikan tanah air Indonesia sebagai pusat perdamaian dunia. Namun jelas tujuan dasar dari gagasan Sumarjaya ini tidak lain adalah demi untuk menciptakan suasana damai di seluruh dunia dari kekerasan atau kekejaman perang serta ancaman pemusnahan masal manusia akibat penggunaan senjata  tempur yang semakin  modern. Keberhasilannya membawa iklim  damai di dunia rupanya tidak  terhenti sampai di sini, ia selanjutnya meneruskan dengan perancangan program tentang Gong Perdamaian.

Titik porosnya tetap  Indonesia dan dalam  pemaparannyapun  dengan jelas  Sumarjaya Linggih  menegaskan bahwa Gong ini adalah  persembahan  Indonesia untuk Perdamaian  Dunia,  karena Indonesia telah memprakarsai karya besar guna menyatukan seluruh umat  manusia di muka  bumi ke dalam perdamaian dan kesadaran bahwa sesungguhnya seluruh dunia berasal dari satu keluarga yang bersaudara.

Mengingat Gong Perdamaian Dunia telah menjadi icon satu-satunya symbol persaudaraan dan perdamaian dunia bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini maka keberadaannya mulai dikonsep untuk ditempatkan dalam sebuah kawasan dengan nama Kampung Perdamaian Dunia.

Di dalam kampung ini terdapat Gong Perdamaian Dunia berdiameter 8 m, convention center, tempat ibadah 10 Agama besar di Dunia, dikelilingi oleh Villa dan monumen bergaya arsitektur khas dari negara-negara di dunia dan dilengkapi sebuah panggung terbuka di mana di Kampung itulah nanti akan menjadi tempat perundingan damai  negara-negara yang tengah bertikai, juga sebagai pusat kegiatan perdamaian dunia dan berkumpulnya tokoh – tokoh kenegaraan  untuk membahas  perdamaian  di muka bumi.Rencana besar itu kemudian  memperoleh  tanggapan antusias dari dunia internasional, dan sebagai salah satu program untuk mensosialisasikan pada masyarakat dunia sebuah acara Road Show pun lalu digelar dengan rute tujuan pertama adalah 6 kota besar di Indonesia, berawal dari Bali dan  berakhir di Banda Aceh. Selanjutnya di kota-kota  di benua Amerika, Washington & New  York, USA, lalu menuju kota-kota di benua Asia untuk digaungkan oleh Sai Baba di India, Dalai Lama di Mongolia dan diteruskan menuju Australia berlanjut ke kota-kota di benua Eropa dan pemukulan gong oleh Paus, pemimpin umat Katolik di Vatikan  dan mulai menuju kota-kota  di Afrika,  selanjutnya setiap  enam bulan sekali berkeliling ke seluruh  dunia secara bergilir dan diberikan kesempatan pada kepala negaranya untuk memukul Gong Perdamaian ini.

Sebuah  kerja keras yang  luar  biasa  mulia dan berharga bagi umat manusia  di dunia. Dan syukurlah  sang ‘Pemicu Damai’ itu adalah putra Indonesia, anak desa Tajun Singaraja yang berjanji akan terus bekerja, memberikan olah karya terbaiknya bagi bumi Nusantara.

Janji itu bukanlah  sekadar  untaian  kata.  Setelah  Pemilu 2004 mengantarnya ke Senayan,  Sumarjaya terus menapaki tangga pengabdiannya. Pada Pemilu 2009 kepercayaan itu kembali tertuju kepadanya; ia terpilih untuk kedua kalinya sebagai anggota DPR RI dan kali ini ditempatkan di Komisi VI, komisi yang membidangi perdagangan, perindustrian,  investasi, koperasi, UKM, BUMN  hingga standardisasi nasional,  bidang yang terasa begitu dekat dengan latar belakangnya sebagai seorang pengusaha. Di tahun yang sama,  partai pun mempercayainya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar.

Tahun 2010 membuka babak baru bagi kiprahnya di dunia usaha. Gde Sumarjaya Linggih dipercaya memimpin Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Bali, jabatan  yang diembannya hingga tahun  2015. Seperti ketika memimpin HIPMI Bali, ia kembali menjadikan organisasi pengusaha itu aktif bersuara; mulai dari mengimbau para perajin industri kreatif agar mengubah pola pikir dan memperluas jaringan, mendorong peningkatan kualitas sumber daya  manusia dalam menghadapi  Masyarakat Ekonomi  ASEAN 2015, mendesak pembenahan infrastruktur pelabuhan, hingga meminta pemerintah mewajibkan seluruh badan usaha di Pulau Dewata menjadi anggota Kadin. Langkahnya bahkan menembus batas negara, ditandai dengan penandatanganan kerja sama agribisnis dan ekowisata antara Bali dan Kamboja.

Pada Pemilu 2014, untuk ketiga kalinya rakyat Bali menitipkan suaranya kepada Sumarjaya, dengan perolehan 141.168 suara. Ia kembali duduk di Komisi VI, sebelum pada April 2015 dimutasi ke Komisi IX yang menangani urusan tenaga kerja, transmigrasi, kesehatan dan kependudukan, lalu kembali bertugas di Komisi VI pada Januari 2016. Di tengah  padatnya tugas itu, ia pun tak berhenti belajar. Ia kembali ke Bandung, kota tempat  dahulu ia menempa kedewasaan,  dan pada tahun  2015 menuntaskan  studi Magister Administrasi Publik di Universitas  Padjadjaran hingga berhak menyandang gelar M.A.P.

Badai politik sempat menerpa rumah besar beringin pada tahun 2015, ketika Partai Golkar terbelah menjadi dua kubu hasil Munas Bali dan Munas Ancol. Dalam situasi yang menguji kedewasaan para kader itu, Sumarjaya dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Ketua DPD I Golkar Bali dari kubu Agung Laksono, dan menyatakan kesiapannya menempuh jalan islah demi mempersatukan kembali keluarga besar Golkar.

Memasuki periode 2019-2024, ia terpilih untuk keempat kalinya sebagai anggota DPR RI dengan perolehan sekitar 114 ribu suara, dan oleh DPP Partai Golkar dipercaya sebagai Ketua Bidang PemenanganPemilu Wilayah Bali, NTB, dan NTT. Di parlemen, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi VI. Ketika pandemi COVID-19 memukul pariwisata Bali, suaranya ikut terdengar mendukung dibukanya kembali Bali bagi wisatawan asing danmengapresiasi pemangkasan masa karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri. Ia juga mendukung ekspansi bisnis data center PT Telkom Indonesia dan meminta Menteri Perdagangan  memastikan ketersediaan minyak goreng di pasaran. Pada Januari 2022,  ia terpilih  sebagai Ketua FK FPG  Ormas  MKGR, seakan  kembali ke rumah  lamanya setelah dahulu pernah menjabat Wakil Sekretaris MKGR.

Kendati bekerja di Jakarta, perhatiannya pada tanah kelahiran tak pernah surut. Hal ini tampak dari gagasan- gagasannya, seperti usulan agar bandar udara baru di Buleleng lebih tepat dibangun di Kubutambahan, serta usulan agar rute Tol Gilimanuk-Mengwi dialihkan melewati wilayah utara Bali.

Menjelang Pilkada 2024, namanya sempat disiapkan DPP Golkar bersama dua kader lainnya untuk Pemilihan Gubernur Bali, sementara ia lebih dulu menunggu hasil pemilihan legislatif. Hasilnya, pada Pemilu 2024 Sumarjaya kembali dipercaya masyarakat Bali untuk kelima kalinya duduk di Senayan dengan 100.747 suara.

Puncak pengabdiannya di rumah politiknya datang pada 13 Juli 2025. Dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Provinsi Bali di Sanur, Denpasar, Sumarjaya, yang menjadi satu-satunya calon, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Bali periode 2025-2030, dengan dukungan dari para pengurus Golkar di kabupaten dan kota. Ia bertekad  mendesain Golkar yang modern,  berbasis  data,  dan ramah  bagi generasi muda, dengan menghidupkan kembali organisasi sayap serta menata kepengurusan hingga tingkat desa. Semangat berorganisasi dan berpolitik itu pun mengalir kepada putranya, Agung Bagus Pratiksa Linggih, yang tercatat sebagai anggota DPRD Provinsi Bali dan Ketua AMPI Bali.

Dari anak desa Tajun yang dahulu menjadi juara kelas tanpa banyak belajar dan sempat terlena kebebasan di perantauan, Gde Sumarjaya Linggih kini telah lebih dari dua dekade berkiprah di Senayan. Perjalanan hidupnya seolah menjadi bukti dari pesan yang selalu ia titipkan kepada generasi muda; bahwa masa muda dan pergaulan, bila diarahkan pada hal positif dan disikapi dengan cermat, akan menjadi modal besar untuk meraih cita-cita.

 

DATA PRIBADI

Nama  :  Gde Sumarjaya Linggih, SE, M.A.P.

Tempat/Tanggal lahir  :  Buleleng, 22 Oktober 1965

Agama : Hindu 

Pendidikan Formal                :

– 1971-1977 SDN Tajun, Singaraja

– 1977-1980 SMP Negeri 15 Bandung

– 1980-1983 SMA Negeri 13 Bandung

– 1991 Universitas Islam Nusantara Bandung (S-1 Ekonomi)

– 2015 Universitas Padjadjaran Bandung (S-2 Administrasi Publik, M.A.P.) 

 

 

Kursus/Diklat yang Pernah Diikuti :

–   Short Course “Main Maping ” ASPAC JCI Hongkong 1994

– Short Course “Public Speaking ” ASPAC JCI Singapore 1995 Riwayat Organisasi :

1.    1989-1992 Wakil Ketua BPC HIPMI Badung – Bali

2. 1993-1996 Ketua Kompartemen Perindustrian & Perdagangan HIPMI Jawa Barat 3. 1995-1998 Ketua Departemen Dana Sarana BPP HIPMI

4.    1995-1996 Vice President National Organization Member Indonesian Junior Chamber

5.    1996 -1998 Executive Vice President National Organization Member Indonesian Junior Chamber

6.    1997-1998 General Legal Consul National Member Indonesian Junior Chamber Treasury National

Organization Member Indonesian Junior Chamber

7. 1999 Conference Director Junior Chamber International Asia Pacific Conference 8. 1999 Senator Junior Chamber International

9.    2000-2003 Ketua Umum BPD HIPMI Bali

10. 2002-2006 Dewan Penasehat Gerakan Indonesia Bersatu Bali

11. 2002 Dewan Pertimbangan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Pembangunan Bali 12. 2002-2005 Chairman Bali Peace Community

13. 2003-Sekarang Ketua Yayasan Gong Perdamaian Dunia

14. 2004-Sekarang Dewan Pakar Forum Konsultasi Daerah Penghasil Migas (62 Kabupaten dan kota serta 17

Provinsi)

15. 2005-2010 Anggota Dept. Kehutanan, Kelautan & Lingkungan Hidup Korwil X Bali, NTB, NTT 16. 2006-2010 Wakil Sekretaris MKGR

17. 2006-2010 Komite Kerjasama India – Indonesia DPP KADIN

18. 2006-2010 Ketua Dewan Penasehat Gerakan Indonesia Bersatu Bali 19. 2007-2011 Wakil Sekretaris Mabes Pemuda Panca Marga

20. 2008-2009 Ketua Sub Bidang Seniman Tradisional BAPPILU Partai Golkar 21. 2008-2009 Koordinator Provinsi Bali, BAPPILU Partai Golkar

22. 2004-2009 Anggota DPR RI di Komisi IV

23. 2009-Sekarang Anggota DPR RI di Komisi VI (periode 2009-2014, 2014-2019, 2019-2024, 2024-2029;

sempat bertugas di Komisi IX April 2015 – Januari 2016; pernah menjabat Wakil Ketua Komisi VI) 24. 2009-Sekarang Wasekjen DPP Partai Golkar Bidang Kesra

25. 2010-2015 Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Provinsi Bali

26. 2015 Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Bali (kubu Agung Laksono)

27. 2019-2024 Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Bali, NTB, dan NTT DPP Partai Golkar 28. 2022 Ketua FK FPG Ormas MKGR

29. 2025-2030 Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Bali

Riwayat Pekerjaan :

1. 1990-2004 Direktur Ganeca Puri Megah (Hotel) Jl. Ciara Condong no. 167- Bandung 2. 1994-1998 Direktur Ganeca Prima (Energy) dan Jl. Ciara Condong no. 167- Bandung

3.    1995-2004 Direktur Utama PT. Ganeca Silatama (Printing Supplier) dan Jl. Ciara Condong no. 167-

Bandung

4.    1996-2004 Direktur Utama PT. Prasida Lanturmaju (Supplier Hotel) dan Jl. Raya Puputan no. 88 Denpasar

– Bali,

5.    1998-Sekarang Owner UD. Banyusakti (Pabrik Wines) dan Jl. Raya Puputan no. 88 Denpasar – Bali,

6.    2000-2004 Direktur Utama PT. Metafora (General Trading & Contractor) dan Jl. Raya Puputan no. 88

Denpasar – Bali,

7.    2002-2004 Komisaris Utama PT. Metafora Bersama (Supermarket) dan Jl. Raya Puputan no. 88 Denpasar

– Bali,

8.    2002-Sekarang Komisaris PT. Metafora International (Hotel) Gd. AKR, Jl. Panjang – Jakarta Barat

9.    2003-2004 Komisaris Utama PT. Margarana dan Jl. Raya Puputan no. 88 Denpasar – Bali,

10. 2004-Sekarang Komisaris Utama PT. Metafora dan Denpasar – Bali,

11. 2004-Sekarang Komisaris Utama PT. Prasida Lanturmaju dan Jl. Raya Puputan no. 88 Denpasar. Penghargaan :

1. 17 Oktober 2001 Menerima penghargaan dari Panitia Kuliah Umum Fakultas Ekonomi Universitas Warmadewa, atas partisipasi sebagai pembicara dalam acara kuliah umum pelatihan kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Warmadewa

2. 11 Maret 2002 Menerima penghargaan dari Fakultas Ekonomi Universitas Warmadewa, atas partisipasinya sebagai pembicara, pada acara Seminar Regional, ”Kesiapan Pengusaha Bali Dalam Menghadapi Globalisasi dan AFTA 2003”

3.    19 Oktober 2002 Menerima penghargaan dari Indonesian Junior Chamber pada IJC Nasional Konvensi ke

14 di Garuda Wisnu Kencana

4.    21 Januari 2003 Menerima penghargaan atas partisipasinya sebagai pembicara dalam Perspektif

Ekonomi Indonesia, dari BPP HIPMI

5.    7 Februari 2003 Menerima penghargaan dari Bali TV, atas partisipasinya sebagai nara sumber dalam

acara ” Perspektif dan Solusi ”

6. 22 Maret 2003 Menerima penghargaan dari Fakultas Ekonomi Universitas Pendidikan Nasional, atas partisipasinya sebagai Nara Sumber dalam diskusi “Pembahasan Output Lulusan S1 (Jurusan Manajemen & Akuntansi) yang dibutuhkan oleh dunia usaha dalam pasar global”

 

Nama Istri   :  Almh. Ida Ayu Ketut Onik Mindawati. Peggita Chelsea


Jumlah anak  :  4 (empat) orang (Ayu Denisa Linggih, Ayu Karina Linggih, Agung Bagus Pratiksa Linggih, dan Agung Bagus Arsadhana Linggih)

Hobby/Kegemaran : Berenang Warna

Favorit   :  Biru dan Kuning

Pesan   :  Manfaatkanlah masa muda dengan sebaik-baiknya dan arahkan kegiatan pada hal positif agar berguna bagi masa depan, serta pandai-pandailah menyikapi peluang yang ada.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!