Rasa yang Menemukan Rumahnya di Sentosa Coffee
Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata ketika aroma kopi pertama kali menyeruak di pagi hari. Ia tak hanya membangunkan rasa kantuk, tapi juga menyapa jiwa yang haus akan ketenangan. Di antara kepulan uap hangat itulah, seorang pria muda bernama I Gede Nyoman Bhisma Adi Nugraha menemukan dirinya. Dari tangan yang dulu terbiasa menggenggam kuas dan mencipta mural di tembok kota, kini ia menggenggam portafilter, meracik biji kopi menjadi karya yang menenangkan. Semua berawal dari rasa, tumbuh dari perjalanan, dan mekar menjadi sesuatu bernama Sentosa Coffee Space.
Bhisma lahir di Tabanan pada Januari 1996. Sejak kecil ia tumbuh di tengah keluarga yang tampak mapan. Ayahnya seorang kontraktor yang disegani, ibunya mengelola usaha garment yang cukup sukses. Namun di balik kenyamanan yang tampak, perjalanan hidup Bhisma tidak selalu mulus. Ia adalah anak bungsu dari dua bersaudara dan sejak muda sudah belajar arti tanggung jawab. Ketika ibunya terserang stroke saat ia duduk di bangku SMP, hidup yang semula stabil berubah begitu cepat. Kondisi ekonomi keluarga menurun dan Bhisma harus ikut berjuang menjaga keseimbangan yang mulai goyah.
Saat banyak remaja seusianya sibuk bermain, Bhisma justru sibuk menjadi marketing dan kurir di usaha milik keluarga. Ia belajar mengenal kerasnya dunia kerja di usia yang begitu muda. Pengalaman itu menempanya menjadi pribadi yang tangguh dan peka terhadap realitas hidup. Dari situ ia memahami bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tetapi juga tentang berjuang dan memberi makna pada setiap langkah.
Perjalanan pendidikannya berlanjut ke SMA 1 Kediri. Di masa itu, bibit kecintaannya pada kopi mulai tumbuh. Ia sering menghabiskan waktu di warung kecil yang menyajikan kopi tradisional, menikmati setiap aroma dan rasa sambil membayangkan memiliki tempat kopi miliknya sendiri suatu hari nanti. Keinginan itu belum bisa ia wujudkan, tapi benihnya sudah tertanam di hati.
Setelah lulus SMA, Bhisma melanjutkan kuliah di STIKI mengambil jurusan desain. Dunia seni memberinya ruang untuk mengekspresikan imajinasi dan kepekaannya terhadap detail. Untuk menambah uang jajan, ia mengambil berbagai proyek mural. Setiap dinding yang ia lukis menjadi saksi semangat dan kerja kerasnya. Ia tak pernah malu menjemput rezeki dengan caranya sendiri. Di balik setiap garis dan warna yang ia buat, terselip tekad untuk mandiri dan membantu keluarganya.
Kakaknya menjadi sosok yang sangat berarti dalam perjalanan itu. Ia membantu membiayai kuliah Bhisma hingga lulus. Dari situ Bhisma belajar arti dukungan dan keluarga yang saling menopang dalam suka dan duka.
Di masa akhir kuliah, Bhisma bertemu dengan Wulan, seorang perempuan yang kelak menjadi istrinya. Pertemuan itu terjadi di tengah pandemi Covid-19 tahun 2020. Saat dunia seolah berhenti, dua jiwa justru saling menemukan arah. Wulan yang merupakan lulusan Politeknik Pariwisata Makassar membawa energi baru dalam hidup Bhisma. Ia perempuan yang hangat, cerdas, dan penuh ide. Mereka berdua tak hanya berbagi perasaan, tapi juga semangat untuk tumbuh bersama.
Sebelum menikah, Bhisma dan Wulan sempat mencoba beberapa usaha. Mereka memulai dari budidaya jamur tiram, kemudian membuka usaha burger. Setiap langkah membawa pelajaran baru, baik soal bisnis maupun soal kehidupan. Mereka belajar bahwa usaha bukan hanya tentang keuntungan, tapi tentang keberanian mengambil risiko dan ketekunan menghadapi kegagalan.
Tahun 2022 menjadi titik penting dalam hidup Bhisma. Ia menikahi Wulan, dan bersama sang istri, ia mulai menata hidup yang baru. Setahun kemudian, pada 2023, mimpi lamanya akhirnya menjadi nyata. Ia membuka Sentosa Coffee Space, sebuah tempat yang tak hanya menjual kopi, tapi juga menyajikan suasana yang menenangkan. Nama “Sentosa” ia pilih karena ingin menghadirkan rasa damai bagi siapa pun yang datang.
Di awal berdirinya, Bhisma turun langsung menjadi barista, peracik kopi, dan sekaligus promotor bisnisnya. Wulan membantu di bagian back office, mengatur operasional dan strategi. Mereka berdua bekerja tanpa lelah, membangun segalanya dari bawah. Pernah suatu kali Bhisma salah membeli mesin kopi, memilih mesin rumahan yang ternyata tidak cocok untuk produksi dalam volume besar. Namun bukannya menyerah, ia menjadikan kesalahan itu sebagai pelajaran berharga. Dari situ ia belajar bahwa proses adalah guru terbaik.Sentosa Coffee Space perlahan tumbuh menjadi salah satu tempat kopi yang dikenal di Tabanan. Keaslian rasa dan suasana hangat membuat banyak pengunjung merasa seperti di rumah sendiri. Bhisma tidak hanya menjual kopi, ia menjual pengalaman. Setiap cangkir yang ia sajikan adalah hasil perpaduan cinta, perjuangan, dan ketulusan. Ia percaya bahwa kopi bukan sekadar minuman, melainkan bahasa universal yang menghubungkan manusia.
Kini Bhisma telah memiliki dua cabang Sentosa Coffee Space, di Jl. Danau Toba No.20, Dajan Peken, Tabanan dan di Wanasari, Tabanan. Ia tetap terlibat dalam setiap detail, dari pemilihan biji kopi hingga desain interior kafe. Hobinya dalam menggambar dan mendesain masih ia pertahankan, bahkan ia sering menuangkan ide desain interiornya sendiri. Sementara Wulan, kini sibuk mengurus anak mereka yang sedang tumbuh ceria, namun tetap menjadi partner penting dalam bisnis.
Bagi Bhisma, Sentosa Coffee Space bukan sekadar usaha. Tempat itu adalah perwujudan dari perjalanan panjangnya, dari masa sulit saat remaja hingga kedewasaan yang ditempa perjuangan. Ia percaya bahwa setiap secangkir kopi yang ia racik adalah simbol dari kerja keras, kesabaran, dan keyakinan bahwa semua hal besar berawal dari langkah kecil yang dijalani dengan hati.
Ke depan, Bhisma berharap dapat membuka lebih banyak cabang dan memperluas jaringan bisnisnya. Ia ingin membawa nama Sentosa Coffee Space lebih dikenal, bukan hanya di Tabanan tapi juga di berbagai daerah lain. Harapannya sederhana, agar semakin banyak orang yang bisa menikmati kopi dengan rasa yang jujur dan suasana yang tulus.
Dalam hidupnya, Bhisma selalu memegang satu prinsip, bahwa keberhasilan bukan diukur dari seberapa cepat seseorang sampai di puncak, tetapi dari seberapa kuat ia berdiri ketika badai datang. Dari mural yang penuh warna hingga aroma kopi yang menenangkan, perjalanan Bhisma adalah kisah tentang keberanian, cinta, dan konsistensi.
Dan di setiap gelas kopi yang disajikan di Sentosa Coffee Space, tersimpan jejak langkah seorang pria yang berani bermimpi, bekerja keras, dan mencintai hidup sepenuhnya.