Tangan yang Menanam Keringat dan Memetik Keberhasilan
Langit pagi Tabanan memantulkan warna keemasan yang hangat saat seorang anak kecil berjalan menyusuri jalanan tanah dengan kaki penuh debu. Di matanya terpancar tekad yang lebih besar dari tubuh mungilnya. Anak itu bernama I Made Sudiana. Ia tidak dilahirkan di tengah kelimpahan, namun keberanian dan kerja keras telah menuntunnya melampaui batas yang semula dianggap mustahil. Sejak kecil, dunia memperlihatkan sisi kerasnya, dan ia menjawabnya dengan senyum, semangat, serta tangan yang tak pernah berhenti bekerja.
Made lahir pada tahun 1975 di Tabanan dari pasangan buruh bangunan. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak usia sekolah dasar, hidupnya telah diwarnai dengan perjuangan. Saat teman-temannya sibuk bermain, Made kecil justru berkeliling dari satu kelas ke kelas lain menjajakan makanan yang dibawa gurunya. Sekolahnya tidak memiliki kantin, dan dari situ ia belajar arti kerja keras dan kemandirian. Dari tangan kecilnya yang menggenggam barang dagangan, lahir mimpi besar tentang kehidupan yang lebih baik.
Ketika duduk di kelas dua SD, Made tinggal bersama bibinya hingga ia menamatkan SMA. Lingkungan yang berbeda tidak membuatnya kehilangan arah. Ia tumbuh menjadi anak yang disiplin, tekun, dan berani mengambil tanggung jawab. Setelah lulus SD, ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Tabanan dan di sana semangat kepemimpinannya mulai tampak. Ia terpilih sebagai Ketua OSIS, sosok yang mampu menggerakkan teman-temannya untuk berbuat lebih. Di sela waktu belajar, ia tetap bekerja demi membantu keluarga. Ia membeli sepeda balap dari hasil kemenangannya dalam lomba burung dan menggunakan sepeda itu untuk berangkat sekolah setiap hari. Ia belajar bahwa usaha yang dilakukan dengan hati tidak pernah sia-sia.
Setelah menamatkan SMP, Made melanjutkan pendidikan ke SMEA Negeri Tabanan dengan jurusan Akuntansi. Dunia angka ternyata cocok dengannya. Ia kembali dipercaya menjadi Ketua OSIS dan dikenal sebagai siswa berprestasi dengan kemampuan menghafal yang luar biasa. Ia pernah bermimpi menjadi polisi, namun kondisi ekonomi keluarga membuatnya menunda cita-cita itu. Meski begitu, semangatnya tidak padam. Ia hanya mengubah arah langkah, bukan menyerah. Ia berjanji kepada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti ia akan memiliki rumah dan dua mobil hasil kerja kerasnya.
Tahun 1994 menjadi awal dari perjalanan panjang menuju kemandirian sejati. Ia menumpang tinggal di rumah bosnya yang bekerja di bandara. Setiap pagi ia menyapu, mengepel, lalu mengantar anak bosnya ke sekolah sebelum pergi bekerja di bagian kargo. Saat siang tiba, ia menjemput anak itu kembali dan melanjutkan pekerjaannya hingga sore. Ketekunan itu membuatnya dipercaya, hingga akhirnya ia berpindah posisi menjadi porter. Bosnya juga dikenal sebagai pengembang properti, dan sering mengajak Made turun langsung ke lapangan untuk mengukur tanah. Dari sana ia belajar tentang dunia properti dan memahami nilai dari sebidang lahan yang bisa menjadi sumber kesejahteraan.
Ia bekerja di bandara selama sepuluh tahun penuh. Dalam rentang waktu itu, pada Januari 1997 ia menikah di usia 23 tahun. Hidup baru dimulai dengan kesederhanaan. Ia tinggal di rumah mertua dan tetap bekerja di bandara. Setiap pagi sebelum berangkat, ia membersihkan kandang, mengantar mertuanya ke pasar, lalu pergi bekerja dengan motor pinjaman milik istrinya. Perjuangan itu tidak membuatnya kecil hati, justru menambah tekad untuk melangkah lebih jauh. Ia mulai mengambil pekerjaan sampingan sebagai makelar tanah. Perlahan namun pasti, keadaan ekonominya membaik.
Tahun 2003 menjadi tonggak penting. Pada 18 Agustus, ia mendirikan KSP Lumbung Merta Sari bersama sepuluh temannya. Modal awal hanya dua juta rupiah, dana yang dikumpulkan dari LPD. Ia meminjam lahan milik seorang teman untuk tempat koperasi itu berdiri. Para istri dari sepuluh pendiri ikut menjadi staf pertama, sementara Made sendiri yang mengurus seluruh kegiatan koperasi secara langsung. Pagi hari ia bekerja di bandara, dan ketika siang tiba ia menulis catatan manual di koperasi kecil yang masih berdebu. Semangatnya tak pernah surut.
Dalam waktu satu setengah tahun, aset koperasi telah mencapai satu setengah miliar rupiah. Saat melihat pertumbuhan itu, ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di bandara pada tahun 2005 dan fokus penuh mengelola koperasi. Ia percaya bahwa kesungguhan akan membuahkan hasil, dan keyakinan itu terbukti benar. Ia mempekerjakan masyarakat lokal agar koperasi menjadi bagian dari kehidupan warga sekitar. Baginya, Lumbung Merta Sari bukan sekadar lembaga keuangan. Ia adalah ruang tumbuh bersama, wadah untuk berkembang menuju kemakmuran yang sejati. Filosofi itu tertanam kuat dalam setiap langkahnya.
Tiga tahun berselang, pada 2008, Made kembali melangkah ke dunia baru. Ia menjadi Direktur Utama di beberapa perusahan yakni Dirut CV Adhi Desy Mandiri, Dirut Swastika Sedana Lestari dan Dirut Developer Griya Trisna Property. Ia membeli tanah, menjualnya kembali, lalu merambah ke bisnis rumah jadi yang direnovasi sebelum dipasarkan ulang. Usahanya tumbuh pesat. Bersamaan dengan perkembangan koperasinya, bisnis propertinya membawa hasil yang luar biasa. Ia akhirnya bisa membangun rumah sendiri dan membeli mobil, mewujudkan cita-cita sederhana yang pernah ia ucapkan di masa remaja.
Ayahnya yang memiliki banyak waktu luang kemudian dilibatkan dalam bisnis properti untuk membantu mengawasi. Bagi Made, hal itu bukan hanya strategi kerja, tetapi juga bentuk penghargaan kepada sosok yang telah mengajarinya makna kerja keras dan kesederhanaan sejak kecil. Suatu hari, saat berkunjung ke rumah temannya yang memiliki usaha pencucian mobil, Made melihat peluang baru. Ia belajar tentang bisnis tersebut dan mendirikan usaha pertamanya bernama Q-Lap Carwash di Abianbase. Bisnis itu berkembang dengan cepat dan melahirkan Q-Lap Carwash 2 di Muding. Karena anaknya masih bersekolah, ia mempercayakan pengelolaan kepada adiknya yang bekerja sebagai pesiar. Ketika usahanya semakin maju, ia membuka Q-Lap Carwash 3 di Kebo Iwa yang juga menjadi showroom mobil bernama Anantasari Motor. Tidak berhenti di situ, Q-Lap Carwash 4 berdiri di Kediri Tabanan dengan tambahan coffeeshop yang membuat usahanya semakin dikenal.
Selain koperasi dan properti, Made juga mendirikan PT Sahabat Raja Sejati yang bergerak di bidang peternakan, di mana ia menjadi direktur utama. Keberhasilannya membangun berbagai bidang usaha bukanlah hasil keberuntungan, melainkan buah dari ketekunan, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap perjuangan pasti memberi hasil. Bagi Made, memberi dan berbagi adalah kunci keberkahan. Ia percaya bahwa rezeki yang dikeluarkan dengan niat baik tidak akan pernah habis, justru akan kembali berkali lipat.
Kini, nama I Made Sudiana menjadi simbol dari perjuangan tanpa henti. Dari anak kecil penjual jajanan di sekolah tanpa kantin hingga menjadi pengusaha sukses yang memimpin koperasi, properti, carwash, dan perusahaan peternakan. Ia tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga membangun semangat bahwa kesuksesan sejati adalah ketika seseorang bisa menjadi manfaat bagi banyak orang. Dalam setiap langkahnya, ia menunjukkan bahwa hidup tidak diukur dari seberapa besar hasil yang didapat, melainkan dari keberanian untuk terus melangkah meski jalan di depan belum terlihat. Di sanalah langkah tak terlihat itu perlahan berubah menjadi jejak kemakmuran yang nyata.