Sebuah Jalan Menuju Nirma Uluwatu

Pagi di Pecatu pernah menjadi saksi langkah kecil seorang anak yang memilih bergerak lebih cepat dari usianya. Saat kebanyakan anak masih larut dalam tidur atau menunggu uang jajan dari rumah, Nyoman Parwata telah memulai hari dengan tanggung jawab yang kelak membentuk cara berpikir dan caranya memandang hidup. Dari tanah yang sederhana, dari keluarga petani yang mengandalkan kerja tangan dan ketekunan, tumbuh sebuah karakter yang tidak asing dengan usaha, disiplin, dan kesabaran.

Nyoman Parwata lahir di Pecatu pada tahun 1985 sebagai anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai petani sekaligus tukang kayu, sementara ibunya juga menggantungkan hidup dari bertani. Lingkungan keluarga yang dekat dengan alam dan kerja fisik membentuk keseharian yang apa adanya namun penuh nilai. Sejak kecil, ia terbiasa melihat bagaimana hasil tidak datang dengan cepat, melainkan melalui proses panjang yang menuntut konsistensi.

Masa sekolah dasar dijalaninya di sebuah SD Negeri. Pada fase inilah kemandirian mulai tumbuh lebih awal dibandingkan teman sebayanya. Di rumah, orang tuanya memelihara ayam peternak dalam jumlah yang cukup banyak. Ia diberi tanggung jawab untuk mengumpulkan telur setiap pagi, lalu menjualnya ke pasar atau ke beberapa toko langganan keluarga. Uang dari hasil penjualan telur itu ia gunakan sendiri sebagai uang jajan sekolah. Rutinitas tersebut ia lakukan sebelum berangkat sekolah, tanpa keluhan, tanpa paksaan. Dari aktivitas sederhana itu, ia belajar arti nilai uang, kejujuran, serta hubungan antara kerja dan hasil.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan sekolah di SMP Ngurah Rai. Masa remaja dijalaninya dengan tetap memegang nilai yang sama, mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada orang tua. Lulus dari SMP, pendidikan berlanjut ke SMA Negeri 2 Kuta Selatan. Di bangku SMA, pandangannya mulai terbuka pada dunia yang lebih luas, terutama tentang masa depan dan pilihan hidup yang harus dipikirkan dengan matang.

Selepas SMA, ia memilih melanjutkan pendidikan D3 di Politeknik Pariwisata dengan jurusan Perhotelan. Keputusan ini tidak lepas dari kondisi lingkungan Bali yang lekat dengan dunia pariwisata. Selama masa kuliah, ia tidak hanya fokus pada teori. Ia pernah menjalani training di Melia Benoa Hotel Nusa Dua sebagai housekeeping selama tiga bulan. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman langsung tentang standar kerja, kedisiplinan, dan detail pelayanan dalam industri hospitality.

Di luar jam kuliah, ia juga bekerja sebagai daily worker di beberapa hotel. Waktu luang dimanfaatkan untuk belajar langsung di lapangan, merasakan ritme kerja yang nyata, dan berinteraksi dengan berbagai karakter. Aktivitas ini ia jalani secara konsisten selama masa kuliah, membangun mental pekerja keras sekaligus memperkaya pengalamannya sebelum benar-benar terjun ke dunia profesional.

Setelah lulus kuliah, ia memutuskan untuk menikah di usia 21 tahun. Ia menikah dengan seorang wanita yang memiliki latar belakang orang tua sebagai pengusaha. Dari keluarga baru ini, ia banyak melihat cara berpikir yang berbeda tentang usaha, risiko, dan peluang. Lingkungan tersebut perlahan memperluas wawasannya mengenai dunia bisnis, meski saat itu ia masih berada pada tahap belajar.

Tahun 2008 menjadi titik penting lainnya dalam perjalanan hidupnya. Ia mendapat kesempatan bekerja di sebuah koperasi dan ditempatkan di bagian tabungan. Bidang ini sebelumnya tidak pernah ia pelajari secara formal, baik di sekolah maupun saat kuliah. Namun justru dari situ proses belajar yang sesungguhnya dimulai. Ia mempelajari pengelolaan keuangan, investasi, marketing, serta memahami bagaimana sebuah sistem koperasi dijalankan. Pengalaman ini membentuk cara berpikir yang lebih terstruktur dan realistis dalam melihat uang dan usaha. Hingga kini, ia masih menjadi bagian dari koperasi tersebut.

Pada tahun 2024, setelah melewati proses panjang sebagai pekerja dan pembelajar, ia mulai melihat peluang bisnis yang lebih nyata. Berbekal latar belakang hospitality dan dorongan dari lingkungan keluarga, ia mendirikan Nirma Villa & Guest House Uluwatu. Nama Nirma dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada leluhurnya, sebuah pengingat bahwa setiap langkah ke depan selalu berakar dari masa lalu. Usaha ini juga lahir dari motivasi melihat ayah mertuanya yang telah lebih dulu menekuni dunia usaha.

Perjalanan Nyoman Parwata bukan kisah tentang lompatan besar yang terjadi dalam semalam. Ia adalah rangkaian langkah kecil yang disusun rapi, dari seorang anak yang membantu ternak ayam orang tua dengan menjual telur, pengalaman demi pengalamannya di hospitality, hingga kini membangun dan mengelola villa di Uluwatu. Semua dijalani dengan kesadaran bahwa hidup bukan soal siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling konsisten. Di titik ini, ia masih terus berjalan, menata mimpi dengan tenang, sambil membawa nilai-nilai sederhana, untuk menjadi sosok yang terus belajar dan bersyukur.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!