Pandai Menangkap Peluang, Kreatif dalam Inovasi
Dari sekian banyak kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha, kepandaian menangkap peluang dan kreatif dalam berinovasi adalah dua kemampuan dasar yang telah dimiliki I Wayan Ekayasa. Di samping pekerjaannya di bidang pariwisata, sejumlah usaha yang telah berhasil ia bangun. The Hero Playground adalah salah satu dari sekian bisnis yang ia dirikan terinspirasi saat ia tengah menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. Kini, bisnis tersebut menjadi salah satu playground terbesar yang memiliki fasilitas terlengkap di Bangli.
Kreativitas dalam berinovasi dan kecakapan berbisnis, Wayan dapatkan dari ibunya yang merupakan seorang pengrajin besek di tempat asalnya Desa Susut Bangli. Pria kelahiran tahun 1989 ini terbiasa membantu ibunya menganyam besek sejak kecil di saat ia ditinggal pergi bekerja oleh ayahnya yang sebagai buruh bangunan selama dua minggu. Anak pertama dari tiga bersaudara ini membantu ibunya menganyam besek dan harus selesai selama tiga hari untuk dibawa ke pengepul di pasar. Keras dan disiplin adalah gambaran didikan ibu kepada Wayan, semua itu dilakukan demi membentuk ketangguhan mentalnya sejak dini.
Meskipun tidak setiap hari, Wayan dibangunkan oleh ibunya pukul 04.00 subuh untuk membantu menyelesaikan ayaman besek yang akan dibawa ke pasar. Sepulang sekolah, Wayan kembali melakukan aktivitasnya membantu ibu sampai tidak ada waktu untuk bermain bersama teman-temannya. Tekanan ekonomi keluarga membuat ibunya harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menambah penghasilan yang diperoleh ayahnya sebagai buruh bangunan. Jika ada kesempatan, Wayan mencuri-curi waktu agar bisa bermain bersama teman-temannya. Terkadang Wayan meminjam mainan milik temannya lantaran tidak mampu membeli mainan sendiri karena keterbatasan ekonomi.
Terinspirasi dari sosok ibu, sejak SD Wayan mulai berjualan es lilin ke desa sebelah bersama teman sebaya dengan harapan mendapat uang saku. Aktivitas berjualan itu berlangsung sampai Wayan masuk SMP. Ia pun beralih dari jualan es lilin lalu berjualan tas gandek yang sangat populer pada zaman itu. Sekali mendapat orderan, Wayan mampu mendapatkan Rp5.000 sampai Rp7.000 per hari, kemudian penghasilan tersebut ia tabung. Berjualan dan mampu menghasilkan uang sendiri sejak saat itu telah menjadi kebiasaan. Walaupun sibuk berjualan, Wayan tidak pernah sekalipun mengabaikan pendidikan. Ini terbukti dari prestasi akademiknya di sekolah yang selalu masuk jajaran 5 besar peringkat tertinggi di sekolahnya.
Berkat prestasinya tersebut, Wayan berhasil melanjutkan sekolah ke SMA unggulan di Bangli. Tak hanya unggul dari segi akademis, Wayan juga menorehkan jejak prestasi sebagai atlet sepak takraw di tingkat nasional. Penghasilan yang telah ditabung setelah sekian lama, digunakannya untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti membeli baju dan handphone, bahkan bisa membantu orang tua melakukan renovasi kecil di rumahnya. Semua ini dilakukan berkat hasil kerja kerasnya selama ini. Sejak remaja, Wayan berkeinginan untuk bisa bekerja di kapal pesiar. Sempat dianjurkan orang tua untuk menjadi tentara namun tidak lulus tes masuk. Berkat bibinya yang mapan secara finansial, Wayan diberikan modal sehingga mampu melanjutkan pendidikan di BPLP Bangli mengambil jurusan F&B Service.
Dengan niat yang begitu besar untuk masuk industri pariwisata, meski terbatas dalam kemampuan berbahasa Inggris, Wayan memberanikan diri untuk terus menggeluti bidang ini. Selama kuliah, ia menjalani training di Nusa dua dan tinggal di rumah bibinya di Padangsambian, Denpasar, selama 6 bulan. Usai menyelesaikan kuliah, Wayan kemudian melanjutkan pekerjaan selama 2 tahun di Nusa dua, kemudian mulai berangkat ke kapal pesiar dan bekerja di bagian laundry. Ketika libur di kapal selama 3 bulan di Bali, Wayan membuka bisnis roti bakar Bandung yang masih berjalan sampai saat ini. Wayan kembali mencari peluang di kapal pesiar lain dengan harapan bisa bekerja sebagai waiter. Tak kunjung mendapat panggilan kerja, akhirnya Wayan membuka bisnis toko plastik pada tahun 2017.
Setelah berbisnis sekian lama, tepat pada tahun 2019, Wayan mendapatkan tawaran kerja di kapal yacht dan ditempatkan pada bagian laundry dengan penghasilan besar. Ketika meletusnya perang Ukraina Rusia, Wayan dengan berat hati harus menerima dirinya di PHK karena pemilik kapal tidak mampu memberinya gaji lagi. Sempat menganggur selama 3 bulan, Wayan berhasil kembali bekerja di kapal yacht milik pengusaha asal Venezuella. Toko plastik kemudian Wayan serahkan kepada adiknya untuk dikelola, Wayan pun kembali mencoba membuka bisnis sepatu thrifting melalui media sosial sambil bekerja di yacht. Semakin banyaknya peminat yang datang mendorong Wayan untuk mendirikan toko sepatu sehingga ia mulai menyewa ruko. Toko sepatu bernama Syamantaka Bali ini kini telah memiliki tiga cabang di Br. Pande Bangli depan dealer Honda, Jl. By Pass Dharma Giri Gianyar samping Beli kopi, dan Jl. Raya Batubulan samping Pizza Hut, menjadi salah satu toko sepatu terkenal di Gianyar.
Wayan kembali menangkap peluang bisnis saat mengantarkan anak-anaknya bermain ke sebuah playground saat ia tengah berlibur dari pekerjaannya di kapal. Ide tersebut kemudian ia diskusikan bersama istri dan membeli tanah seluas 6 are untuk membangun playground. Setelah Hari Raya Nyepi, bisnis baru yang akhirnya diberi nama The Hero Playground ini secara resmi dibuka dan mendapat antusiasme luar biasa dari para pengunjung yang berjumlah 300 anak-anak. Wayan mengemas usahanya ini dengan kelengkapan fasilitas permainan anak-anak, tidak lupa dengan sistem yang menjamin keamanan selama anak-anak bermain di playground. Tidak hanya arena bermain anak-anak, playground ini juga dilengkapi panggung terbuka, dan area foodcourt. Selain itu, tersedia juga tempat parkir yang luas dan fasilitas penunjang lainnya.