Merintis Jejak dari Celuk, Membangun Dianatara sebagai Cerita Hidup

Setiap perjalanan besar kerap berawal dari lingkungan yang sederhana, dari rutinitas yang berulang, dan dari nilai kerja keras yang ditanamkan tanpa banyak kata. Di tengah denyut kehidupan Sukawati, Gianyar, tumbuh sosok yang sejak awal akrab dengan proses, ketekunan, dan kesabaran. I Komang Trisna Kusuma Dinata menyerap pelajaran hidup bukan dari teori semata, melainkan dari keseharian yang penuh usaha dan tanggung jawab. Tahun 1994 menjadi penanda awal perjalanannya, ketika ia tumbuh sebagai anak terakhir dari tiga bersaudara dalam keluarga yang menjunjung tinggi keterampilan dan etos kerja. Figur ayah yang menekuni dunia kerajinan perak dan kewirausahaan memberi contoh nyata tentang arti konsistensi, sementara suasana rumah membentuk karakter yang tenang, tekun, dan terbiasa membangun sesuatu dari bawah.

Masa pendidikan ia lalui dengan ritme yang tenang namun pasti. Bangku SD Negeri 3 Celuk menjadi pijakan awal mengenal disiplin dan rasa ingin tahu. Perjalanan berlanjut ke SMP Negeri 1 Sukawati lalu SMA Saraswati 1 Denpasar. Di sela aktivitas sekolah, ia tidak hanya berfokus pada pelajaran formal. Waktu luang dimanfaatkan untuk belajar kehidupan, berinteraksi, dan memahami lingkungan sekitar yang kental dengan dunia kerajinan perak.

Pilihan melanjutkan studi ke Universitas Warmadewa jurusan Ekonomi Manajemen menjadi langkah strategis. Ia ingin memahami bagaimana usaha berjalan tidak hanya dari tangan yang bekerja tetapi juga dari perhitungan yang matang. Bulan Maret 2017 menjadi titik penting ketika gelar sarjana berhasil diraih. Setahun kemudian, ia memulai babak baru kehidupan dengan menikah bersama pasangan yang pernah menjadi rekan sekelas di bangku perkuliahan. Ikatan tersebut menjadi ruang saling bertumbuh dalam perjalanan profesional dan personal.

Usai menyelesaikan studi, ia tidak langsung melangkah jauh. Ia memilih kembali ke akar dengan membantu usaha keluarga bernama Dianatara Silver. Di sana ia terlibat penuh mulai dari pemilihan bahan, proses pembuatan perak, pemasaran hingga pengiriman. Pengalaman tersebut membentuk pemahaman menyeluruh tentang bisnis dari hulu ke hilir. Ia belajar bahwa kualitas produk harus berjalan seiring dengan kepercayaan dan pelayanan.

Ketertarikan pada dunia akomodasi muncul perlahan. Dari obrolan dengan sahabat yang berkecimpung di bidang hospitality, ia mulai melihat peluang yang belum banyak tersentuh di wilayah Celuk. Daerah yang dikenal sebagai sentra perak ternyata masih minim pilihan villa dan guesthouse. Kepekaan membaca peluang inilah yang mendorongnya mengambil keputusan besar.

November 2025 menjadi awal langkah berani dengan berdirinya Dianatara Villa. Tanpa latar belakang hospitality, ia menghadapi tantangan bahasa pelayanan dan standar industri. Namun keterbatasan tidak membuatnya mundur. Ia justru terlibat langsung merancang desain villa dengan sentuhan personal yang merefleksikan identitas dan ketenangan. Proses belajar berlangsung sambil berjalan, dengan keyakinan bahwa konsistensi akan menutup kekurangan awal.

Langkah yang ia bangun tidak pernah terburu-buru. Setiap keputusan diambil dengan pertimbangan dan kesadaran bahwa proses memiliki ritmenya sendiri. Dianatara Villa tumbuh bukan hanya sebagai tempat bermalam, tetapi sebagai ruang yang memuat nilai, ketenangan, dan pengalaman yang dirancang dengan kesungguhan. Usaha ini menjadi cerminan perjalanan hidup yang disusun lapis demi lapis, berangkat dari keberanian melihat peluang, kesediaan untuk belajar dari keterbatasan, serta keyakinan bahwa konsistensi akan selalu menemukan jalannya. Di sanalah ia terus melangkah, merawat apa yang telah dibangun, sambil membuka ruang bagi kemungkinan yang lebih luas di masa depan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!