Menapak dari Bawah, Melangkah dengan Karya

Pagi di Karangasem pernah menjadi saksi langkah kecil seorang anak desa yang kelak menorehkan jejak panjang di dunia konstruksi. Tidak ada kemewahan, tidak ada jalan pintas. Hanya tekad yang tumbuh pelan-pelan, ditempa oleh waktu, kerja keras, dan kesabaran. Dari ruang hidup yang sederhana itulah kisah Wayan Putu Suminta bermula.

Wayan Putu Suminta lahir di Karangasem pada 10 Juli 1970 dari keluarga petani penggarap. Sejak kecil, kehidupan dijalani apa adanya dengan sederhana. Hari-hari diisi dengan bermain bersama teman sebaya, berlarian di sekitar ladang, dan membantu orang tua mengerjakan pekerjaan rumah maupun sawah. Lingkungan sederhana itu membentuk kepekaan, kemandirian, serta kebiasaan bekerja sejak usia dini. Nilai hidup tidak diajarkan lewat kata-kata panjang, melainkan melalui contoh dan rutinitas harian.

Selepas menamatkan SMP, diakibatkan keterbatasan ekonomi membuatnya tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Keputusan itu bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan lain. Ia memilih merantau mengikuti pamannya ke Denpasar dan menetap di Jl. Suli, Denpasar. Pada tahun 1986, hanya selang beberapa bulan tinggal, ia sudah ikut bekerja di proyek. Dunia konstruksi mulai dikenalnya dari bawah, dari mengamati, membantu, dan belajar langsung di lapangan.

Memasuki tahun 1990, arah hidup kembali berbelok. Ia memutuskan berjualan pisang goreng di Pasar Kreneng. Selama empat tahun, hari-harinya dihabiskan dengan menyiapkan bahan baku sejak siang dan berjualan hingga larut malam. Rutinitas itu melelahkan, namun mengajarkan disiplin, ketekunan, serta keuletan menghadapi ritme hidup kota. Setiap hari adalah latihan kesabaran dan konsistensi.

Pada tahun 1995, Wayan Putu Suminta menikah. Setelah itu, kesempatan baru hadir ketika diminta ikut mengerjakan proyek pembangunan rumah tiga lantai. Proyek tersebut berlangsung selama dua tahun dan dikerjakan hanya oleh lima orang. Prosesnya panjang dan menuntut ketelitian tinggi. Dari sana, pemahaman tentang struktur bangunan, pembagian kerja, dan tanggung jawab semakin matang.

Tahun 1998, ia kembali terlibat dalam proyek pembangunan rumah di Ubud. Seusai proyek tersebut, ia sempat kembali ke Denpasar sebelum akhirnya memutuskan menetap dan bekerja di daerah Kuta Selatan. Setiap lokasi, setiap proyek, selalu dijadikan ruang belajar. Ia mengamati tahapan pembangunan dari awal hingga akhir, memahami alur kerja, membaca karakter klien, serta menyerap pengetahuan praktis yang tidak pernah ia dapatkan di bangku sekolah.

Waktu terus berjalan. Pengalaman yang terkumpul perlahan membangun kepercayaan diri. Setiap proyek yang diikuti menjadi bagian dari proses pendewasaan. Hingga pada tahun 2021, kesempatan besar datang. Ia memutuskan berdiri mandiri dan mendapatkan proyek pertamanya di Batubulan. Keberanian itu menjadi titik balik. Setelahnya, proyek di Pecatu hadir dengan tantangan berbeda, yakni pembangunan sebuah restoran. Proyek ini menjadi salah satu yang paling berkesan karena menuntut ketepatan detail dan manajemen kerja yang rapi.

Usaha yang dirintis tidak selalu berjalan mulus. Pandemi sempat menghantam dan memperlambat banyak hal. Namun pada tahun 2022, Wayan Putu Suminta mengambil langkah penting dengan mendirikan perusahaan yang kini dikenal sebagai Guna Construction (PT Guna Arta Utama) beralamat di Jl. Merak, Br. Santhi Karya No.8, Ungasan, Kuta Selatan, Badung. Sejak tahun 2023, perusahaan tersebut menunjukkan perkembangan yang signifikan, memperluas jangkauan proyek dan memperkuat reputasi.

Di balik pertumbuhan yang terus ia bangun, ada prinsip hidup yang dijaga dengan konsisten. Ia terbiasa belajar dari mana saja, tidak hanya dari teori, tetapi terutama dari pengalaman langsung di lapangan yang membentuk kepekaan dan ketajaman dalam bekerja. Setiap proses dijalani dengan sungguh-sungguh, dari tahap awal hingga pekerjaan dinyatakan selesai. Kepada setiap pegawai, ia selalu menekankan bahwa kualitas kerja adalah harga diri, dan kebersihan setelah proyek rampung mencerminkan tanggung jawab serta profesionalisme. Baginya, sebuah proyek tidak cukup hanya dinilai dari bangunan yang berdiri kokoh, tetapi juga dari kesan baik yang ditinggalkan dan kepercayaan yang tumbuh dari klien serta lingkungan sekitar.

Pesan hidup yang terus ia pegang terasa sederhana, namun memiliki makna yang dalam. Jangan berbuat ulah di rantauan dan jangan pernah sombong dalam kondisi apa pun. Nilai tersebut diwariskan orang tuanya sejak kecil dan menjadi kompas dalam setiap langkah yang diambil. Dari hamparan sawah di Karangasem hingga keberanian mendirikan PT Guna Arta Utama, perjalanan Wayan Putu Suminta membuktikan bahwa ketekunan, kerendahan hati, serta kemauan untuk terus belajar mampu mengantarkan seseorang melewati batas keterbatasan dan membuka jalan yang luas bagi siapa pun yang mau berproses dengan jujur dan konsisten.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!