Arah Angin Baru dari sebuah Warisan Pengabdian
Ia mengamati bagaimana keputusan lahir, bagaimana perbincangan menentukan arah sebuah perusahaan, di antara dinamika dan bagaimana keberanian menghadapi tantangan menjadi bagian dari napas harian dunia usaha. Dari pengalaman itu tumbuh sebuah keyakinan yang tidak pernah padam bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang ditunggu, melainkan dibentuk lewat kerja, ketekunan dan keberanian untuk terus belajar. Di sinilah perjalanan seorang pemimpin muda bermula. Nama itu adalah Anak Agung Ngurah Aditya Pradnyana Sunu.
Lahir pada 7 Oktober 1990 sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, Gung Adit menapaki masa kecil yang berbeda dibandingkan banyak anak seusianya. Ketika anak lain sibuk bermain, ia memilih mengikuti sang ayah yang dikenal sebagai salah satu tokoh penggerak ekonomi di Bali. Ia menyaksikan bagaimana usaha dibangun, bagaimana nilai dijaga, serta bagaimana upaya yang tidak pernah selesai menjadi fondasi bagi keluarga maupun bagi masyarakat luas. Bagi Gung Adit, sang ayah bukan sekadar orang tua. Ia adalah rekan bertukar pikiran, sumber inspirasi sekaligus sosok yang mengajarkan cara melihat dunia dengan penuh tanggung jawab.
Kebiasaan mendampingi ayah sejak kecil menanamkan pemahaman awal bahwa setiap keputusan memiliki dampak bagi banyak orang. Pola pikir itu melekat sampai ia dewasa. Ketika mendapat kesempatan menempuh pendidikan formal di luar negeri, Gung Adit membawa nilai rumah ke lingkungan baru yang menuntut kedewasaan dan ketangkasan dalam beradaptasi. Berkat sifatnya yang mudah bergaul, ia tidak kesulitan menjalin hubungan dengan berbagai karakter dan kultur. Pengalaman bertemu dunia yang lebih luas memperkaya sudut pandangnya, mempertebal rasa percaya diri dan memperkuat intuisi sebagai calon pemimpin masa depan.
Selama masa kuliah, Gung Adit dikenal aktif dalam berbagai organisasi. Ia bukan tipe yang hanya mengejar prestasi akademik. Baginya, organisasi adalah ruang untuk menguji kemampuan, mengendalikan ego, memperluas jejaring dan membangun cara berpikir yang lebih strategis. Di sanalah ia semakin terbiasa berdiskusi, mendengarkan gagasan orang lain, serta menyaring beragam perspektif menjadi satu arah yang jelas. Kemampuan itu kelak menjadi modal penting ketika ia kembali ke tanah kelahiran.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Ia memilih untuk bekerja di salah satu unit perusahaan, yaitu di bidang IT. Keputusan itu ia ambil dengan sadar karena baginya pengalaman lapangan adalah jalan terbaik untuk menguatkan mental. Ia ingin memahami seluk beluk usaha secara utuh, mulai dari persoalan kecil yang tidak terlihat hingga tantangan besar yang menentukan keberlangsungan perusahaan.
Selama berada di unit tersebut, Gung Adit menemukan banyak hal yang tidak pernah ia lihat ketika masih kecil. Ia merasakan bagaimana tekanan bekerja berdampingan dengan tekad untuk bertahan. Ia belajar menghargai peran setiap individu yang menjalankan roda usaha, dari staf paling awal sampai jajaran pengambil keputusan. Ia melihat bahwa perusahaan tidak hanya dibangun oleh ide, tetapi juga oleh ketulusan dan kerja kolektif yang tidak selalu tampak di permukaan. Pengalaman itu mengajarkannya untuk memimpin dengan empati, bukan hanya dengan instruksi.
Seiring waktu, kemampuan dan dedikasi Gung Adit semakin terlihat. Kepekaannya membaca perubahan serta keberanian mengambil langkah membuatnya siap memikul tanggung jawab lebih besar. Ia kemudian dipercaya melanjutkan tongkat estafet sebagai CEO PT Khrisna Group, sebuah perusahaan yang mempunyai jejak panjang dalam perkembangan ekonomi Bali. Memimpin perusahaan sebesar itu bukan hal mudah. Kondisi dunia yang bergerak cepat menuntut pemikiran segar, ketahanan menghadapi krisis dan kemampuan memahami perubahan perilaku pasar.


Walau banyak halangan muncul, Gung Adit tidak pernah berhenti menciptakan pembaruan. Baginya, inovasi adalah bentuk pengabdian. Ia percaya bahwa perusahaan harus tetap relevan agar dapat memberi manfaat bagi lingkungan sosial dan perekonomian daerah. Ia menggerakkan tim untuk melihat peluang baru, memperbaiki sistem kerja, memperkuat kualitas pelayanan dan merawat kepercayaan masyarakat. Kedekatannya dengan para karyawan membantunya menjaga dinamika internal tetap sehat. Ia tidak memimpin dari kejauhan, melainkan turut berada pada alur kerja yang dijalani setiap hari.


Dalam setiap keputusan yang ia ambil, terdapat nilai yang diwariskan ayahnya. Nilai yang membuatnya teguh bahwa tanggung jawab pemimpin bukan hanya menjaga perusahaan tetap berjalan, tetapi memastikan bahwa perjalanan itu membawa dampak baik bagi banyak orang. Keterbukaannya berdiskusi membuat ia mampu mendengar gagasan segar dari generasi muda, sekaligus menghargai pengalaman panjang dari mereka yang sudah lebih dulu berjuang. Ia merangkul kedua sisi itu untuk menciptakan keseimbangan.

Di balik keaktifannya memimpin, Gung Adit tidak melupakan karakter yang ia bangun sejak muda. Ia menjaga hubungan sosial dengan komunitas, berbaur dalam kegiatan sehari hari dan mendukung berbagai kegiatan yang mendorong pertumbuhan kreativitas masyarakat. Ia percaya bahwa perusahaan tidak bisa berjalan terpisah dari lingkungan. Kedekatan itu pula yang membuatnya selalu melihat perkembangan sosial sebagai inspirasi.
Pesan sederhana yang sering ia sampaikan menggambarkan prinsip hidup yang ia pegang. Jika ingin mengerjakan sesuatu lakukanlah dengan maksimal dan sampai beres. Kalimat itu bukan hanya motivasi, melainkan refleksi dari perjalanan panjangnya yang penuh pembelajaran sejak masa kecil. Ia tahu bahwa penyelesaian yang tuntas selalu menuntut komitmen. Ia sendiri telah membuktikannya dengan gaya kepemimpinan yang tekun dan berani menghadapi tantangan masa kini.

Kini, ketika ia berada di posisi yang dahulu hanya dapat ia bayangkan, Gung Adit tetap memandang perjalanan ini sebagai proses yang terus berubah. Baginya merwarisi sebuah pencapaian memiliki beban lebih berat ketimbang saat memulainya, namun Ia melihat masa depan PT Khrisna Group sebagai ruang luas yang membutuhkan pemikiran segar, keberanian mengambil langkah strategis dan niat menjaga nilai yang sudah diwariskan. Dengan semangat itu ia melangkah membawa perusahaan menuju fase baru, sebuah fase yang tidak hanya menonjolkan pertumbuhan usaha, tetapi juga kontribusi pada masyarakat dan generasi berikutnya.
Dedikasi yang ia tunjukkan menjadi bukti bahwa seorang pemimpin tidak terbentuk dalam sehari. Ia tumbuh dari pengalaman, ketelatenan dan keberanian menghadapi kenyataan. Jejak langkahnya memperlihatkan bahwa masa depan akan selalu berpihak pada mereka yang bekerja sepenuh hati. Dari anak kecil yang menemani ayahnya bekerja, kini berdirilah seorang CEO yang memimpin dengan visi dan ketulusan.
