Kompas yang Lahir dari Perjalanan Panjang
Setiap perjalanan membutuhkan arah yang jelas. Tanpa penunjuk jalan, langkah mudah tersesat di tengah banyaknya pilihan. Dunia pariwisata pun memiliki dinamika serupa. Banyak destinasi memikat, beragam kebutuhan wisatawan, serta tantangan industri yang terus berubah. Sosok yang mampu membaca arah perjalanan akan memiliki keunggulan tersendiri. Supriyadi menjadi salah satu figur yang menemukan jalannya melalui pengalaman panjang, kerja keras, serta keberanian memulai dari awal hingga akhirnya membangun Travelling Compass sebagai perusahaan perjalanan yang terus berkembang.
Supriyadi lahir di Tulungagung, Jawa Timur pada tahun 1977. Lingkungan tempat ia tumbuh sederhana. Orang tua bekerja sebagai pedagang kelontong di pasar. Aktivitas perdagangan yang ia lihat sejak kecil menanamkan pemahaman awal mengenai kerja keras dan ketekunan. Kehidupan keluarga yang sederhana juga membentuk karakter mandiri dalam dirinya. Supriyadi merupakan anak pertama dari tiga bersaudara sehingga sejak muda ia terbiasa memikul tanggung jawab lebih besar.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Tugu Tiga. Setelah itu ia melanjutkan ke SMP Negeri Karangrojo. Minat terhadap dunia perjalanan mulai terbentuk saat ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke SMK Kertawisata dengan jurusan perjalanan wisata. Pilihan tersebut menjadi langkah awal yang mengarahkan masa depannya menuju industri pariwisata.
Ketertarikan terhadap dunia perjalanan mendorongnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah lulus dari SMK, Supriyadi memutuskan merantau ke Bali untuk menempuh pendidikan di Akademi Pariwisata Denpasar pada program studi perjalanan wisata D3. Keputusan merantau pada pertengahan dekade 1990 menjadi langkah penting yang membuka banyak kesempatan dalam hidupnya.
Tahun 1995 menjadi awal perjalanan Supriyadi di Bali. Pulau tersebut dikenal sebagai pusat pariwisata Indonesia sehingga memberikan lingkungan belajar yang sangat relevan bagi mahasiswa pariwisata. Selama menempuh pendidikan, ia mulai memahami secara langsung bagaimana industri perjalanan bekerja, mulai dari pelayanan wisatawan hingga pengelolaan perjalanan.
Setelah menyelesaikan pendidikan pada tahun 1998, Supriyadi mulai memasuki dunia kerja. Kariernya dimulai di sebuah agen perjalanan kecil bernama Yes Tour. Ia bekerja di perusahaan tersebut selama tiga setengah tahun. Masa ini menjadi periode pembelajaran yang sangat penting karena ia berinteraksi langsung dengan wisatawan serta memahami operasional travel agent dari dekat.
Namun perjalanan karier tidak selalu berjalan lurus. Setelah keluar dari perusahaan tersebut, Supriyadi sempat mencoba membuka usaha reparasi komputer bersama seorang teman. Usaha itu bertahan sekitar enam bulan. Meski tidak berlangsung lama, pengalaman tersebut memberikan pelajaran mengenai dunia usaha dan risiko yang harus dihadapi.
Pada masa yang sama kehidupan pribadinya juga mengalami perubahan besar. Ia menikah pada usia yang masih sangat muda. Tanggung jawab keluarga membuatnya terus berusaha mencari pekerjaan yang lebih stabil. Setelah usaha komputer berhenti, Supriyadi sempat menjalani berbagai pekerjaan termasuk freelance servis komputer dan menjaga warnet selama beberapa bulan.
Kesempatan baru datang ketika ia bergabung dengan Pacific World. Perusahaan ini menjadi tempat yang sangat berpengaruh dalam perjalanan kariernya. Supriyadi bekerja di sana selama kurang lebih sembilan setengah tahun sejak 2001 hingga sekitar 2010 atau 2011. Waktu yang panjang tersebut memberinya pengalaman luas dalam industri perjalanan, mulai dari pengelolaan tamu hingga jaringan bisnis internasional.
Setelah meninggalkan Pacific World, Supriyadi mencoba langkah baru dengan membuka Online Travel Agent bersama seorang mitra dari Australia pada tahun 2011. Kerja sama ini berlangsung sekitar sebelas bulan. Sayangnya usaha tersebut tidak bertahan lama karena terjadi masalah dengan mitra bisnisnya. Pengalaman ini kembali mengajarkannya bahwa dunia usaha sering kali menghadirkan tantangan yang tidak terduga.
Karier Supriyadi kemudian berlanjut di beberapa perusahaan perjalanan lainnya. Ia pernah bekerja di GTA selama sekitar satu setengah tahun. Setelah itu ia bergabung dengan MG Holiday selama periode yang sama. Pengalaman di berbagai perusahaan tersebut memperkaya pemahamannya tentang pasar wisata internasional serta cara mengelola layanan perjalanan yang profesional.
Kesempatan besar datang ketika pemilik Red Apple Travel menghubunginya secara langsung dan menawarkan posisi sebagai General Manager. Supriyadi menerima tawaran tersebut dan memimpin perusahaan selama sekitar tiga setengah tahun. Posisi ini memberinya kesempatan mengelola perusahaan secara lebih strategis, mulai dari pengembangan pasar hingga pengelolaan tim kerja.
Pada masa bekerja di Red Apple Travel, gagasan untuk membangun usaha sendiri mulai terbentuk. Ia menyadari bahwa pengalaman panjang yang dimilikinya dapat menjadi fondasi kuat untuk mendirikan perusahaan perjalanan sendiri. Nama Travelling Compass bahkan sudah mulai terpikirkan pada periode tersebut.
Akhirnya pada 1 November 2018, Supriyadi resmi mendirikan Travelling Compass. Perusahaan ini lahir dari keyakinannya bahwa industri perjalanan selalu memiliki peluang bagi mereka yang mampu membaca arah pasar. Nama Travelling Compass dipilih karena mencerminkan fungsi kompas sebagai penunjuk arah. Dalam konteks bisnis pariwisata, perusahaan ini diharapkan mampu menjadi panduan bagi wisatawan dalam menemukan pengalaman perjalanan terbaik.
Perjalanan usaha tersebut tidak lama kemudian menghadapi ujian besar ketika pandemi Covid melanda dunia. Industri pariwisata hampir berhenti total sehingga banyak agen perjalanan mengalami masa sulit. Travelling Compass juga sempat vakum dalam periode tersebut.
Supriyadi tidak memilih untuk menyerah. Ia memanfaatkan waktu dengan mencoba bisnis jual beli properti selama sekitar delapan bulan. Aktivitas tersebut menjadi cara untuk tetap produktif sambil menunggu sektor pariwisata kembali bergerak.
Ketika industri perjalanan mulai menunjukkan tanda pemulihan, Supriyadi melihat peluang baru dari pasar Maldives. Sekitar tahun 2021 ia mulai mengembangkan penjualan paket wisata ke destinasi tersebut. Pasar ini berkembang cukup cepat dan membantu Travelling Compass kembali bergerak setelah masa pandemi.
Perusahaan kemudian memperluas jaringan dengan membuka aktivitas bisnis yang terhubung dengan pasar India. Strategi ini terbukti efektif karena wisatawan dari India menjadi salah satu segmen pasar yang terus berkembang. Selain itu Travelling Compass juga melayani pasar Turki serta mulai mencoba menjangkau wisatawan dari Eropa.
Perkembangan perusahaan juga terlihat dari pertumbuhan tim kerja. Saat ini Travelling Compass memiliki sekitar 25 karyawan yang bekerja dalam berbagai bidang operasional perjalanan. Pada tahun 2023 kantor perusahaan juga berpindah dari kawasan Imam Bonjol ke Renon tepatnya di Tukad Batanghari, Denpasar. Perpindahan lokasi ini menandai fase baru pertumbuhan perusahaan.
Bagi Supriyadi, membangun Travelling Compass bukan sekadar menjalankan bisnis perjalanan. Ia ingin menghadirkan perusahaan yang mampu memberikan arah bagi wisatawan sekaligus menciptakan peluang bagi banyak orang yang bekerja di dalamnya. Setiap perjalanan yang diatur oleh perusahaan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan keindahan destinasi kepada dunia.
Visi jangka panjang yang ia miliki juga cukup besar. Supriyadi berharap suatu hari Travelling Compass dapat berkembang menjadi perusahaan terbuka yang memiliki struktur bisnis lebih luas dan profesional. Impian tersebut mencerminkan keyakinannya bahwa usaha yang dibangun dari pengalaman panjang dapat terus bertumbuh apabila dikelola dengan konsistensi dan keberanian melihat peluang.
Perjalanan hidup Supriyadi menunjukkan bahwa kesuksesan sering kali lahir dari proses panjang yang penuh liku. Dari seorang anak pedagang pasar di Tulungagung hingga menjadi pemilik perusahaan perjalanan di Bali, setiap langkah yang ia tempuh membentuk arah hidupnya. Travelling Compass akhirnya menjadi simbol dari perjalanan tersebut. Sebuah kompas yang lahir dari pengalaman, ketekunan, serta keyakinan bahwa setiap perjalanan selalu memiliki arah bagi mereka yang berani melangkah.