Tinta yang Membawa Nama Bali ke Panggung Internasional

Suara mesin tattoo yang berdengung sering terdengar seperti irama bagi mereka yang hidup di dunia seni tubuh. Garis tinta yang perlahan terbentuk pada kulit menyimpan cerita tentang ketekunan, keberanian, dan perjalanan panjang seorang seniman. Lolit Made memahami makna itu sejak usia muda. Setiap karya yang ia buat bukan sekadar gambar, melainkan potongan kisah hidup yang ia bawa dari masa kecil hingga kini.

I Made Yoga Adi Putra yang akrab disapa Lolit Made lahir di Gianyar pada tahun 1996. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang hidup dengan keterbatasan. Keadaan tersebut tidak membuatnya kehilangan semangat untuk mengejar hal yang ia sukai. Sejak kecil ia telah menunjukkan ketertarikan pada dunia seni. Kertas gambar dan pensil menjadi teman yang membuatnya merasa bebas mengekspresikan imajinasi.

Pendidikan dasarnya ia tempuh di SD Negeri 3 Bitera. Masa sekolah dasar menjadi waktu ketika bakat menggambar semakin terlihat. Ia sering menghabiskan waktu menggambar berbagai bentuk yang terlintas di pikirannya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan sekolah di SMP Negeri 2 Gianyar. Minat pada seni tidak pernah berkurang, justru semakin berkembang ketika ia mulai mengenal lebih banyak teknik menggambar.

Langkah berikutnya membawa Lolit Made ke SMK Negeri 1 Sukawati dengan memilih jurusan seni rupa. Lingkungan sekolah seni memberikan ruang lebih luas bagi dirinya untuk mengeksplorasi kemampuan. Berbagai teknik menggambar dan melukis mulai ia pelajari dengan serius. Pada masa inilah ia mulai memahami bahwa seni bukan hanya sekadar hobi, tetapi dapat menjadi jalan hidup.

Setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan, ia melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia Denpasar atau Institut Seni Indonesia Denpasar dengan mengambil jurusan seni rupa. Dunia kampus memberikan pengalaman baru sekaligus tantangan yang tidak mudah. Ia harus membagi waktu antara belajar dan mencari penghasilan. Kondisi ekonomi membuatnya tidak bisa hanya bergantung pada pendidikan formal.

Perjalanan kuliahnya akhirnya hanya berlangsung hingga semester empat. Kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan membuatnya harus mengambil keputusan yang berat. Walaupun demikian, pengalaman dua tahun di kampus seni memberikan dasar kuat bagi perjalanan kreatifnya.

Pada masa semester empat itulah ia mulai mengenal dunia tattoo secara serius. Ketertarikannya muncul karena melihat tattoo sebagai medium seni yang hidup dan bergerak bersama manusia. Kulit menjadi kanvas yang menyimpan cerita personal bagi setiap orang yang memilikinya.

Awalnya ia belajar tattoo secara perlahan sambil mengasah teknik menggambar yang telah ia miliki sejak lama. Kemampuan tersebut kemudian membawanya bekerja sebagai tattoo artist di studio milik seorang teman. Dari tempat itulah ia belajar banyak mengenai teknik, kedisiplinan, serta cara memahami keinginan klien.

Pengalaman tersebut menjadi sekolah penting bagi perkembangan kariernya. Setelah beberapa waktu ia kemudian berpindah ke studio tattoo lain untuk memperluas pengalaman. Setiap studio memberikan tantangan berbeda yang memperkaya keterampilannya sebagai seniman tattoo.

Dalam berkarya, Lolit Made memiliki ketertarikan kuat pada gaya realis dan Balinese. Gaya realis menuntut ketelitian tinggi karena gambar harus tampak hidup dan detail. Sementara itu unsur Balinese membawa sentuhan budaya yang menjadi identitas khas dari Bali. Perpaduan kedua gaya ini membuat karya yang ia hasilkan memiliki karakter yang kuat.

Kepercayaan diri untuk tampil di panggung yang lebih luas mulai muncul ketika ia mengikuti ajang tattoo expo. Salah satu pengalaman awalnya adalah mengikuti event tattoo di kawasan Tohpati yang dikenal sebagai salah satu pusat seni di Bali. Saat itu ia baru sekitar dua tahun bekerja sebagai tattoo artist.

Keikutsertaan pertamanya justru memberikan hasil yang mengejutkan. Ia berhasil meraih penghargaan best realist serta dua penghargaan lainnya. Prestasi tersebut menjadi titik penting yang membuat namanya mulai dikenal di kalangan komunitas tattoo.

Semangat untuk terus berkembang membuatnya kembali mengikuti expo pada tahun berikutnya. Ajang tersebut kembali memberinya beberapa penghargaan. Pengalaman mengikuti berbagai kompetisi membuatnya semakin percaya diri untuk membawa karyanya ke level yang lebih tinggi.

Perjalanan hidup kembali menghadirkan tantangan ketika pandemi melanda dunia. Aktivitas tattoo yang bergantung pada pertemuan langsung dengan klien mengalami penurunan drastis. Kondisi tersebut memaksanya mencari cara lain untuk bertahan.

Pada masa itu ia mencoba memasuki dunia tanaman hias. Ia mulai mengoleksi serta melakukan jual beli bonsai. Aktivitas tersebut bukan hanya menjadi sumber penghasilan sementara, tetapi juga memberi ketenangan di tengah situasi yang tidak menentu.

Ketika kondisi mulai membaik, Lolit Made kembali fokus pada dunia tattoo. Pengalaman yang ia kumpulkan selama bertahun tahun membuatnya semakin matang sebagai seniman. Ia mulai berani membawa karyanya ke panggung internasional.

Pada tahun 2023 ia mengikuti ajang tattoo internasional di Australia bernama Australian Tattoo Expo. Ajang tersebut mempertemukan seniman tattoo dari berbagai negara dengan standar karya yang sangat tinggi. Bagi Lolit Made, mengikuti kompetisi tersebut adalah kesempatan besar untuk menguji kemampuan sekaligus memperkenalkan karya dari Bali.

Usaha tersebut membuahkan hasil membanggakan. Dalam kompetisi tersebut ia berhasil meraih penghargaan Small Black and Grey. Penghargaan ini menjadi pengakuan internasional pertama bagi karyanya.

Dua bulan setelah itu ia kembali mengikuti kompetisi tattoo di Australia yaitu Brisbane Tattoo Expo. Dalam ajang tersebut ia kembali menunjukkan kualitas karyanya dengan meraih penghargaan Best Realistic. Prestasi tersebut memperkuat posisinya sebagai salah satu seniman tattoo Bali yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Perjalanan kariernya kemudian membawa Lolit Made mendirikan studio tattoo sendiri yang bernama Chicano Tattoo Bali Studio. Studio ini menjadi ruang bagi dirinya untuk terus berkarya sekaligus membangun identitas artistik yang kuat.

Nama Chicano dalam dunia tattoo dikenal sebagai gaya seni yang berasal dari komunitas Latino di Amerika Serikat. Gaya ini identik dengan teknik black and grey yang halus, detail realistis, serta elemen simbolik yang kuat. Gaya tersebut berkembang dari budaya jalanan dan kemudian menjadi salah satu aliran penting dalam seni tattoo modern.

Melalui Chicano Tattoo Bali Studio, Lolit Made tidak hanya menghadirkan layanan tattoo profesional, tetapi juga membawa semangat seni yang menghargai detail dan cerita personal di balik setiap karya. Studio tersebut menjadi tempat di mana berbagai gaya tattoo dapat berkembang dengan sentuhan artistik yang kuat.

Bagi Lolit Made, tattoo bukan sekadar gambar di kulit. Ia melihatnya sebagai bentuk ekspresi diri yang memiliki nilai seni tinggi. Selama bertahun tahun dunia tattoo sering dipandang dengan stigma negatif yang mengaitkannya dengan kriminalitas atau kehidupan yang kelam.

Pandangan tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk menunjukkan sisi lain dari seni tattoo. Melalui karya dan prestasi yang ia raih, ia ingin memperlihatkan bahwa tattoo adalah bagian dari dunia seni yang memiliki nilai estetika, teknik, dan dedikasi tinggi.

Perjalanan hidup Lolit Made dari Gianyar hingga panggung tattoo internasional membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Dari kertas gambar masa kecil hingga tinta di kulit manusia, setiap langkahnya membawa satu pesan sederhana tentang keberanian mengejar passion.

Bagi dirinya, setiap karya tattoo adalah jejak perjalanan yang tidak hanya menghiasi tubuh seseorang, tetapi juga menyimpan cerita tentang mimpi yang terus bergerak maju.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!