Sajikan Kuliner Lokal dengan View Spektakuler Warung Bubur ini Jadi Fenomenal

Majalah Bali | Siapa yang tak kenal dengan makanan bernama bubur?, Olahan dari beras ini sangat akrab dalam keseharian masyarakat Indonesia dan sangat mudah ditemukan di berbagai daerah. Di Bali ada satu tempat yang menyajikan bubur secara unik. Bukan saja karena memanjakan lidah pengunjung dengan kuliner mengunggah selera, juga menyajikan pemandangan yang memanjakan mata. Kini di tengah pandemi yang melanda, Warung Bubur ini justru viral atau fenomenal di kalangan pecinta kuliner Bali.

Namanya adalah Warung Bubur Betutu Beras Merah, berlokasi di daerah Jatiluwih, Tabanan. Kita sudah dapat membayangkan menu apa yang menjadi andalan dari tempat makan ini. Ya, menu yang kerap menjadi incaran adalah bubur yang terbuat dari beras merah. Sedangkan lauk pendampingnya yaitu betutu, panganan berupa ayam atau bebek yang diolah bersama bumbu base genep khas Bali.

I Wayan Wiranata, pemilik dari warung makan ini adalah putra daerah asli Jatiluwih. Ia membuat inovasi kuliner dari beras merah karena daerah asalnya itu merupakan penghasil beras terbesar di Bali. Selain ingin mengangkat potensi daerahnya, pria yang akrab disapa Pak Lisa ini juga memilih beras merah karena kandungan gizi di dalamnya bermanfaat bagi tubuh. Beras jenis ini sangat cocok dikonsumsi untuk mengontrol gula darah juga dapat melancarkan pencernaan.

Seporsi bubur betutu beras merah berisi beberapa komponen yaitu bubur, betutu yang di suir, sayuran, telur, kacang, kremesan dan lebih mantap ketika disiram kuah betutu yang masih hangat. Harga yang ditawarkan pun masih sangat terjngkau untuk ukuran daerah pariwisata. Sehingga berbagai kalangan dapat datang untuk menikmati kuliner tradisional tersebut.

Selain menu bubur betutu beras merah, ada pula pilihan hidangan lainnya yang tak kalah enak. Mulai dari nasi goreng, be menyatnyat, menu masakan western dan jajanan khas Bali. Ada pula pilihan minuman yang patut dicoba untuk melepas dahaga atau sebagai teman menyantap makanan di warung makan ini. Tempatnya yang luas dan nyaman semakin menunjang kegiatan bersantap baik bersama pasangan atau keluarga. Pengunjung bisa duduk di deretan kursi yang disediakan ataupun lesehan di gazebo yang jumlahnya cukup banyak.

Meski lokasinya cukup jauh dari pusat kota, namun perjalanan ke warung makan ini terbayarkan dengan setimpal. Pengunjung Warung Bubur Betutu Beras Merah dapat menyantap hidangan yang nikmat sembari menyaksikan pemandangan di sekitar. Warung ini lokasinya memang berdampingan dengan hamparan persawahan seluas ratusan hektar. Bentuk sawah yang khas yaitu berundag membuat nama Jatiluwih dikenal di mata internasional.

Wayan Wiranata membuka warung makan di atas lahan milik keluarga. Pria yang berpengalaman kerja di Cruise Line ini memiliki visi memajukan kampung halamannya yakni dengan mengangkat potensi pariwisata di Jatiluwih. Apalagi saat ini daerah tersebut sudah masuk ke dalam daftar warisan tak benda dari organisasi dunia UNESCO. Menurutnya saat ini merupakan momentum untuk mengemas sumber daya di daerah Jatiluwih agar dapat bersaing dengan daerah pariwisata di Bali Selatan.

“Satu abad yang lalu sebelum pariwisata Bali maju seperti sekarang, banyak orang dari Badung Selatan berbondong-bodong datang ke Jatiluwih untuk mencari sumber penghasilan. Pertanian di daerah ini sangat maju sehingga banyak yang hidup dengan profesi sebagai petani. Sekarang saya ingin kembali seperti dulu lagi yaitu banyak orang yang sejahtera melalui potensi daerah Jatiluwih. Namun kali ini dengan mengawinkan antara pariwisata dengan pertanian”, ungkap pria kelahiran Oktober 1979 tersebut.

 

 

Kapal Pesiar

Wayan Wiranata mengenang masa-masa kecilnya yang banyak dihabiskan di sawah. Sebagian besar masyarakat di desanya mengolah tanah pertanian, termasuk pula orangtua Wayan Wiranata. Ia pun kerap membantu pekerjaan orangtua di sawah sembari sesekali bermain di sana. Walaupun bertani dan memiliki lahan, tak serta merta membuat ekonomi keluarganya terangkat. Wiranata pun masih ingat betul betapa getir hidupnya dahulu.

“Terkadang saya menerima cemooh karena kehidupan yang miskin. Namun hal itu saya jadikan sebagai cambuk pelecut semangat untuk bekerja keras memajukan taraf kehidupan”, kenang Wayan Wiranata.

Sebagai anak satu-satunya di keluarga, ia memiliki beban moral untuk membahagiakan kedua orangtuanya. Ia ingin keluar dari situasi serba sulit yang dihadapinya dengan giat belajar sebagai bekal mencari pekerjaan. Setelah lulus SMA, ia sempat melanjutkan pendidikan diploma pariwisata kemudian bekerja di perhotelan. Salah satu hotel tempatnya meniti karier yaitu di Jakarta, dari sana ia pelan-pelan mulai memperbaiki nasib.

Tatkala bekerja di Jakarta, ia mendapat kesempatan untuk bekerja di kapal pesiar. Tentunya kesempatan itu tak ia sia-siakan karena merupakan profesi yang dapat mendatangkan penghasilan cukup besar. Atas restu orangtuanya, Wayan Wiranata pun berangkat keluar negeri untuk berkarier di sana. Sampai akhirnya ia dipromosikan sebagai assistant manager di kapal, ia justru berkeinginan untuk pulang ke tanah kelahiran. “Saya terbiasa bertumbuh di persawahan, jadi ingin menghabiskan hidup juga di sawah”, selorohnya.

Sepulangnya ke tanah air, suami dari Ni Luh Gede Ratna Dewi ini memutuskan berwirausaha. Ia mengembangkan beberapa lini usaha, mulai dari kuliner, retail dan grosir. Salah satu usaha miliknya bernama GS Mart, merupakan toko retail modern yang menawarkan kenyamanan belanja kepada konsumen dengan harga terjangkau. Meskipun banyak toko sejenis dari brand waralaba besar bermunculan, terbukti GS Mart masih mampu bersaing. Bahkan di masa pandemi ia bukannya merumahkan karyawan melainkan mampu merekrut lebih banyak tenaga kerja.

Wayan Wiranata berpesan kepada generasi muda lainnya agar berani untuk keluar zona nyaman karena terbukti hal itu merupakan langkah awal menuju kesuksesan. Selain itu ia juga berpesan kepada rekan-rekan pengusaha lainnya agar tidak cepat menyerah, seperti pada saat pandemi sekarang ini. Memang semua lapisan masyarakat terdampak namun ia yakin badai ini pasti akan berlalu dan hanya menyisakan mereka yang mau giat berusaha.

 

 

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!