Pertemuan dengan Malaikat Tak Bersayap yang Membuahkan Karma Baik

Kita memang tidak pernah tahu, bagaimana perjalanan hidup kita sebelum terlahir ke dunia. Namun tak bisa dipungkiri, kepercayaan Susanto dengan adanya karma, terbukti ia peroleh di kehidupannya masa kini. Bagi Susanto, pertemuannya dengan Bapak John, sosok yang sudah ia anggap lebih dari orangtua kandungnya, bisa jadi merupakan salah satu hasil dari memetik buah karma kesabarannya, setelah ia lulus dari ujian Tuhan dan mampu melewati proses perjalanan masa-masa yang tidak mudah.

Pekerjaan orang tua yang hanya penjual makanan di pinggir jalan, sedangkan saudara-saudaranya ada tujuh orang, tentu membutuhkan biaya hidup tidak sedikit. Susanto pun berani mengatakan bahwa dirinya berasal dari keluarga miskin, biaya sekolah yang sudah diberikan kebijakan oleh sekolah dengan setengah harga, orang tuanya pun masih kurang mampu untuk membayar

Usaha sederhana dari Susanto untuk membantu meringankan beban orang tua dengan menjual ikan hias pun masih belum cukup. Belum lagi pandangan orang-orang di sekitar tempat tinggal yang merendahkan keluarganya, karena keadaan ekonomi.

Tak sampai di sana upaya Susanto, ia juga sempat bekerja sebagai kuli paling rendah di sebuah mebel. Namun karena kelelahan bekerja dan menganggu proses belajar di sekolah, ia memilih untuk berhenti setelah selama dua tahun.

Keadaan ekonomi yang memprihatinkan, tak melunturkan semangat Susanto untuk terus tetap sekolah. Tak ada semangat khusus dari siapapun yang ia dapat, hanyalah motivasi dari diri sendiri.

Di kelas I SMA, ia mulai memperoleh pekerjaan yang lebih baik, dengan tetap melanjutkan sekolah. Ia memberikan les pelajaran untuk anakanak kelas I SD – kelas I SMP, kira-kira dari 20 orang anak yang ia ajarkan, kebutuhan ekonominya sedikit demi sedikit mulai membaik.

Lulus SMA, anak bungsu ini melangkah ke Jakarta, menyusul dua orang kakaknya yang bekerja disana. Di ibukota, ia bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan marmer dengan komisi yang lumayan, terlebih ia ditugaskan pada sebuah proyek hotel Bali Beach. Pada tahun 1990/1991, ia pun berangkat menuju Bali, mengerjakan proyek tersebut dan proyek hotel lainnya.

Diakui oleh pria kelahiran Bagansiapiapi, 8 Januari 1967 ini masih buta dengan peluang yang ada di Bali, beruntung di usianya yang 24 tahun, ia banyak mendapat masukan dan arahan dari perusahaan, dan ia sebagai orang kepercayaan mengupayakan terbaik untuk perusahaannya.

Keuletan dan kejujuran Susanto dalam bekerja, timbul kepercayaan yang kuat dari perusahaan untuk memodali ia membuka sebuah toko marmer di Bali. Setahun perjalanan usaha, karena ada peristiwa Perang Teluk II, toko tersebut berdampak sepi pengunjung.

Setelah perang usai, toko marmer mampu bangkit kembali dan berjalan sebagaimana mestinya. Dan dari komisi yang diperoleh Susanto, atas ide dari Bapak John, selaku pendiri PT Inti Alam Bali Mandiri, komisi tersebut disisihkan untuk dipergunakan membeli separuh saham perusahaan PT Inti Alam Bali Mandiri, hingga perusahaan yang beralamat di Jl. Buluh Indah No.90, Denpasar Utara, tersebut dipercayakan oleh Bapak John, untuk dialihkan kepada Susanto.

Perasaan campur aduk dirasakan oleh Susanto saat itu, karena ia khawatir sebagai penanggung jawab PT Inti Alam Bali Mandiri, ia harus mempersiapkan diri secara matang, apalagi menyangkut soal modal untuk sebuah proyek besar, di mana ia juga sembari mencicil saham perusahaan yang akan diambil alih sepenuhnya. Namun ia bersyukur, ada sosok Bapak John di belakangnya yang selalu memberi dukungan, baik memenuhi kebutuhan materiil proyek yang bisa ia dapatkan dari pabrik milik Bpak John, maupun kebutuhan moril di sepanjang perjalanan kariernya.

Rasanya tak pernah terimpikan, Susanto akan ada diposisi kesuksesan seperti sekarang ini. Bertemu dengan Bapak John, sosok malaikat tak bersayap, yang tak hanya mengubah hidupnya dari segi materi, tapi juga mengingatkan kembali pada kepercayaannya, bahwa setiap karma baik buruk manusia pasti akan ada balasannya. Dan yang tidak disangka-sangka, pertolongan tersebut ternyata datang dari orang asing, yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga. Namun Susanto secara nyata bisa merasakan ketulusan yang telah beliau berikan dan berharap ia bisa melanjutkan perbuatan-perbuatan baik selanjutnya kepada siapapun tanpa mengenal perbedaan suku, ras dan budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!