Pertahankan Protokol Kesuksesan dengan Beradaptasi di “Kehidupan Baru” Pandemi

Semasa sekolah terutama saat masih di SMA, alumni SMAN 1 Denpasar ini belum terlihat memiliki ketertarikan sebagai wirausaha, justru ia menekuni ilmu teknologi informasi, terlebih di masa itu memang sedang booming-boomingnya ilmu yang meliputi segala hal berkaitan dengan proses pengelolaan informasi. Ia pun kemudian melanjutkan keseriusannya tersebut di Universitas Atmajaya, Yogyakarta pada tahun 2000.

Setelah tamat tahun 2006, Komang Tri sudah mulai diarahkan untuk mengembangkan usaha BPR yang didirikan almarhum ayahnya yang sebelumnya merupakan pegawai profesional di dunia perbankan. Sejak tahun 2007 hingga 2011 mengelola dengan mengimplementasikan ilmu yang dimiliki, Komang Tri kemudian memutuskan untuk keluar dari BPR dan mendirikan usaha di atas kakinya sendiri, tentunya setelah melimpahkan ilmu tersebut kepada penanggung jawab selanjutnya.

Sebelum didirikan usaha kuliner, Komang Tri Darma Setiawan sempat mencoba meraup keuntungan dengan mengambil kesempatan usaha eksportir kerajinan tangan bersama kakaknya, namun nyatanya tidak berkembang. Anak ketiga dari tiga bersaudara ini, kemudian banting setir dengan memilih bisnis kuliner yang diberi nama “Warung Ulam-Ulam”.

Dukungan penuh untuk membangun usaha sendiri, didapat Komang Tri dari keluarga, terutama dari sosok kakak yang terus mendorongnya agar melepaskan pekerjaannya di BPR dan mulai berkreativitas. Meski telah gagal di handicraft, sikap optimisnya terus dibangkitkan untuk berbisnis kuliner. Komang Tri yang tidak memiliki pengalaman khusus dalam berwirausaha, mengawali Warung Ulam-Ulam dengan seadanya dan mempelajari secara otodidak, dari membentuk manajemen, terutama mempromosikan usaha sebagai pendatang baru di bisnis kuliner. Bersama istri yang memiliki basic ilmu ekonomi sekaligus dosen di Universitas Mahendradatta, ia pun banyak terbantu.

Sebagai usaha yang menawarkan aneka sajian makanan kepada customer, Komang Tri tentu harus menemukan orang yang handal di bidang tersebut. Beruntung, lagi-lagi ia mendapat bantuan yakni dari pamannya yang bekerja di hospitality, untuk merekrut chef yang akan dipekerjakan di Warung Ulam-Ulam. Untuk karyawan lainnya, seperti frontliner, ia memberi training yang cukup ia pelajari ilmunya dari media apa saja.

Pemilihan pada bisnis kuliner yang beralamat di Batubulan, Sukawati, Gianyar ini, tentu terbilang sukses dibandingkan usaha sebelumnya, terbukti mampu eksis bahkan dalam kondisi krisis pandemi saat ini. Sembari terus mencari upaya agar tetap mempertahankan usaha. Bersyukur tren adanya digital marketing lumayan membantu bagi pemilik usaha kulinernya, setidaknya selalu ada penjualan setiap harinya meski pemasukan mengalami penurunan.

Dengan mengangkat konsep panorama sawah yang masih alami, Warung Ulam-Ulam sejak awal pendiriannya tak berani mengambil pasar internasional saja, Komang Tri memilih untuk lebih menarik customer dari domestik. Kenyataannya pun bisa dirasakan saat pandemi ini, pariwisata internasional yang sudah ditutup lebih dari dua tahun, belum ada kepastian kapan akan dibuka. Sebagai pemilik usaha, ia pun tak bisa berharap banyak situasi akan kembali normal. Mungkin, satusatunya jalan kita yang harus beradaptasi dengan hidup berdampingan dengan virus pandemi. Tentu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan vaksin, agar efek dari virus ini tidak memberatkan yang tertular dan bisa beraktivitas kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!