Murni dari Perkebunan Lokal Biji Robusta Menghasilkan Kopi Karya Putra Bali

Sejak duduk dibangku sekolah, I Putu Agus Saskara sudah terlihat gelagatnya dalam berdagang. Putra Bali asal Denpasar ini sudah mulai berjual layangan di warung-warung dan membuka usaha rental PlayStation sejak SD hingga duduk di bangku SMP. Kemudian saat SMA, ia kembali tergelitik untuk mencoba usaha lainnya yakni di bidang sewa dekorasi upacara pernikahan Hindu hingga bangku kuliah, ia juga pernah memiliki usaha kuliner, soto dan sate.

Agus Saskara yang tercatat sebagai mahasiswa di Univeritas Hindu Indonesia (UNHI) pada program studi Perencanaan Wilayah dan Kota, harus merelakan usaha kulinernya terhenti sementara karena masalah waktu antara kuliah dan usaha, tak sukses ia jalankan. Setelah akhirnya sampai pada tahap kelulusan, Agus Saskara yang hendak melanjutkan usaha kulinernya kembali, tak mampu mempertahankan usahanya tersebut, dari sinilah awal ia kemudian memutuskan beralih ke usaha kopi dengan memanfaatkan mesin roasting milik pamannya, yang sebelumnya memiliki usaha di bidang tersebut.

Anak pertama dari lima bersaudara ini selalu berupaya membuktikan keseriusaannya dalam usaha yang ia ambil, tak hanya sekedar ambil langkah kemudian menjalankannya. Agus Saskara paham betul ia harus banyak belajar dari orang yang lebih dulu berpengalaman dalam urusan produksi kopi, seperti pamannya. Ia pun “mencuri” resep produksi kopi tanpa bahan pengawet tersebut yang ia suguhkan dalam sektor UMKM bermerk “Kopi Bali Nyangluh”.

Berlokasi di Jl. Wibisana Barat No.47, Pemecutan Kaja, Denpasar Utara, biji kopi robusta yang berasal dari perkebunan petani kopi Pupuan, Tabanan ini, diproduksi dibawah naungan badan usaha “UD Mandala Jaya”. Setelah berjalan sejak tahun 2019, Kopi Bali Nyangluh sudah diproduksi perharinya 30 kg atau 100 bungkus, di mana harga perbungkus kemasan 200 gr adalah 16 ribu dan ukuran 100 gr dengan harga 10 ribu.

Demi strategi marketing Kopi Bali Nyangluh yang sebagian besar membidik pasar orangtua, Agus Saskara saat ini telah memiliki lima tim pemasaran. Ke depannya ia pun berharap usahanya dapat lebih dikenal dan mendapat hati masyarakat dan tertarik untuk bergabung dalam sektor UMKM ini, baik itu sistem pembelian secara grosir, eceran, bahkan desain menarik untuk buah tangan berupa bubuk maupun biji kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!