Mimpi itu Gratis tapi Butuh Usaha dan Perjuangan untuk Menggapainya

Hidup di dunia ini harus memiliki tujuan yang pasti, berawal dari mimpi besar yang diangankan kemudian berusaha memperjuangkannya. Mimpi itu gratis, tanpa perlu biaya yang harus dikeluarkan, namun untuk menggapainya dibutuhkan usaha dan perjuangan yang sungguh-sungguh. Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh sosok wanita pejuang tangguh satu ini yaitu Devi Lestari.

Devi Lestari adalah wanita tangguh kelahiran Denpasar 1981 yang mendapat didikan keras sejak kecil oleh orang tua. Hal itu dikarenakan orang tuanya mengharapkan yang terbaik dari Devi Lestari sejak ia kecil. Tempaan keras dari orang tua membuatnya menjadi anak yang visioner atau berjalan dengan tujuan yang sudah direncanakan dari awal.

Terlahir dari lingkungan keluarga yang akademis membuatnya mendapat kepercayaan dan tugas untuk melanjutkan profesi ibunya sebagai seorang dosen. Namun, karena Devi Lestari adalah sosok yang menata tujuan hidupnya secara mandiri membuatnya bertentangan dengan harapan keluarganya. Ia justru saat kuliah lebih tertarik memilih program studi accounting.

Setelah meluluskan pendidikan accounting-nya di perguruan tinggi, Devi Lestari bekerja di sebuah hotel dan menjadi kepala keuangan di hotel tempat ia bekerja. Tidak semudah itu mendapat kepercayaan dari atasan untuk dapat menjadi kepala keuangan, ia mengawalinya dengan menjadi staff di hotel tesebut, kemudian karena bertahan lama bekerja di sana dan dirasa sangat mahir di bidang keuangan membuat ia mendapatkan kepercayaan itu.

Waktu terus berjalan mengikuti pasir waktu kehidupan, hingga menapaki tahun 2006, yang mana di tahun tersebut ia menikah dan menempuh hidup baru dengan suaminya. Support penuh selalu ia dapatkan dari keluarga terkhusus dari suaminya, merasa sangat beruntung karena berada di lingkungan yang selalu mengasihi satu sama lainnya.

Dengan support itu ia terus bekerja dengan giat menjadi kepala keuangan di hotel tempat ia mendapatkan kepercayaan lebih itu. Dari sana ia mendapatkan banyak sekali pemahaman dalam mengembangkan suatu bisnis yang mengikuti perkembangan zaman. Tak heran karena Devi Lestari sudah bertahun-tahun bekerja di bidang pariwisata, pahit manis suatu usaha bisnis pariwisata telah ia ketahui.

Banyak pengalaman dan pemahaman tentang mengembangkan bisnis pariwisata, memacu Devi Lestari untuk mengembangkan bisnis pariwisata secara pribadi. Bisnis pariwisata yang di bangun oleh Devi Lestari yaitu vila yang diberi nama “The Mavila”. The Mavila rencananya di bangun sebanyak 12 vila, namun karena terbatas dana, rencana membangun 12 vila harus ditunda terlebih dahulu dan hanya membangun 6 vila saja saat awal dibukanya The Mavila.

Saat ia harus bekerja menjadi kepala keuangan di hotel dan membuka The Mavila miliknya, membuat Devi Lestari bekerja ekstra. Namun, tahun 2020 pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan Bali adalah salah satu kawasan yang terkena dampak adanya pandemi ini. Wisatawan domestik dan mancanegara yang biasanya lalu lalang menyusuri tempat-tempat pariwisata Bali yang indah, kini harus terheti sejenak akibat pandemi.

Secara otomatis hotel-hotel sepi tidak seramai pengunjung seperti sediakala. Oleh karena itu, membuat Devi Lestari bisa lebih fokus dalam mengembangkan vilanya. Ia mulai memikirkan strategi marketing dan selalu berpikir kreatif ditengah pandemi Covid-19 ini. Karena di The Mavila terdapat lahan kosong yang ditanami rumput dan lahan kosong itu cukup luas, ia kebingungan akan membangun apa untuk dapat memanfaatkan lahan tersebut.

Sempat bertanya kepada beberapa teman terkait bangunan apa yang cocok dibangun di lahan kosong itu. Sebagian besar menyarankan lahan kosong itu agar di bangun cafe saja. Rasa dilema saat itu sangat dirasakan oleh Devi Lestari, dengan berbagai pertimbangan dan diskusi bersama suami dan keluarga akhirnya ia memutuskan untuk membangun restaurant di lahan kosong The Mavila.

Nekat membangun restaurant di tengah masa pandemi ini dengan modal yang tidak seberapa, tetapi tetap berhasil di bangun karena keyakinan dan keinginannya penuh untuk itu. Dengan tekad itu, akhirnya berhasil membangun restaurant. Restaurant yang dibangun di lahan kosong The Mavila itu diberi nama ‘’La Prissa Kitchen’’.

La Prissa Kitchen di bangun dengan konsep outdoor yang instragamable, tentu menyesuaikan perkembangan zaman seperti saat ini. Konsep itu dipilih karena di masa pandemi ini lebih cocok menggunakan konsep outdoor dibandingkan indoor. Karena konsep indoor sangat memungkinkan penularan Corona Virus. Selain itu, konsep instragamable dipilih karena target pasarnya menyasar pada anak muda lokal yang kini gencar-gencarnya mencari spot foto yang menarik dan estetik untuk dapat di-posting di media sosial mereka.

Selain konsep restaurant yang dijadikan modal utama untuk menarik perhatian target pemasaran, rupanya faktor-faktor lain juga pikirkan dengan matang oleh Devi Lestari. Faktorfaktor yang dimaksud meliputi strategi promosi, servis atau pelayanan yang baik juga dipertimbangkan. Tidak hanya itu, review atau penilaian pengunjung juga ia jadikan acuan untuk memperbaiki servis dari segala aspek agar dapat dikembangkan lebih baik lagi kedepannya.

Seiring waktu berjalan dibukanya La Prissa Kitchen ternyata mendapatkan respons positif dari masyarakat. Respons positif itu mayoritas dari anak muda yang senang hangout dan jalan-jalan bersama kawanan mereka untuk menikmati masa muda mereka. Tidak hanya anak muda yang meminati tempat ini, bahkan tempat ini kerap dijadikan tempat resepsi pernikahan.

Tujuan selanjutnya dari sosok visioner Devi Lestari terhadap La Prissa Kitchen yaitu ia berharap ke depannya akan ada spot-spot baru yang lebih bagus lagi dari yang sudah ada. Tentu, ia juga berharap agar badai pandemi Covid-19 yang meresahkan banyak orang saat ini segera terhempas dari muka bumi agar keadaan kembali membaik seperti sediakala.

Devi Lestari berpesan kepada generasi muda agar tidak terlalu mengkhawatirkan modal besar jika ingin memulai suatu bisnis. Karena bisnis dapat dirintis secara perlahan, mulai dari bisnis yang kecil dan sederhana hingga menjadi bisnis yang besar nantinya. Itu semua harus disertakan usaha, doa, support dan juga tekad yang kuat. “Mimpi itu gratis, tidak perlu biaya yang harus dikeluarkan, namun untuk menggapainya dibutuhkan usaha dan perjuangan yang sungguh-sungguh”, ujar Devi Lestari tentang prinsip dalam hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!