Mendulang Sukses di Masa Depan setelah Pelajaran Hidup di Masa Kecil

Lahir dari orang tua tanpa berbekal pendidikan sama sekali, Ni Wayan Sumartini sejak kecil harus mengambil pekerjaan untuk bekal sekolah. Bersyukur seiring berganti hari, ayahnya yang bekerja sebagai tukang ukir, bertemu dengan wisatawan asing yang memborong seluruh hasil karyanya. Modal pun didapatkan, sehingga di usia sekitar 17-18 tahun Wayan Sumartini bisa menyaksikan usaha tersebut semakin maju dan berkembang.

Meski telah sukses mempekerjakan beberapa karyawan dan mampu membuka toko sendiri, Wayan Sumartini mulai berpikir tentang realita ke depannya, apakah usaha ini akan dapat terus bertahan. Sebagai anak pertama, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menuntun saudara-saudaranya agar bijak mengambil langkah karier ke depannya. Sedangkan ia pribadi, memilih untuk melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Mahasaraswati.

Tak hanya membekali pendidikan di kedokteran, Wayan Sumartini merasa masih membutuhkan skill untuk mengimbangi usaha ayahnya maupun profesinya nanti. Jadi di malam harinya, ia memanfaatkan waktunya sebijak mungkin dengan melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Inggris, agar cita-citanya untuk menjadi orang sukses nantinya tercapai, terutama menaikan derajat keluarga yang lebih dihargai dan dihormati.

Pilihannya berkarier sebagai dokter, Wayan Sumartini putuskan agar ia tak bergantung bekerja dengan orang lain, terlebih saat ia memiliki keluarga nanti, nasib anak-anaknya jauh lebih baik dibandingkan kehidupan di masa kecilnya dulu. Namun nasihat dan cara mendidik ayahnya tak akan pernah ia tinggalkan begitu saja, berharap ia sebagai orang tua mampu menerapkan hal tersebut kepada anak-anaknya, terutama soal menanamkan karakter yang mandiri.

Dalam perjalanan meniti pendidikan di bangku kuliah, Wayan Sumartini sempat diminta untuk melanjutkan usaha orang tua. Tiada penolakan darinya, ia pun menjalankan usaha tersebut sebaik mungkin. Karena sempat merasakan nikmatnya mendapat penghasilan dari usaha sendiri, tak menampik ia sempat tergoda untuk tak melanjutkan kuliah. Hingga setelah cuti selama dua tahun, ia akhirnya mampu menyelesaikan kuliah.

Keputusan Wayan Sumartini untuk kemudian mendirikan usaha klinik gigi “Wirta Medika” yang berlokasi di Jl. Raya Ketewel No.12, Ketewel, Sukawati, Gianyar memang tak salah. Dengan mencantumkan nama ayahnya, tak membutuhkan waktu lama, ia mendapatkan pasien yang berkunjung ke klinik yang didirikan tahun 2001 ini. Hanya saat pandemilah, klinik yang harus sempat ditutup sementara dan pengurangan kapasitas pengunjung harus dilakukan, demi mengendalikan potensi penularan virus Covid-19.

Mau tidak mau, Wayan Sumartini harus mengikuti peraturan pemerintah demi saling menjaga diri dari penularan virus ini. Ia pun berkomitmen akan terus lebih menjaga kebersihan klinik Wirta Medika, tak hanya di musim pandemi, bahkan bila kondisi ini diharapkan sudah mampu lebih dikendalikan ke depannya. Agar masyarakat Bali khususnya, dapat beraktivitas normal kembali dan menemukan kestabilan pada rezeki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!