Membangun Pondasi Usaha Lewat Kerja Keras di Pariwisata

Minim pengetahuan tentang bisnis atau pemasaran saat mengawali langkah ke dunia usaha, bukan suatu penghalang bagi Ketut Budiada untuk menjemput kesuksesan sebagai pengusaha. Setelah 17 tahun melakoni karier di industri pariwisata, ia menutup masa pensiunnya dengan mengibarkan bendera usaha UD Budi Permata. Simak bagaimana lika-liku perjalanan hidup pria asal Buleleng ini dalam bertranformasi dari seorang putra petani hingga mencatatkan diri sebagai pemilik usaha depo bangunan dan pengusaha di bidang properti.

Perkembangan industri properti di Bali kemudian memunculkan berbagai peluang usaha salah satunya bisnis penjualan bahan baku konstruksi bangunan. Oleh karena itu usaha toko bangunan kian menjamur di Pulau Dewata, khususnya di Kota Denpasar. Toko bahan bangunan sendiri merupakan salah satu usaha yang bersifat long lasting alias tak lekang oleh waktu sebab permintaan terhadap material selalu ada. Sehingga tak sedikit usaha toko bangunan yang telah beroperasi dalam kurun belasan hingga puluhan tahun.

Salah satu toko bangunan yang bisa dikatakan pionir di wilayah Denpasar Selatan adalah UD Budi Permata. Depo bangunan ini sudah eksis melayani pelanggan dari berbagai kalangan sejak 2001. Lokasinya yang strategis yakni berada di Jl. Raya Pemogan, Kelurahan Pemogan, menjadikan toko ini mudah diakses para pembeli. Selain itu variasi produk yang dijajakan pun beraneka macam, membuat banyak orang memilih berbelanja di toko ini.

Pemiliknya tidak lain pria bernama Ketut Budiada. Lelaki asal Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng ini sukses menggarap peluang usaha toko material bangunan. Tidak hanya itu, ia pun berhasil mempertahankan eksistensi usaha hingga 20 tahun di tengah kompetisi usaha yang kian ketat. Meski sudah banyak toko sejenis yang bermunculan, namun UD Budi Permata Bangunan masih tetap dilirik oleh target market usaha ini.

Kerja Keras Sejak Dini

Padahal bila ditilik dari latar belakang kehidupannya, Ketut Budiada tidak memiliki darah seorang pengusaha atau punya pengalaman berbisnis sebelumnya. Ia lahir dan bertumbuh di lingkungan keluarga petani di Kecamatan Busungbiu. Orang tuanya merupakan petani penggarap, keseharian mereka yakni mengolah tanah sawah milik orang lain. Penghasilan yang didapat sebagai petani terbilang kecil namun di sisi lain harus digenapkan untuk membiayai hidup 10 anak.

Sebagai anak keempat, Ketut Budiada menjalani kehidupan dengan mengemban tanggung jawab membantu pekerjaan orang tuanya. Ia dan saudara lainnya memang dididik untuk menjadi sosok pekerja keras sejak usia dini. Saat berusia kanak-kanak, Ketut Budiada sudah diberi tanggung jawab membersihkan lingkungan rumah lalu ketika menginjak usia sekolah sudah mengerjakan pekerjaan merawat ternak milik orang lain. Semua tugas itu dilakukan Ketut Budiada tanpa ada rasa paksaan atau keluhan, sebab ia meyakini bahwa tanggung jawab itu dikerjakan sebagai bentuk rasa bakti kepada orang tua yang telah berjasa.

Memasuki masa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Ketut Budiada memutuskan untuk ikut pamannya yang tinggal di Denpasar guna melanjutkan sekolahnya. Di kota yang asing baginya itu ia mengisi keseharian dengan membantu pekerjaan domestik di rumah pamannya. Namun hal itu berlangsung selama dua tahun saja karena ia akhirnya memutuskan pindah ke rumah kerabat lain yang tinggal di Gianyar dan melanjutkan SMP.

Setelah itu pada tahun 1980, Ketut Budiada melanjutkan SMA di Singaraja. Selama masa menempuh pendidikan itu, ia masih mengerjakan pekerjaan sampingan guna menambah uang bekal dan meringankan biaya sekolah. Demi menghemat biaya, ia pun harus berjalan kaki saat perjalanan ke sekolah lantaran uang bekal tidak cukup untuk membayar biaya transportasi angkutan umum.

Setelah tamat SMA di tahun 1983, Ketut Budiada merasa siap untuk terjun ke dunia kerja. Kemudian ia menyadari bahwa di masa itu pekerjaan yang paling menjanjikan dari segi finansial adalah yang berkaitan dengan industri pariwisata. Maka dari itu ia pun memutuskan untuk menjajaki kursus bahasa Inggris sebagai modal untuk melamar bekerja nanti. Setahun kemudian ia melamar di sebuah hotel dan diterima sebagai staf kebersihan di dapur.

Rasa ingin tahu terhadap ilmu dan wawasan yang baru mendorong Ketut Budiada untuk belajar mengerjakan pekerjaan lain di luar tanggung jawab kerjanya. Hal itu membuat ia dipercaya untuk naik ke posisi asisten cook, lalu dipindahkan ke bagian yang bertatapan langsung dengan para customer. Dari sana ia kembali belajar mengenai tata cara komunikasi yang baik dengan pelanggan, baik sebagai staf waiter maupun pegawai di bar. Tak terasa 17 tahun waktu dilalui Ketut Budiada sebagai pegawai hotel dan ia pun harus menutup masa kerjanya alias pensiun.

Membuka Usaha

Ternyata dari perusahaan tempatnya bekerja itu memberikan dana pensiun dengan nominal besar. Melalui dana itu, ia pergunakan untuk membuka sebuah usaha. Awalnya sempat terpikir untuk membuka usaha rumah makan, namun ada perasaan ragu lantaran sudah banyak kompetitor di bidang food and beverage. Kemudian ia teringat selama masih bekerja di hotel ia sering menjalani pekerjaan sampingan yang berhubungan dengan dunia konsruksi. Di situ ia melihat prospek usaha penjualan material bangunan sangat menjanjikan. Apalagi kala itu di awal milenium 2000, industri pariwisata tengah menanjak dibarengi dengan meningkatkan pembangunan properti di Bali.

Melalui modal yang ia miliki tersebut, ia membuka toko bangunan di atas lahan yang dibeli lewat hasil kerja kerasnya selama ini. Dana itu ia gunakan untuk membeli stok barang dagangan yang akan mengisi tokonya tersebut. Ketut Budiada sempat mengalami kesulitan di awal usaha, terutama soal mencari target market. Sebagai pribadi yang getol belajar, Ketut Budiada pun tidak ragu bertanya dari para sales produk yang mengsuplai usahanya. Kian lama, ia pun semakin memahami seluk beluk dunia usaha, khususnya di bisnis material bangunan.Semakin lama perkembangan toko yang diberi nama UD Budi Permata tersebut menunjukkan arah positif. Hal itu juga disebabkan lantaran belum banyak toko bangunan yang eksis di zaman itu. Toko yang dimiliki Ketut Budi bisa terbilang merupakan salah satu pionir toko bangunan yang ada di wilayah Pemogan dan sekitarnya. Bagi masyarakat di daerah tersebut yang membutuhkan bahan baku untuk membangun atau memperbaiki rumah tentunya akan memilih berbelanja di UD Budi Permata.

Tidak hanya menyasar market kalangan masyarakat umum, UD Budi Permata juga kerap melayani permintaan dari kalangan kontraktor. Lewat usaha menjual aneka bahan kebutuhan konstruksi, mulai dari semen, pasir, bata, keramik, cat dan peralatan mekanik, elektrikal serta alat pertukangan lainnya tersebut Ketut beserta sang istri mampu meningkatkan taraf kehidupan mereka. Bahkan lewat keuntungan usaha yang didapat, Ketut berhasil melebarkan ekspansi usaha ke bisnis lainnya, antara lain penjualan tanah kavling, pengembang perumahan dan pertokoan.

Ketut Budiada pun tak pernah menyangka akan melangkah sejauh ini, mengingat dirinya hanya merupakan putra petani di pelosok desa. Ia hanya berusaha melakoni setiap perannya baik sebagai karyawan maupun pengusaha secara maksimal tanpa memikirkan seberapa besar hasil yang akan didapat. Melalui prinsip kerja ikhlas disertai kejujuran ini menjadi kunci kesuksesannya selama ini. Selain itu ia tidak pernah alpa dalam mensyukuri segala anugrah yang diberikan oleh Tuhan dengan cara selalu berbagi kepada sesamanya. Banyak kerabat maupun rekannya membuktikan bahwa Ketut Budiada merupakan pribadi yang ringan tangan soal membantu. Dari lingkungan terdekat sendiri, Ketut Budiada berusaha memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuanya tercinta, salah satunya dengan memberikan lahan perkebunan sebagai aset di masa tua. Selain itu ia juga dikenal sebagai sosok yang tak pernah ragu memberikan bantuan finansial kepada sanak saudara hingga kepada para karyawannya sendiri.

Ketut Budiada berprinsip selagi diberi kesempatan menjalani hidup harus mampu menyeimbangkan waktu antara mencari artha (harta) sembari menabur benih karma baik yang buahnya akan dipetik di kehidupan selanjutnya. Ia juga berpesan kepada insan pembaca sekalian tidak pernah berhenti belajar karena ilmu pengetahuan itu sangat dinamis dan bagi siapa saja yang tidak mampu beradaptasi dalam setiap dinamika akan tertinggal dalam persaingan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!