Melahirkan Bisnis di Tengah Badai Krisis

Di balik kesuksesan pemasaran sebuah properti bernilai tinggi, terdapat peran krusial seorang Project Marketing Consultant (Konsultan Pemasaran Projek). Salah satunya yang cukup lama eksis di tanah air yakni perusahaan Tony Eddy & Associate (TEA) yang dirintis oleh pengusaha bernama Tony Eddy. Perannya dalam lingkup pemasaran properti mencakup berbagai segmentasi market, mulai dari menyasar para developer maupun calon konsumen end user. Hebatnya, ia merintis usaha justru di tengah badai krisis moneter yang membuat nilai saham properti menjadi terkoreksi.

Pepatah bijak mengatakan, “jangan menunggu badai untuk berlalu, belajarlah menari di tengah hujan”. Ungkapan yang sama ternyata menemukan relevansinya dalam jejak perjalanan hidup sosok Tony Eddy. Pria yang telah malang melintang di industri properti di Indonesia ini memulai kariernya di tahun 1997. Kala itu sinyal menuju krisis moneter yang melanda secara global ini kian menguat. Apalagi tren menunjukkan masyarakat mulai kesulitan menunaikan kewajiban pembayaran pinjaman kepada perbankan, membuat banyak properti yang menjadi anggunan disita dan siap dilepaskan kembali ke pasaran. Sedangkan daya beli masyarakat kian merosot seiring carut marutnya situasi ekonomi kala itu.

Tony yang semula bekerja sebagai Real Estate Portfolio Risk Manager di sebuah bank, setelah memutuskan resign dari perusahaan tersebut, kemudian mendirikan usaha sendiri. Melalui konsep “think different” ia membuka bisnis konsultan dan investasi properti dengan menyewa tempat di Mal Ambassador, Jl. Dr. Satrio, Jakarta Selatan, alih-alih di kios seluas 46 m2 seperti agen properti lainnya di masa itu. Selain melihat dari faktor keamanan, membuka kantor di pusat perbelanjaan ternyata meningkatkan nilai kredibilitas di mata calon klien.

Terbukti, pria lulusan University of Wisconsin Madison, Amerika Serikat (AS) ini tidak terlalu sulit meraih kepercayaan klien, baik yang menjual maupun membeli. Kliennya datang dari berbagai kalangan dan terus dipercaya menangani pemasaran properti oleh banyak perusahaan. Menariknya ia banyak menangani proyek penjualan apartemen di mana saat itu banyak agen atau konsultan properti yang pesimis dalam memasarkannya. Namun tidak bagi Tony yang selalu melihat peluang di balik suatu tantangan. Tiba di tahun 2005, Tony melebarkan sayap usahanya dengan membuat sebuah Project Marketing Consultant, Tony Eddy & Associate (TEA). Sementara perusahaannya sebelumnya tetap menggarap properti secara ritel. Alasan membuat diferensiasi yakni untuk menangkap permintaan terhadap profesional di bidang konsultan pemasaran handal di industri properti. TEA menawarkan jasanya dalam hal meracik konsep produk. Setelah itu menyiapkan konsep marketing secara menyeluruh mulai dari merumuskan harga, cara pembayaran, menyusun program promosi, membuat brosur, sampai mengakomodir kegiatan pameran.“Tentunya diperlukan skill yang sangat kompleks dalam menyukseskan projek pemasaran. Tim kami memiliki kreativitas, paham soal-soal legalitas, finance, dan mampu menyusun strategi marketing, termasuk merumuskan price list yang tepat agar laku tapi developer tetap untung” ungkap Tony.

Keuntungan yang didapat oleh developer sebagai sasaran market yang dituju oleh TEA yaitu efisiensi dalam bekerja. Salah satu capaian perdana TEA pada awal masa didirikan yaitu keberhasilan menangani proyek kondominium hotel (kondotel) dan private apartment Nusa Dua Golf Resort di kawasan Bali Tourism Development Corporation (BTDC), Nusa Dua. Kesuksesan yang diraih Tony beserta timnya tidak lain berkat kemampuan dalam mengidentifikasi masalah. Kemudian keahlian dalam menyusun strategi baru agar kendala yang sama tidak terulang lagi.

Kini pria kelahiran Pagar Alam, 7 Mei 1965 ini juga mengembangkan usaha ke bisnis food and beverage. Selain ingin memiliki tempat untuk berkumpul dengan para relasi, Tony mendirikan Bendino Cafe Bali untuk menggarap peluang di jalur berbeda dari yang ditapaki selama ini. Memang jika dilihat selama ini, bisnis restoran menjadi prospek cemerlang di berbagai situasi. Seperti di masa pandemi yang telah berlalu selama dua tahun, terbukti bisnis yang menyediakan makanan masih bertahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!