Kompetisi Generasi Kedua dengan Bayang-Bayang Kesuksesan Orang tua

Pada tahun 2016, perintis Sidharta Konveksi melakukan kesepakatan untuk melimpahkan usaha tersebut kepada Bagus Tritya Sidharta. Hingga saat menemui masa pandemi, apa yang dilakukannya sungguh berani untuk menutup rumah produksi yang telah membesarkan nama orang tuanya. Lalu bagaimana nasib para karyawan dan Sidharta Konveksi selanjutnya di tangan putra bungsu Made Sudharta bersama Sri Ayu Kustini tersebut?

Visi misi Bagus Tritya Sidharta atau yang akrab dipanggil Gusta untuk memiliki sebuah bisnis sudah dimiliki saat ia masih mengenyam pendidikan, di mana ia pernah menjalankan usaha dekorasi pernikahan dan jasa fotografi katalog. Sayangnya passion-nya dalam berbisnis tersebut, tak mampu ia imbangi dengan melanjutkan pendidikan sarjana yang dua kali gagal ia lanjutkan di Fakultas Hukum di Universitas Padjajaran dan Universitas Udayana.

Diakui Gusta, ia memang tidak memiliki kepintaran dalam hal akademis, apalagi melihat kesuksesan orang tua menjadi pengusaha, membuatnya semakin ingin meniru jalan tersebut dan serius dalam mempelajarinya. Meski tak banyak teori yang diajarkan secara langsung oleh ayah dan ibu dari Gusta dan lebih banyak mencontoh dari kegiatan mereka sehari-hari. Sebagai generasi kedua dalam bisnis, ia juga berupaya belajar dari pengalaman-pengalaman pribadi dari bisnis yang dirintis sebelumnya, terutama dalam hal me-manage keuangan.

 

Pada tahun 2016, Gusta akhirnya mengambil alih Sidharta Konveksi. Di tahun sebelum adanya pandemi, dengan adanya warisan pelanggan dari orang tua, ia tertantang untuk menaikan omzet usaha dari tahuntahun sebelumnya. Dan yang tak kalah memacu adenalinnya, saat datangnya musim pandemi berimbas pada penurunan kunjungan wisatawan yang otomatis ada beberapa pelanggan yang dari pariwisata mulai menghilang. Namun Gusta mengupayakan mencari pelanggan terobosan dari pasar lain dan keluar dari zona nyaman, jadi setidaknya ia mendahulukan para karyawan agar dapat terus bekerja. Upaya tersebut ia lakukan, dengan terpaksa harus menutup rumah produksi Sidharta Konveksi, yakni di Jl. Marlboro, yang menghabiskan biaya operasional yang tinggi, tapi minim pendapatan karena adanya pandemi dan menggantinya dengan membuka lokasi yang lebih kecil di Jl. Kapten Japa. Dalam kondisi tersebut, tentu tak semua karyawan bisa ia pekerjakan di lokasi yang baru, sebagian karyawan kemudian harus melakukan jobdesk-nya masing-masing dari rumah.

Bayang-bayang nama orang tua dalam Sidharta Konveksi memang sulit ditepis dari ingatan masyarakat akan kejayaan usaha yang beralamat di Jl. Durian No.10 Dangin Puri Kauh, Denpasar Utara ini. Gusta pun tak ambil pusing dalam hal ini, ia memilih untuk fokus mempertahankan bahkan mengembangkan Sidharta Konveksi dalam gaya generasi muda sepertinya. Tentunya tak lantas ia mengambil posisi sebagai pimpinan, ia harus banyak belajar berbagai posisi dari staf-staf senior. Menariknya bahkan ada yang masih setia bekerja dengan usaha orang tuanya sejak ia masih sekolah taman kanak-kanak, sampai saat ia mulai mengambil alih usaha. Loyalitas yang dimiliki karyawan ini tentu diikuti dengan kualitas yang tak sembarangan dibangun secara perlahan oleh orang tuanya. Ia pun mengakui selain menaklukkan dirinya sendiri sebagai musuh terberatnya, bayang-bayang kesuksesan orang tua pun menjadi kompetitornya di masa-masa baru memulai langkah di Sidharta Konveksi.

Meski berbeda masa dalam memegang usaha, Gusta tak jarang berdiskusi dengan ayahnya bila menemui kendala dalam proses tersebut. Ada beberapa masukan yang ia terima, ada juga yang tidak sejalan dengan pemikirannya, bahkan bisa terjadi adu mulut antara ia dan ayahnya. Bukannya kurang menghormati, hanya saja tak semua tantangan di semua masa bisa di hadapi dengan solusi yang sama. Peradaban yang terus berubah, kita sebagai insan manusia pun sebaiknya harus beradaptasi dengan perubahan tersebut, agar tidak tertinggal dan tergerus oleh modernisasi. Dalam sebuah usaha tentunya tak lepas dari komplain customer, Gusta menanggapi hal tersebut sebagai sebuah pembelajaran dan perbaikan pada Sidharta Konveksi demi mempertahankan kepositifan terus ke depannya. Mungkin ada beberapa bagian proses produksi atau manajemen yang tak sengaja terlepas dari kontrolnya, sehingga ia sangat berterima kasih dengan adanya kritik maupun saran tersebut, ia semakin membuka pikirannya dan terus melakukan evaluasi sejauh apa ia sudah mampu memegang usaha yang telah berusia 40.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!