Kisah Pengusaha Restoran Berbagi Energi Positif Lewat Makanan

Berangkat dari pengalaman di industri hospitality selama 10 tahun, membawa langkah Ni Kadek Sriani pada kesuksesan usaha di bidang food and beverage. Perempuan asal Desa Belok Sidan, Petang ini telah menaruh passion di bidang kuliner sejak usia remaja, di mana ia sangat tertarik dengan proses meracik makanan. Menurutnya menyajikan makanan dengan teknik memasak dan presentasi yang tepat sehingga memunculkan energi positif bagi orang yang memakannya, merupakan kegiatan yang secara alamiah memicu perasaan bahagia pada dirinya.

Setiap individu memiliki peluang yang sama untuk meraih kesuksesan asalkan mau melalui proses perjuangan untuk mencapainya. Begitu pula dengan sosok perempuan satu ini yang mampu membuktikan bahwa anak seorang petani juga mampu meraih kesempatan sebagai pengusaha sukses. Dialah Ni Kadek Sriani, meski pendidikan hanya berhenti di jenjang SMA namun tak menyurutkan langkah mewujudkan cita-cita sejak belia yaitu menjadi pemilik restoran.

Kini ia berhasil mencatatkan diri sebagai pengusaha restoran di Ubud dengan mengusung nama Warung Pondok Madu. Bahkan melalui usahanya itu ia berhasil membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar sekaligus menggerakkan perekonomian daerah dengan cara menyerap hasil pertanian dan peternakan lokal untuk diolah dan di dapur restorannya itu.

Kehidupan masa kecil Ni Kadek Sriani diwarnai oleh peristiwa sarat akan pahit getir permasalahan. Sang ayah berprofesi sebagai petani dengan penghasilan tak menentu, juga mencoba menjalankan usaha dengan menjual hasil perkebunan ke pasar, tapi tetap saja hasil penjualan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi ekonomi keluarga yang jauh dari kata sejahtera tidak membuat Kadek Sriani merasa rendah diri, ia justru tetap semangat menempuh pendidikan di tengah keterbatasan yang ada.

Salah satu kisah pengalamannya yang cukup mengundang rasa haru yaitu pada saat ia duduk di bangku SMP. Jarak antara rumah dan sekolah yang sangat jauh, namun memaksa Kadek Sriani untuk menumpang kendaraan ayahnya saat pergi berjualan agar nantinya ia dapat melanjutkan perjalanan ke sekolah. Permasalahannya adalah sang ayah biasa pergi ke pasar tengah malam agar dapat sampai pada waktu dini hari. Sehingga dengan kondisi masih mengantuk ia menemani ayahnya berjualan kemudian pada pagi hari berangkat ke sekolah. “Pulang dari sekolah saya harus berjalan kaki ke rumah selama tiga jam perjalanan, sering kali saya berjalan dengan perut yang perih karena lapar”, kenang Sriani.

Satu hal yang diingat Sriani seputar masa kecilnya yaitu dia suka menonton acara masak memasak yang kerap disiarkan di televisi. Ia tertarik belajar mengenai bahan-bahan masakan, juga suka menghirup aroma dari berbagai makanan karena menurutnya mampu membangkitkan energi positif dalam dirinya. Sampai bercita-cita suatu saat nanti dapat memiliki restoran agar siapapun dapat merasakan kebahagiaan melalui makanan seperti yang ia rasakan.

Situasi berubah saat Kadek Sriani memasuki jenjang SMA. Pada waktu itu sang ayah mulai mengalami sakit hingga membuat ayahnya tidak dapat bekerja lagi. Di sisi lain, semangat Kadek Sriani untuk melanjutkan pendidikan sangat tinggi. Beruntung ada seorang kerabat di Ubud yang bersedia membiayai sekolahnya dan memberikan tempat tinggal serta makanan. Sebagai kompensasi, ia bersedia mengerjakan pekerjaan rumah tangga sederhana di sela-sela waktu sekolahnya.

Setamat SMA, Ni Kadek Sriani bertekad mengubah nasib dengan cara bekerja. Ia terus melamar dari satu pintu ke pintu lainnya dan tak pernah patah arang saat mengalami penolakan. Sempat bekerja sebagai buruh pengrajin rambut palsu selama beberapa bulan, akhirnya ia menemukan pekerjaan yang sesuai dengan passion selama ini yaitu di bidang food and beverage. Meniti karier di dapur restoran selama satu tahun, Kadek Sriani memutuskan ingin mencicipi pengalaman karier sebagai pramusaji. Sayang pada saat akan bekerja di salah satu restoran di Kuta, ia mengalami kecelakaan hingga menyebabkan ia tak bisa bekerja selama beberapa lama.

Setelah pulih, Sriani kembali rutin menaruh lamaran di beberapa tempat sampai ia bertemu dengan seorang leader di salah satu cabang restoran ternama. Leader tersebut bersedia menerima Sriani yang minim pengalaman kerja dan membimbingnya untuk menjadi seorang pramusaji profesional. Melalui leader yang menurut Sriani sangat berjasa tersebut, ia diajarkan untuk tampil di depan tamu dengan komunikasi dan gestur yang baik. Meski awalnya agak kesulitan namun Sriani cepat menangkap apa yang dimaksud sang leader dan mampu bekerja sesuai standar restoran tersebut.

Berkat loyalitas kerja yang tinggi menjadikan Sriani dengan cepat naik ke level staf. Bahkan ia mendapat reward sebagai staf terbaik dari seluruh cabang yang ada. Namun karena merasa ilmu dan pengalaman yang didapat dari tempat kerja sudah cukup ia memutuskan untuk resign agar bisa mencoba tantangan pekerjaan di perusahaan lainnya. Ia sempat bekerja di sebuah beach club di kawasan Seminyak namun tidak lama. Setelah itu ia menikah dengan lelaki pujaan hati yang ia kenal saat bekerja di restoran terdahulu.

Pasca menikah, keinginan Sriani untuk bisa merintis usaha sendiri kian memuncak. Ia memulai langkahnya dengan mencicil perlengkapan usaha sedikit demi sedikit. Namun bukan kehidupan namanya apabila tidak diselingi dengan cobaan. Penyakit sang ayah kian kritis dan membuat Sriani harus menggunakan modal usahanya untuk membiayai perawatan ayah tercinta. Sayangnya dua tahun kemudian tepatnya di tahun 2014, ayah yang dikasihi harus berpulang ke sisi Tuhan.

Barulah pada tahun 2016, Sriani dan suaminya mantap membuka usaha dengan tabungan mereka. Sriani mengawali usahanya dengan menyewa sebuah lapak kecil di daerah Peliatan, Ubud. Kala itu menu yang ditawarkan hanya satu yaitu nasi goreng dan hanya menyediakan lima meja makan. Pelanggannya pun hanya dari kalangan masyarakat sekitar dan rekanrekan kerja Sriani yang sangat mendukung usahanya. Diputuskanlah untuk menambah variasi menu baru, untuk itu Sriani dan suaminya terus melakukan percobaan untuk mendapatkan resep yang enak.

Di tahun 2017, Sriani memutuskan pindah ke tempat yang lebih luas. Restoran yang diberi nama Warung Pondok Madu tersebut menyajikan berbagai macam menu, namun yang menjadi andalan adalah hidangan dari iga babi. Makanan ini sangat diminati kalangan wisatawan maupun ekspatriat yang bermukim di wilayah Ubud. Di saat usahanya semakin bergeliat tantangan usaha silih berganti berdatangan, mulai dari atap yang kerap mengalami kebocoran hingga serangan laron yang membuat pelanggan tidak nyaman.

Kemudian di tahun 2020, Sriani mengambil langkah untuk pindah ke lokasi usahanya saat ini yaitu Jl. Jatayu Tebesaya, Peliatan, Ubud, Gianyar. Meski pandemi mulai melanda dan berdampak pada pariwisata Bali, ia dengan berani membuka restoran di tempat baru. Ia pun mengubah strategi usaha dengan lebih menargetkan segmentasi pasar wisatawan domestik maupun internasional. Dengan cara ini ia yakin akan dapat terus bertahan di tengah situasi sulit ini. “Saya memahami jika doa-doa kita ada yang akan terkabulkan ada pula yang tidak, namun saya yakin di balik setiap keadaan Tuhan sudah menyiapkan jalan keluar untuk saya meski hal itu tidak sejalan dengan apa yang diharapkan. Saya yakin rencana Tuhan adalah yang terbaik”, tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!