Jangan Jadikan Pandemi sebagai Batasan untuk Berkarya

Tak ada cita-cita khusus yang dimiliki I Wayan Nursidi semasa remaja, orang tua pun membebaskan apa yang menjadi pilihannya, asal ia bisa mengikuti pendidikannya dengan baik hingga sarjana. Namun gaya didikan yang lumayan keras yang diberikan kepadanya, di mana ayah merupakan seorang pemahat dan ibu sebagai pedagang, tak lepas begitu saja, terutama berpengaruh dalam pendidikan karakternya. Sehingga seiring matangnya usia cukup memberikannya bekal untuk menjadi sosok yang sadar dan siap akan tantangan yang dihadapi di masa depan.

Lulus kuliah dari Fakultas Ekonomi, Universitas Warmadewa pada tahun 2002, Wayan Nursidi sempat mencoba peruntungan di dunia pariwisata sebagai driver sebuah perusahaan travel. Namun adaya peristiwa Bom Bali yang tak terduga, membuatnya harus kehilangan pekerjaan. Ia akhirnya harus bangkit merintis sebuah usaha yang memiliki sedikit dampak dari peristiwa tersebut yakni dengan berdagang seperti yang dikerjakan ibunya. Dari berdagang, Wayan Nursidi yang kemudian beralih berbisnis properti, selain terinspirasi dari lingkungan yang sukses pada bisnis tersebut, ia juga berpikir harus segera memenuhi tanggung jawabnya menafkahi keluarga yang menjadi tanggung jawabnya. Kebetulan saat itu ada peluang sebuah seminar yang bisa ia ikuti untuk menambah bekal ilmunya, sebelum terjun ke bisnis yang sesungguhnya.

Kepada keluarga, khususnya istri, Wayan Nursidi memberi tahu kemungkinan buruknya dalam mencoba berbisnis properti yang ia awali sebagai makelar. Setelah diberi pengertian, barulah ia memulai langkahnya sesuai dengan ilmu yang didapatkan. Salah satu trik yang ia coba ialah dengan membeli sebuah lahan lebih mahal dengan pembayaran secara bertahap. Dengan modal pinjaman dari bank, ia mencoba memenangkan hati pengembang usaha, hingga akhirnya upayanya membantu rekannya saat itu sebagai calon pembeli, menjadi awal yang baik dalam memperoleh profit. Tanpa adanya kerja sama dengan pihak bank dan kesediaan rekannya untuk menjadi bagian dari awal rintisan usahanya yang berplang nama “Cahya Property & Land”, mungkin ia tidak akan sepercaya diri ini melakukan perubahan dalam kariernya. Bahkan ia juga mulai berperan sebagai pengembang properti yang bekerja sama dengan beberapa arsitek.

Astungkara dengan menjaga kualitas komunikasi seperti memberikan informasi terbaik kepada calon pembeli sebelum ‘meminang’ properti atau lahan yang mereka inginkan dan memastikan tidak sedang memiliki kredit macet, transaksi akan berjalan lancar dan jatuh ke tangan yang tepat. Siapa yang akan menerka bahwa akan menjumpai kondisi pandemi global yang sudah menyelimuti dunia setahun lebih. Berbagai bisnis merasakan dampaknya dan menyebabkan pemilik usaha tidak berani untuk berspekulasi dalam menjalankan usaha, Cahya Property & Land pun merasakan hal yang sama. Bersyukurnya sampai saat ini usaha masih tetap berjalan dan ada beberapa klien yang masih menggunakan jasa perusahaan yang berlokasi di Jl. Baka No 15 Batubulan, Gianyar ini. Wayan Nursidi pun tak mau menyerah dengan kondisi begitu saja, ia merambah ke usaha coffee shop dan restoran bersama temannya yang tengah menjadi trending usaha di tengah pandemi, bernama Olympus Coffee Bali dan join pada usaha farmasi tradisional minyak herbal Taru Urip. Terpenting baginya sebagai pengusaha, teruslah berinovasi dan berkarya, jangan jadikan pandemi sebagai alasan untuk kewajaran menerima nasib karena semua orang tengah berada di posisi yang sama. Justru bisa saja, pandemi menjadi peluang untuk sukses menemukan semangat baru di bidang yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!