Wisata Unik Menjelajahi Perkebunan Organik di Malini Agro Park Uluwatu

Mendengar kata Uluwatu, tentu akan langsung teringat dengan wisata ke pura yang berada di atas tebing. Kali ini wisatawan yang berplesiran ke kawasan Pecatu, Kuta Selatan, Badung, dapat menikmati alternatif wisata lainnya. Malini Agro Park Pecatu, menawarkan konsep wisata unik unik yaitu menjelajahi perkebunan organik di atas tebing yang berbatasan dengan laut. Selain menjadi alternatif wisata edukatif, tempat ini juga instagramable.

Betapa suburnya tanah Ibu Pertiwi kita, bahkan digambarkan melalui syair lagu “tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman”. Meski terdengar hiperbola, namun faktanya seorang putra daerah Bali telah membuktikan relevansi makna syair tersebut. Ia adalah Wayan Tana, pria asli Desa Pecatu yang sejak kecil telah terbiasa dengan pemandangan tandus di daerahnya. Berkat kegigihannya ia berhasil menyulap tanah di atas tebing terjal dan cenderung kering menjadi media menanam aneka tanaman. Tidak hanya menjadi sebuah perkebunan, tempat yang ia beri nama Malini Agro Park itu juga menjadi tujuan wisata bagi turis mancanegara maupun domestik.

Perkebunan Organik

Berkunjung ke Malini Agro Park, wisatawan akan menemukan hamparan tanaman pokcoy nan menghijau. Varietas tanaman sayuran yang berasal dari Tiongkok ini dibudidayakan bersama dengan 20 varietas tanaman lainnya di atas lahan seluas 1 hektar. Selain pokcoy, ada juga tanaman terong, buah naga, bayam jepang, daun pepaya, kangkung dan lainnya. Semuanya dikembangkan sebagai tanaman organik oleh pemiliknya yaitu Wayan Tana.

Mengapa organik? Itulah pertanyaan yang kerap didapatkan Wayan Tana dari para pengunjung yang datang ke tempatnya. Ia menjelaskan bahwa meskipun tandus, tanah yang ada di kawasan Pecatu belum pernah terjamah oleh bahan kimia sintetik apa pun. Memang dulunya masyarakat sekitar meenjadikan tanah di sana berfungsi untuk lahan pertanian. Namun sebelum datangnya era pertanian yang menggunakan pestisida sintetik, masyarakat di sana perlahan mulai meninggalkan pertanian.

“Salah satu syarat untuk bisa menghasilkan pertanian organik yang memenuhi standar industri makanan adalah tanah tempat membudidayakan tanaman belum tercemar oleh penggunaan pupuk buatan atau anorganik dan pestisida sintesis,” kata Wayan Tana memaparkan.

Pariwisata dan Pertanian

Tanaman organik bebas dari aneka zat berbahaya, menjadikannya sebagai bahan makanan yang aman untuk dikonsumsi sekaligus menyehatkan. Keunggulan dari tanaman organik ini pun dilirik oleh para pelaku usaha pariwisata. Mereka yang bergerak di bidang jasa hospitality baik di perhotelan, restoran, dan kafe (HOREKA) mulai menjadikan tanaman organik sebagai bahan baku pembuatan makanan.

Kesempatan ini pun menjadi peluang yang tak boleh dilewatkan oleh para pelaku usaha pertanian di Bali. Hal itu pula yang disadari oleh Wayan Tana, ia memiliki visi yaitu mensinergikan kekuatan industri pariwisata dengan pertanian. Sebelumnya dua sektor ini seolah berjalan terpisah dan tidak saling berkesinambungan. Pariwisata dianggap menjadi penyebab degadrasi lahan pertanian di Bali.

Melalui pengembangan Malini Agro Park, Wayan Tana ingin menunjukkan bahwa petani bisa menjadi subjek dan tidak hanya menjadi objek. Hasil usaha pertanian tanaman organik yang telah diupayakan petani Bali seyogyanya bisa didistribusikan ke sektor pariwisata. Selain dapat meningkatkan kesejahteraan petani, diharapkan usaha ini juga meningkatkan rasa penghargaan terhadap para petani selaku motor penggerak sektor pertanian.

Learning Farm

Berbagai aktivitas seru dan menyenangkan dapat dinikmati oleh wisatawan yang datang ke Malini Agro Park. Seperti kegiatan outbound, berelaksasi lewat kegiatan meditasi, dan menantang adrenaline lewat aktivitas cliff adventure. Sedangkan bagi wisatawan yang gemar berfoto tentunya akan senang mengunjungi tempat ini lantaran terdapat berbagai spot foto yang instagramable. Alias sangat cocok sebagai latar berfoto dan sangat apik untuk menghiasi linimasa media sosial.

Selain itu adapula kegiatan Learning Farm yang memiliki tujuan mengedukasi wisatawan mengenai seluk beluk pertanian. Pengunjung bisa merasakan pengalaman sebagai petani, mulai dari proses pembibitan, proses budidaya tanaman, memanen, hingga mengetahui penghasilan yang bisa didapat dari kegiatan pertanian. Seru bukan?

Setelah puas berpetualang menjelajahi perkebunan di atas tebing terebut, pengunjung dapat melepas dahaga dan mengisi perut di restoran yang tersedia di tempat tersebut. Tentunya makanan dan minuman yang disajikan merupakan hasil tanaman yang dibudidayakan di

tempat tersebut. Sehingga makanan yang kaya akan nutrisi tersebut tidak akan kehilangan kandungan baik di dalamnya akibat proses distribusi yang lama. Hal ini dikenal sebagai konsep penyajian makanan farm to table yang dianut oleh nenek moyang di masa lampau.

Membuat Ibu Pertiwi Tersenyum

Jauh sebelum mengembangkan wisata yang menyenangkan, edukatif, dan menyehatkan, Wayan Tana telah berkecimpung di industri pariwisata. Ia mengawali karirnya sebagai seorang pemandu wisata. Keputusannya terjun ke bidang tourism merupakan akumulasi dari peluang yang menjanjikan dan amanat ayahnya yang menginginkan agar putra tercinta tidak berkecimpung di usaha pertanian.

“Ayah saya merupakan seorang petani. Namun ia justru menyarankan saya untuk tidak mengikuti jejak beliau,” kenang Wayan Tana. Menurutnya, masyarakat petani di daerah kelahirannya itu lebih banyak yang mengikuti program transmigrasi, sisanya menekuni profesi lainnya di luar bertani. Sehingga tanah di tempat tersebut masih murni dari zat kimia berbahaya.

Setelah bertahun-tahun menekuni profesi di pariwisata, Wayan Tana ingin mengembangkan suatu kawasan wisata dengan menerapkan konsep kearifan lokal. Ia menerangkan bahwa kearifan lokal yang telah dijunjung tinggi oleh para leluhur sejak dahulu mampu menyejahterakan ibu pertiwi dan alam semesta, menyejahterakan manusia, serta mengagungkan Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Konsep yang kami terapkan di sini merupakan warisan para leluhur dari Majapahit yaitu ‘memayu hayuning bawana’, secara harfiah berarti memperindah keindahan dunia. Melalui konsep ini kami memulai sebuah gerakan membuat ibu pertiwi tersenyum dengan cara menanam kembali. Meskipun menanam di tanah yang tandus itu bukan suatu hal yang mudah namun apapun bisa terjadi bila beliau berkehendak,” ujar Wayan Tana.

Lanjutnya, dalam upaya menghijaukan kembali kawasan tebing tandus di daerahnya, Wayan Tana tidak menggunakan literatur akademis sebagai pedomannya. Melainkan ia berpedoman pada suatu ilmu yang disebutnya sebagai logika-logika yang dipergunakan oleh para leluhur untuk bercocok tanam. Perjuangan Wayan Tana selama empat tahun itu pun berhasil. Bahkan kisah kesuksesan pria dari Bali dalam menyulap tanah tandus menjadi hijau terdengar ke daerah lain dan menarik minat mereka untuk mengaplikasikan hal yang sama.

Menurutnya, tidak ada satu jengkal pun tanah di Nusantara yang tidak bisa difungsikan untuk pertanian. Sebab kondisi iklim yang ada di Indonesia sangat mendukung. Wayan Tana berharap melalui usahanya ini dapat menggerakkan semangat bertani di masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda di Bali. Sehingga nantinya banyak orang yang dapat sejahtera melalui pertanian dan bangga dengan identitasnya sebagai petani di Pulau Dewata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!