Tetap Salurkan Aspirasi di tengah Pandemi – Ni Luh Putu Gede Rara Hita Sukma Dewi

Selama berlangsungnya pandemi Covid-19 seluruh kegiatan masyarakat terganggu bahkan ada pula yang harus terhenti. Namun tidak demikian dengan kegiatan di pemerintahan, contohnya di tingkat legislatif. Salah satu legislator perempuan di Bali, Ni Luh Putu Gede Rara Hita Sukma Dewi, SE, menegaskan bahwa kegiatannya sebagai wakil rakyat tetap berjalan. Hanya saja dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) anggota dewan tetap mengacu pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

Terbiasa dengan mobilitas tinggi bergerak untuk kepentingan masyarakat Badung selama setahun belakangan, kini Ni Luh Putu Gede Rara Hita Sukma Dewi harus membatasi kegiatan di luar rumah. Hal ini sejalan dengan himbauan pemerintah mengenai protokol kesehatan di masyarakat tanpa terkecuali juga berlaku pada wakil rakyat. Hanya saja perempuan yang akrab disapa Rara Hita ini tidak serta merta mengabaikan tugasnya sebagai jembatan aspirasi masyarakat. Meski di tengah pandemi, ia tetap aktif menerima aspirasi masyarakat khususnya di daerah Lukluk, Badung.

“Koordinasi dengan anggota dewan lainnya tetap saya lakukan melalui perangkat digital yakni teknologi video conference. Sedangkan untuk komunikasi dengan masyarakat saya tetap siaga menerima aspirasi mereka lewat telpon genggam yang selalu aktif,” ujar Bendahara Taruna Merah Putih (sayap partai) DPC Badung tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa Kantor RARA (Rumah Aspirasi Rakyat) yang ia dirikan tetap membuka pelayanan pengaduan dari masyarakat. Tentunya menyesuaikan dengan protokol kesehatan yang ada. Di Kantor RARA HITA, masyarakat bisa menyampaikan berbagai permasalahan yang selama ini belum ada solusinya.

Perempuan asal Banjar Perang, Kelurahan Lukluk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung tersebut saat ini menjabat di Komisi IV ( kesejahteraan Sosial) di DPRD Kabupaten Badung. Komisi ini bertanggung jawab pada bidang ketenagakerjaan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi , Kepemudaan dan olahraga, agama, kebudayaan, sosial, kesehatan dan keluarga berencana, peranan wanita, transmigrasi, perpustakaan dan pemberdayaan masyarakat. Tentunya di kondisi pandemi, komisi mengemban tugas yang cukup berat lantaran ekonomi dan sosial masyarakat sangat terdampak.

“Saat ini kami di komisi IV terus berkordinasi dengan pemerintah mengenai upaya apa saja yang bisa dilakukan guna menanggulangi dampak pandemi terhadap ekonomi dan sosial di masyarakat. Salah satunya telah terealisasi melalui kebijakan pembagian bantuan kebutuhan hidup rakyat. Kami sebagai perwakilan masyarakat di pemerintahan bertugas mengawal kebijakan tersebut agar menjangkau tepat sasaran,” ujar Rara Hita.

Selain menjalankan tugas-tugasnya sebagai anggota dewan, Rara Hita juga berupaya berkontribusi meningkatkan pemahaman hidup sehat melalui kegiatan edukasi tentang gaya hidup bersih di masyarakat. Seperti yang sempat dilakukannya bersama Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Cabang Badung baru-baru ini. Dalam kegiatan Bakti sosial yang bertajuk “1000 Gerakan Penuh Sinergi untuk Energi”, ia dan para perempuan pengusaha lainnya membagian masker dan sabun cuci tangan gratis kepada masyarakat. Serta mensosialisasikan pentingnya mencuci tangan untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19 di masyarakat.

Corong Suara Rakyat

Di usianya yang kini menginjak angka 35 tahun, Rara Hita tergolong muda bagi seorang politisi yang diberi amanah besar oleh partainya. Srikandi yang diusung partai besar PDIP ini lolos dalam pencalonan pada Pemilu 2019 lalu sebagai anggota DPRD Badung dari Dapil Mengwi. Keterpilihannya sebagai anggota legislatif memunculkan harapan baru bagi warga Kelurahan Lukluk. Pasalnya, sudah agak lama daerah tersebut tidak memiliki wakil di legislatif.

Cerita perjuangan Rara Hita saat berupaya memperoleh suara untuk mendapat kursi di DPRD terbilang cukup unik. Hal itu lantaran pada saat yang sama ia harus berjuang bersama ayahnya yang juga maju dalam pencalonan. Hanya saja ia dan ayahnya berbeda wahana politik, Sang Ayah merupakan politisi dari Partai Hanura.

“Saya sempat merasa dilema. Namun ternyata keluarga sangat mendukung langkah yang saya ambil, termasuk pula dukungan dari suami,” ujar ibu satu anak ini.

Rara Hita menjelaskan setelah dirinya secara resmi bertugas sebagai legislator, ia tetap menjaga kedekatannya dengan masyarakat dengan rutin terjun ke tengah masyarakat. Ia mengatakan bahwa upayanya itu adalah salah satu cara menghilangkan apriori masyarakat tentang politisi yang selama ini dianggap hanya eksis pada saat kampanye pemilihan saja.

“Salah satu komitmen saya adalah terus menjaga komunikasi dengan masyarakat. Mereka yang memiliki aspirasi yang ingin disampaikan dapat menghubungi nomor telepon genggam saya yang tidak pernah berganti,” tegasnya.

Menurutnya fungsi seorang anggota legislatif layaknya sebuah corong pengeras suara. Ia berfungsi melantangkan suara-suara rakyat agar dapat didengar oleh para pengampu kebijakan. Namun Rara Hita mengaku dirinya tidak mau menjadi seorang politisi yang sarat janji. Sesuai dengan pesan ayahnya yang selalu ia ingat yaitu jangan pernah memberikan janji kepada masyarakat yang belum tentu akan terealisasi. Terpenting adalah tetap bekerja dengan tulus serta mengutamakan transparansi informasi kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!