Taman Prakerti Bhuana Hadir Dari Inspirasi Untuk Melayani Umat

Adanya anggapan bahwa kesuksesan dalam kompetisi hidup diukur dari seberapa banyak materi yang dimiliki, tidaklah sejalan dengan prinsip hidup seorang pemuka Agama Hindu bernama Ida Bagus Mangku Adi Supartha, S.Sos. Pria yang sejak kecil tergerak hatinya untuk melayani umat ini beranggapan bahwa kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika mampu menebarkan manfaat kepada orang lain. Salah satu sumbangsihnya dalam usaha membantu umat adalah dengan mewadahi kegiatan yadnya umat Hindu di pasraman miliknya yang berlokasi di Kelurahan Beng, Kecamatan Gianyar, bernama Taman Prakerti Bhuana.

Pasraman Taman Prakerti Bhuana dapat dikatakan sebagai solusi dari problematika yang dihadapi sebagian umat Hindu yang ada di Bali. Kegiatan upacara yang selama ini mewarnai setiap fase kehidupan krama Hindu Bali, biasanya memerlukan dana yang tak sedikit. Sedangkan tidak semua umat memiliki kemampuan material yang cukup untuk mengadakan upacara-upacara tersebut. Berdasarkan isu tersebut, Ida Bagus Mangku Adi Supartha, S.Sos tergerak untuk membangun pasraman yang tidak hanya menawarkan venue untuk melangsungkan upacara, juga menyediakan paket komplit berikut upakara dan hidangan untuk para tamu.

“Kami sudah membuka pelayanan untuk umat dalam hal pembuatan banten upakara sejak tahun 2011 lalu. Kemudian sejak tahun 2014, ada permintaan dari umat untuk menyediakan paket komplit, dari upakara sampai prosesi ritual,” ujar Gus Mangku Adi.

Pasraman ini kemudian melayani segala jenis ritual, mulai dari metatah, menek kelih, mebayuhsapuh leger, pawiwahan dan mewinten. Pawiwahan atau pernikahan menjadi salah satu jenis upacara yang kerap dilangsungkan di Taman Prakerti Bhuana. Adanya paket komplit pernikahan senilai Rp 15 juta menjadi daya tarik bagi krama Bali lantaran nilai tersebut dianggap sangat terjangkau bagi masyarakat. Umumnya pernikahan di Bali memang menghabiskan anggaran yang tak sedikit, terutama dalam hal pembuatan bebantenan atau upakaranya.

“Di tempat kami tersedia paket silver dengan nominal Rp 15 juta yang diperuntukkan kepada masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah. Sudah lengkap, mulai dari natab gede, dekorasi, hingga hidangan resepsi,” ungkap Gus Mangku Adi.

Meskipun Paket Pernikahan Silver dari Taman Prakerti Bhuana sangat ekonomis namun tetap disusun agar nyaman dan berkelas. Gus Mangku Adi menambahkan, untuk menikmati harga ekonomis paket silver, umat perlu menyertakan surat keterangan tidak mampu. Sedangkan bagi tidak memiliki surat tersebut maka dikenakan harga normal sebesar Rp. 20 juta.

Istri Gus Mangku Adi, Desak Hartini, menjelaskan bahwa layanan paket pernikahan dengan harga terjangkau tersebut murni didasari oleh keinginan untuk melayani umat. Memang dalam segi perhitungan biaya tersebut tidak memunculkan profit bagi pihak penyelenggara. Namun menurutnya, melalui kegiatan-kegiatan yang dilangsungkan tersebut setidaknya memicu perputaran ekonomi lokal, baik disebabkan oleh pembuatan banten upakara maupun dengan adanya penyerapan tenaga kerja di Pasraman Taman Prakerti Bhuana.

Demi mendukung kegiatan operasional usaha, pihak pengelola pun membuka kesempatan bagi kalangan umum lainnya untuk menyelenggarakan upacara pernikahan melalui ragam paket lainnya. Banyak kalangan yang akhirnya melirik tempat tersebut sebagai venue acara sehingga Taman Prakerti Bhuana kian populer di masyarakat. Bahkan tidak sedikit warga negara asing juga melangsungkan ritual di Taman Prakerti Bhuana, seperti dari Belanda, India, Pakistan dan sebagainya.

Adat dan Tradisi Jadi Identitas Krama Bali

Gus Mangku Adi merupakan keturunan dari wangsa Brahmana yang sejak kecilnya sudah sering terlibat dalam kegiatan pelayanan terhadap umat atau ngayah. Sejak duduk di bangku kelas 5 SD ia sering ikut menemani Sang Kakek yang merupakan Ida Pedanda yang dihormati umat, untuk ngayah di masyarakat. Seiring bertumbuh dewasa, motivasi untuk berkontribusi membantu umat dalam melaksanakan kegiatan upacara semakin bergelora. Bahkan jika harus memilih antara melaksanakan ngayah atau mengikuti jadwal perkuliahan, ia pun mantap memilih absen di kampusnya. Namun ia tetap bertanggung jawab terhadap pilihan yang ia ambil sehingga pada tahun 1994 ia berhasil menyandang gelar sarjana.

Setelah terjun ke dunia karier sebagai PNS dan berumah tangga, tetap tidak menyurutkan Gus Mangku Adi untuk menjalankan pilihan hidup sebagai pemuka agama. Pada suatu titik, ia bertekad untuk melayani krama secara totalitas yang diikuti oleh keputusan untuk pensiun dini sebagai abdi negara. Keinginannya saat ini adalah agar dapat menebarkan manfaat seluas-luasnya. Tidak hanya untuk umat Hindu saja tapi semua golongan yang ada di Pulau Dewata.

Di masa pandemi Covid-19 pun Gus Mangku Adi tetap berusaha agar dapat menjaga keberlangsungan kesejahteraan para karyawannya. Ia memutuskan tidak merumahkan karyawan di tengah kebijakan pelarangan untuk melaksanakan upacara yang berpotensi memunculkan kerumunan. Syukurnya pada era new normal, Taman Prakerti Bhuana kembali dibuka dengan mengantongi sertifikat kelayakan usaha yang sudah memenuhi protokol kesehatan.

Dirinya juga ikut berperan dalam mengurangi dampak pandemi dari sisi spiritual yaitu dengan menggagas kegiatan Upakara Homa Pangenduh Jagat yang digelar di Lingga Ida Bhatara Agni Ciwa Bhoda Homa Yadnya, Taman Prakerti Bhuana (TPB), Kelurahan Beng, Kecamatan Gianyar pada 5 Juli lalu. Upakara ini digelar sebagai partisipasi menghadapi masa pandemi Corona Covid-19 dan menyomyakan gering agung (menetralkan wabah penyakit), khususnya di Bali.

Gus Mangku Adi sebagai salah satu tokoh spiritual berpesan kepada generasi muda di Bali untuk tetap melestarikan adat dan tradisi yang sudah diwariskan oleh para leluhur. Terutama di tengah gempuran budaya asing yang masuk ke Bali. Menurutnya adat dan tradisi Bali yang bersumber dari kearifan lokal merupakan identitas masyarakat Bali yang jika hilang maka Bali pun tidak akan memiliki daya tariknya lagi. Salah satu lembaga adat yaitu banjar pun harus dioptimalkan karena menurutnya banjar adalah laboratorium budaya sekaligus benteng yang menjaga eksistensi budaya di Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!