Setia di bidangnya dan Sukses Beradaptasi dengan Perkembangan Zaman

Lahir di Tabanan, di mana masyarakatnya sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, sama halnya dengan orangtua Ir. I Wayan Suwindra, M.Ag. Ia pun sebagai anak pertama dari enam bersaudara ini, berusaha semaksimal mungkin membantu orangtua sebagai petani yang sangat sederhana. Pada pukul 03.00 pagi ia berangkat ke sawah terlebih dahulu, setelah itu barulah berangkat menunaikan pendidikan ke sekolah dengan berbekalkan nasi yang hanya berisikan sambal bawang mentah dan garam.

Kehidupan petani yang telah memiliki tiga lumbung padi, sudah dapat dikatakan petani yang kaya pada masa itu, namun sayang nasib orangtua Wayan Suwindra belum sampai di titik tersebut. Hal ini yang mendorong upaya orangtua Wayan Suwindra untuk terus melanjutkan pendidikan 6 orang putra-putranya. Terutama Wayan Suwindra sebagai kakak tertua, meski harus menempuh jarak 6 km menuju sekolah, tak mematahkan semangatnya untuk memperoleh pendidikan.

Setiba di sekolah, setelah membantu orangtua di sawah, tak jarang banyak yang mengira ia belum membasuh tubuhnya sebelum berangkat, karena bekas lumpur sawah yang mengering di tubuhnya. Mendengar cemoohan seperti itu, sudah menjadi makanan sehari-hari Wayan Suwindra. Baginya lebih baik ia memanfaatkan surat keterangan miskin untuk bersekolah, demi mewujudkan cita-citanya yang kala itu ingin menjadi tentara.

Cita-cita tersebut muncul dipikirannya berawal saat ia pergi ke Denpasar, saat itu ia melihat tentara yang sangat gagah, melaksanakan tugasnya dengan mengenakan seragam. Pemandangan ini sangat menarik perhatiannya, hingga saat ia duduk di bangku kelas II ST (Setingkat SMP), ia sangat bersemangat mendapat kesempatan bekerja di perumahan tentara Swakarya sebagai waker gudang alat kerja. Tidak hanya untuk membantu meringankan beban orangtua, sekaligus ia dapat menyaksikan lebih dekat aktivitas profesi impiannya tersebut, yang berlokasi di sebelah timur supermarket Tiara Dewata.

Setelah tamat ST, Wayan Suwindra memutuskan melanjutkan ke STM, dan ia kembali harus sembari bekerja untuk melanjutkan sekolah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari tukang campur adukan spesi, hingga staf serabutan, seperti sebagai pengantar surat, fotocopy, tukang cetak gambar konstruksi di sebuah perusahaan Jasa Konstruksi Golongan Besar, ia lakoni. Tidak semata-mata hanya demi mendapatkan uang, namun sebuah ilmu dan pengalaman, yang tak mengenal batas waktu, akan selalu bermanfaat khususnya bagi anak muda sepertinya.

Singkat cerita, melihat keuletan Wayan Suiwndra dalam bekerja dan pengaplikasian bekal ilmu di sekolah, ia kemudian dipercayai untuk memegang beberapa posisi, meliputi perencanaan, kepala pelaksanaan, hingga diangkat sebagai direktur muda (Kabid Perencanaan dan Pemasaran). Posisi yang semakin membutuhkan tanggung jawab yang besar, membuat Wayan Suwindra kemudian melanjutkan ke pendidikan ke jenjang S1. Ia sempat mengikuti perkuliahan di Bali Dwipa, namun saat di tingkat II, ada peraturan baru yang tidak memperbolehkan mahasiswa kuliah sambil bekerja. Ia pun akhirnya terpaksa mundur dari kampus tersebut, sebelum memperoleh gelarnya.

Pria kelahiran 31 Desember 1953 ini, kemudian mendaftar kuliah kembali, di fakultas teknik, Universitas Warmadewa. Setelah memenuhi persyaratan, ia akhirnya dapat melanjutkan kuliah, tentu sambil bekerja yang semakin mematangkan pengalamannya dalam pelaksanaan tugas dengan menjelajahi beberapa wilayah di Indonesia seiring dengan posisi terakhir yang dipegang, yakni Kepala Cabang.

Pada tahun 2006 dengan berjiwa besar, Wayan Suwindra akhirnya memutuskan untuk melepas kariernya yang telah ia rintis dari nol, hal ini dilakukan karena ia ingin memberi kesempatan bagi yang muda-muda untuk memiliki peluang yang sama sepertinya dahulu dan mencapai prestasi di perusahaan. Lagipula, usianya pun sudah tidak muda lagi, hal yang lebih baik ia pikirkan mulai saat itu ialah membangun investasi masa depan dengan jalan membuka usaha secara mandiri. Ia kemudian mendirikan perusahaan kontraktor yang ia beri nama “PT Suka Karya Utama” yang berlokasi di Jl. Pendidikan No. 40A, Sidakarya, Denpasar Selatan.

Sebagai orang konstruksi atau pimpinan proyek yang telah menekuni bidang ini sejak tahun 1974, bagi Wayan Suwindra harus berpegang pada sebuah prinsip dalam bekerja, yakni bersikap optimisme, kemudian berkomitmen, konsisten dan kompeten, baik meliputi sumber daya manusia dan alam, alat penunjang, maupun pelaksanakan pekerjaan. Dengan berpegang pada prinsip tersebut, akan menghasilkan pekerjaan yang tepat mutu, tepat waktu, tepat guna (fungsi) serta efektif efisien. Hal ini terbukti, ia masih setia di bidangnya, begitu pula pada perusahaan yang ia syukuri masih berjalan hingga saat ini dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!